
"Semua wanita biasanya bersikap seperti itu hanya karena dua alasan, datang bulan atau hamil?"
"Hah? Hamil?" Micheal memekik sambil berdiri dari kursinya.
Jika datang, tidak mungkin karena Zenwa sholat. Jika hamil? Mungkinkah?
"Kok malah diam?" tanya Daddy Gabriel kemudian.
"Memangnya dulu saat Mommy hamil, Mommy begitu, Dad?" Tanya Micheal.
"Mommy yang mana?" Micheal mendelik karena ayahnya itu justru balik bertanya.
"Ya dua-duanya lah, Dad," jawab Micheal sedikit kesal.
"Kalau Mom Angel, Daddy tidak tahu karena Daddy tidak bersamanya saat dia hamil. Kalau Mom Firda, sepertinya tidak. Karena saat mengandung Jibril, kami sedang terlibat masalah besar. Jadi dia tidak sempat untuk sensi, emosi apalagi posesif." Micheal mengangguk-anggukan kepalanya mendengar apa yang di katakan ayahnya itu.
"Terus, pas Mom Firda mengandung Aira, bagaimana?"
.........
Di sisi lain, Daddy Gabriel saat ini sedang memperhatikan wajah istrinya yang masih tertidur pulas, ia merapikan rambut sang istri yang berantakan karena ulahnya semalam.
Sambil menunggu istrinya bangun, Daddy Gabriel menghubungi Micheal untuk memberi tahu kalau dia sudah menemukan Dokter yang bagus untuk Zenwa, untuk menghilangkan bekas luka di perut Zenwa. Dan tentu juga untuk mengingatkan dengan jadwal mereka minggu depan.
"Dulu, saat Mom Firda mengandung Aira..." Daddy Gabriel memutar ingatannya pada masa lalu, masa saat sang istri mengandung dalam keadaan yang damai.
__ADS_1
"Dia biasa saja, tidak aneh-aneh, kan Daddy suami yang baik, jadi Mom tidak pernah emosi, marah, sensi apalagi posesif berlebihan karena Daddy selalu menunjukkan bahwa Mom adalah ratu Daddy, pemilik hati dan jiwa Daddy." Daddy Gabriel berkata sepenuh hati, memang seperti itu lah yang selalu ia berikan pada sang istri.
" Jadi, maksud Daddy, aku kurang menjadi suami yang baik? "
"Bisa jadi."
"Karena itu lah Zenwa jadi sensi dan emosion sama aku?"
"Ya bisa jadi begitu...."
"Nasehatmu gitu amat, Bang Gabriel," sambung Mom Firda tiba-tiba yang entah sejak kapan sudah membuka mata, ia menyambar ponsel suaminya itu kemudian ia berbicara dengan Micheal.
"Sebaiknya kamu bawa Zenwa ke Dokter kandungan, periksakan keadaannya, dan kamu ngalah aja sama dia. Wanita itu kalau kesal, jangan di lawan, makin kesal. Jangan coba di nasehati juga, yang ada di nasehati kamu balik. Nanti kamu ngomong baru satu lembar dia akan balas dengan satu buku."
"Semoga saja."
.........
"Mau kemana, Pak?" Tanya Akbar karena Micheal berlari keluar dari ruangannya padahal baru beberapa menit yang lalu dia sampai kesana.
"Mau pulang, sepertinya istriku hamil," jawab Micheal terburu-buru.
"Pulang? Tapi...."
"Cancel semua jadwal hari ini ya! Dan jangan ganggu aku karena aku mau memeriksa bayiku apa sudah ada dalam perut Zenwa atau tidak!" Micheal berteriak sambil berjalan yang membuat beberapa orang disana tercengang, mereka tampak bingung, saling menatap dan kemudian mereka tersenyum dan meraka saling berbicara satu sama lain.
__ADS_1
"Apa bu Zenwa hamil?"
"Sepertinya bu Zenwa memang hamil."
"Pak Micheal terlihat bahagia sekali."
"Aku dengar mereka merencanakan bulan madu, tapi bu Zenwa justru sudah hamil?"
.........
Sementara di rumah, Zenwa hanya uring-uringan sejak tadi, ia merasa pusing, mual, lemas. Dia juga ingin makan sesuatu tapi tidak tahu harus makan karena Zenwa merasa mual saat mengingat makanan.
Sejak tadi Zenwa hanya tiduran di ranjangnya dan saat ia mendengar suara klakson mobil suaminya, Zenwa langsung berlari turun dari kamarnya.
"Kenapa sudah pulang?" tanya Zenwa yang melihat Micheal juga berlari ke arahnya.
"Kita ke Dokter, yuk! Sepertinya misi kita berhasil." Micheal berkata dengan sangat antusias namun justru itu membuat Zenwa bingung.
"Misi apa? Dan kenapa kita harus ke Dokter?"
"Misi buat bayi dong."
"Uh?"
Tbc....
__ADS_1