
"Katanya kamu ada urusan penting setelah ini, kenapa kita kesini?" tanya Zenwa karena Micheal membawanya ke sebuah restaurant.
"Kita di undang makan malam sama Daddy dan Mommy," jawab Micheal. Ia menggandeng tangan Zenwa, membawanya ke sebuah ruang VIP dimana sudah ada Mommy Angeline dan Daddy Aryan yang menunggu disana.
"Assalamualaikum, Dad, Mom!" Sapa Zenwa dengan senyum ramah yang mengembang di bibirnya. Ibu mertuanya itu pun langsung menyambut Zenwa dengan peluk hangat. "Apa kabar, Mom? Dad?" Tanya Zenwa.
"Kami sangat baik, Zenwa. Kamu sendiri bagaimana?" Gumam Mommy Angeline sembari melerai pelukannya.
"Aku juga sangat baik, terima kasih," jawab Zenwa. Sementara Micheal, tanpa basa-basi ia langsung duduk di sofa, ia mengambil gelas yang berisi jus dan Micheal langsung meminumnya namun baru satu teguk, ia langsung memuntahkannya kembali.
"Ihh, ini alpukat?" Tanya Micheal sembari mendorong gelas itu menjauh.
"Iya," jawab daddy Aryan sambil tertawa geli, apalagi saat melihat raut wajah Micheal yang meringis.
"Ih, siapa yang pesan ini?" Tanyanya tampak kesal.
"Daddy, kan itu kesukaan Daddy," jawab Daddy Aryan.
"Astagfirullah, Daddy. Jus rasanya aneh seperti itu bagaimana bisa jadi minuma favorit? Ih..."
"Memangnya aneh kenapa? Rasanya enak kok, aku suka alpukat," sambung Zenwa.
"Dia memang tidak suka jus alpukat sejak kecil, Zenwa," sambung Mommy Angeline sambil terkekeh.
__ADS_1
"Oh ya, kalian sudah pesan makanan?" Tanya Micheal kemudian. "Aku sudah lapar." lanjutnya.
"Sudah, ayam bakar madu, Zenwa pasti suka," jawab Mommy Angeline. "Oh ya, katanya kamu mengajar TK, Zenwa. Apa itu benar?"
"Iya, Mom. Besok Zenwa sudah mulai mengajar," jawab Zenwa sembari melirik Micheal yang kini sibuk dengan ponselnya.
"Micheal, letakan ponselmu!" Titah Mommy Angeline karena sejak tadi ia menyadari Zenwa terus melirik ke arah Micheal.
"Sebentar, Mom..."
"Micheal, Mom rasa ini waktunya bersama keluarga!" Tegas Mommy Angeline yang membuat Micheal mendengus kesal, ia pun meletakkan ponselnya di meja. Tak lama kemudian makanan yang di pesan Mommy Angeline pun datang.
Mereka makan siang sembari membicarakan berbagai hal, namun sesekali Micheal terus melirik ponselnya, seolah menunggu pesan dari seseorang.
.........
"Maksudnya?" Tanya Micheal.
"Sejak tadi, kamu terus melirik ponsel, seolah kamu sedang menunggu seseorang," kata Zenwa sambil merengut.
"Hem, istriku mulai cemburu rupanya," goda Micheal.
"Ya bukan begitu, cuma tumben saja. Bahkan, tadi kita makan sama keluarga lho, tapi kamu tetap melirik ponsel terus," ujar Zenwa dengan sewot.
__ADS_1
"Tenang saja, aku bukannya menunggu pesan selingkuhanku, karena aku tidak punya selingkuhan. Aku sedang mengurus bisnis," jawab Micheal.
"Apa tidak bisa di tunda?" Tanya Zenwa lagi.
"Tidak bisa, Sayang. Ini penting, untuk masa depan kita," jawab Micheal.
"Aku heran, kenapa akhir-akhir ini kamu sering memanggil ku sayang?" cicit Zenwa yang membuat Micheal terkekeh.
"Dari pada aku memanggil sayang orang lain? Kan lebih baik memanggil sayang ke istri sendiri," ucapnya. Kini Micheal berhenti di lampu merah, dan ia melihat seorang anak kecil penjual bunga, Micheal mengingat anak itu yang pernah ia borong bunganya.
Micheal pun memanggil anak itu. "Mau beli bunga?" tanya Zenwa dan Micheal hanya menggumam.
"Eh, Om..." seru anak itu yang juga tampak terkejut saat melihat Micheal.
"Bunganya tinggal sedikit ya, Dek?" Tanya Micheal basa-basi.
"Iya, Om. Alhamdulillah hari ini laku, Om mau beli bunga?" Tanyanya dan Micheal mengangguk. "Buat istrinya ya, Om? Memang istrinya ngambek lagi?" Tanya anak itu lagi tanpa menyadari keberadaan Zenwa di mobil.
Zenwa melongo dan ia menatap Micheal, sementara Micheal hanya cengengesan.
"Beli semua ya, Dek..."
"Baik, Om. Semoga istrinya Om tidak ngambek lagi, jangan lupa peluk dan cium kalau ngambek ya, Om." Zenwa menganga lebar saat mendengar ocehan anak kecil itu. Sementara Micheal kembali hanya cengengesan, ia pun membuka kaca mobilnya lebih lebar.
__ADS_1
"Tuh, orangnya disini..." kata Micheal yang membuat anak itu tampak terkejut namun kemudian ia tersenyum manis.
"Jangan ngambek lagi ya, Tante. Kasihan Om nya..."