Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 31


__ADS_3

"Kamu harus makan daging yang banyak, biar kamu tumbuh dengan baik."


Zenwa langsung menganga mendengar ucapan Micheal yang lagi-lagi menurutnya sangat absurd, ia menatap suaminya itu dengan bingung.


"Masa pertumbuhanku sudah selesai, apa menurutmu aku masih perlu tumbuh lagi?" tanyanya dengan tenang namun sorot matanya menyiratkan kekesalan.


"Tentu saja, lihat badanmu, masih kecil, pendek." Zenwa tentu semakin kesal mendengar apa yang di katakan Micheal dengan entengnya, tentu saja ia tersinggung di katakan kecil dan pendek, namun Zenwa masih berusaha bersikap tenang.


Tanpa menanggapi ucapan Micheal, Zenwa pun melanjutkan makan malamnya dalam diam dan lebih cepat, ia juga menghabiskan dua potong ayam di piringnya namun Zenwa memisahkan kulit ayam itu ke pinggir piringnya.


"Kenapa di pisah?" tanya Micheal yang membuat Zenwa mendelik, merasa Micheal sangat cerewet.


"Aku tidak suka kulit ayam," jawab Zenwa malas.


"Padahal enak, gurih, coba deh." Micheal mengambil kulit ayam itu dan hendak menyuapkannya ke mulut Zenwa namun secara spontan Zenwa menepis tangan Micheal dengan kasar, membuat Micheal terkesiap dan orang tua Zenwa pun terkejut melihat apa yang Zenwa lakukan, begitu juga dengan Zenwa, ia menatap Micheal dengan sendu dan rasa bersalah menggelitik hatinya, sungguh ia tak sengaja melakukan itu.


Sesaat suasana menjadi canggung, namun kemudian Micheal tersenyum dan memakan kulit ayam itu.

__ADS_1


"Bagus sih kalau kamu tidak suka kulit ayam" ucapnya kemudian sambil mengunyah "Karena ini lemak, nanti kamu gendut." lanjutnya yang membuat Zenwa langsung melongo, sementara orang tua Zenwa justru tertawa geli. Zenwa menatap tajam Micheal sembari menggigit sisa ayamnya dengan kasar, ia mengunyahnya dengan cepat karena Zenwa tak sabar ingin segera pergi dari sisi suaminya itu.


"Loh, sudah?" tanya Micheal saat Zenwa beranjak dari kursinya.


"Hem," jawab Zenwa malas.


"Porsi makanmu sedikit ya, pantas saja badanmu kurus," ujar Micheal yang membuat Zenwa menggeram tertahan.


"Ini namanya proporsional, bukan kurus!" tegas Zenwa kemudian ia menuju wastefel, mencuci tangannya kemudian ia mencuci piring.


"Oh ya, Micheal. Kapan kamu akan ke Jakarta?" tanya Oma kemudian.


"Terus? Bagaimana hubunganmu dan Zenwa? Apa kalian masih belum tinggal satu kamar?" tanya Opa yang penasaran.


"Benar, sebaiknya perbaiki hubungan kalian secepatnya, kami ingin cicit."


Micheal sudah membuka mulut hendak menjawab pertanyaan itu namun tiba-tiba terdengar suara piring yang jatuh, membuat mereka terkejut.

__ADS_1


Zenwa tak senagaja menjatuhkan piring yang baru ia cuci, bahkan ia pun sangat terkejut dengan hal itu.


Sementara di meja makan, meraka semua saling menatap "Sepertinya Zenwa masih marah, Micheal."Ummi Zainab berkata setengah berisik.


"Iya, bisa jadi itu pertanda," sambung Abi Hamka yang juga setengah berbisik.


"Apa Zenwa akan memecahkan piring saat dia marah atau tidak menyukai sesuatu?" tanya Micheal penasaran.


"Iya dan tidak," jawab Oma yang membuat Micheal langsung mengerutkan dahinya.


"Iya dan tidak? Maksudnya?" tanyanya bingung.


"Waktu kecil, Zenwa akan mengamuk jika keinginannya tidak di penuhi, dia bisa melempar apa saja yang ada di depannya." Opa menjawab kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Lebih tepatnya, saat Zenwa berusia 1 sampai 6 tahunan," sambung Ummi Zainab.


"Benar, setelah dewasa tidak lagi. Dia anak yang baik dan patuh." Abi Hamka menimpali ucapan istrinya itu, sementara Micheal hanya bisa tercengang. Apalagi mengingat bagaimana Zenwa bersikap selama ini, sangat anggun.

__ADS_1


Sementara itu, Zenwa membersihkan pecahan piring itu dengan hati-hati, setelah memastikan dapurnya aman, ia pun bergegas ke kamarnya tanpa berbicara sedikitpun dengan keluarganya yang masih ada di meja makan, membuat meraka semakin yakin bahwa Zenwa sedang marah.


Tbc...


__ADS_2