
Sadarnya Zenwa tentu sebuah kebahagiaan yang sangat luar biasa, mereka benar-benar sangat bersyukur akan hal itu. Dan sejak Zenwa sadar, Micheal terus duduk di samping sang istri, enggan beranjak sedikitpun bahkan saat semua orang sudah terlelap karena hari sudah malam. Micheal hanya terus memandangi Zenwa yang kembali tertidur setelah di berikan obat oleh suster.
Yang berjaga di rumah sakit hanya daddy Gabriel, Abi Hamka dan dan Micheal. Sedangkan yang lainnya di suruh pulang oleh Daddy Gabriel karena mereka pasti juga butuh istirahat dengan tenang.
Saat tengah malam, Zenwa terbangun dan ia tersenyum pada suaminya yang masih berada dalam posisi sejak ia belum tidur.
"Kenapa kamu tidak tidur, hm?" tanya Zenwa dengan suaranya yang masih terdengar sangat lemah.
"Aku takut," kata Micheal dengan suara yang bergetar, bahkan tatapannya begitu sayu.
"Takut kenapa? Apa karena dady memasukan mu ke penjara?" Zenwa bertanya dengan kening yang berkerut, Micheal menggeleng sambil mengusap pipi sang istri.
"Aku takut kamu pingsan lagi dan butuh beberapa hari untuk bangun, aku benar-benar takut...." hati Zenwa terenyuh mendengar apa yang di ucapkan suaminya itu, ia begitu terharu.
"Aku sudah bangun," ujar Zenwa sembari melempar senyum yang manis. "Aku juga tidak akan pingsan lagi kecuali orang itu kembali dan menusuk ku lagi...."
"Tidak akan," sela Micheal dengan cepat. "Aku tidak akan membiarkan orang itu melukaimu lagi, tidak akan pernah!" tegasnya, Micheal mengangguk percaya, ia menumpukan tangannya di atas tangan Micheal yang terus menggenggam tangannya sejak tadi.
"Kamu tahu...." Zenwa menatap mata suaminya itu dengan intents. "Aku mimpi'in kak Arin," ujarnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya? dia apa kabar? apakah kamu melihat dia bahagia di mimpimu?" tanya Micheal dan Zenwa mengangguk.
"Dia terlihat bahagia kok, dan Kak Arin bilang tempat tinggal dia nyaman, dia betah." Micheal tersenyum mendengar penuturan istrinya itu.
"baiklah, sekarang kamu tidur lagi, ya? ingat kata Dokter, kamu harus banyak istirahat." Zenwa tersenyum dan mengangguk pelan.
"Kamu juga, ini sudah malam, aku tidak mau kamu sakit."
Mendengar ucapan istrinya, Micheal langsung meletakkan kepalanya di sisi kepala Zenwa. "Baiklah, kita tidur bersama."
...
Javeed mendorong kursi-roda ibunya dan Aira yang melihat wanita itu tentu langsung mengenali bahwa ia adalah wanita yang pernah ia tolong beberapa tahun yang lalu.
Javeed yang melihat Aira dan Jibril pun juga terkejut, ia berusaha berpura-pura tak melihat Aira namun entah kenapa, Aira seperti memiliki sihir yang membuat Javeed yang tak bisa mengalihkan mata darinya.
Jibril juga melihat Javeed yang kini semakin mendekat ke arah mereka, dan Jibril tahu Javeed menatap Aira.
"Tundukan wajahmu!" Perintah Jibril pada Aira sembari ia merangkul pundak adiknya itu. Aira pun langsung menunudukan wajahnya dan mereka semua saling melewati tanpa ada yang bersuara, seperti orang asing yang tak pernah mengenal dan tak pernah bertemu.
__ADS_1
...
"Aku benar-benar tidak suka pada pria itu, dia terus memandangi Aira," ujar Jibril saat mereka sudah sampai di kamar rawat Zenwa.
"Pria yang mana? Apa ada yang mengganggu Aira?" tanya Micheal dan tentu responnya sangat cepat dan tajam.
"Itu loh, Kak. Pria yang pernah menjual kuda dulu," jawab Aira dengan santai.
"Oh ya? kalian ketemu dia dimana?" Tanya Micheal lagi. Sementara Zenwa hanya menatap ketiga bersaudara itu bergantian.
"Tadi kita berpapasan, sepertinya ibunya sakit," jawab Jibril.
"Kasihan sekali, dari dulu ibunya sakit-sakitan," ujar Micheal. Aira yang mendengar itu hanya terdiam karena ia tahu, dulu ibu pria yang menjual kudanya itu tidak sakit.
"Tapi dia benar-benar tidak sopan kalau terus memandangi Aira," ujar Micheal lagi.
"Mungkin dia naksir Aira," sambung Zenwa.
"TIDAK!!!! Jawab Micheal dan Jibril bersamaan yang membuat Aira meringis.
__ADS_1