
Javeed berlari di jalanan karena takut tertangkap oleh polisi, bahkan ia menyebrang dengan sembarangan hingga membuat dia hampir tertabrak mobil yang lewat. Javeed yang terkejut akhirnya terjatuh ke aspal, dan ia meringis saat merasakan perih di sikunya.
"Sialan!" Geram Javeed kesal, ia langsung berdiri dan hendak memarahi si pengendara mobil namun lidahnya terasa kelu saat melihat sosok seorang gadis yang baru saja turun dari mobil.
"Astagfirullah, apa kamu tidak apa-apa?" Jangankan menjawab pertanyaan itu, Javeed bahkan seolah tak bisa berkedip apalagi gadis itu menatapnya dengan lembut.
"Maaf ya, tadi Paman tidak sengaja." lanjutnya sambil menoleh pada sopirnya yang juga keluar dari mobil.
"Aira! Masuk ke mobil!" Aira langsung menoleh mendengar suara berat kakaknya itu, begitu juga dengan Javeed dan ia sangat terkejut karena lagi-lagi bertemu dengan para manusia ini.
"Kak Jibril, dia terluka...." Aira memberi tahu kakaknya dengan lembut.
"Iya, dia terluka," sambung si sopir yang melihat lengan Javeed berdarah. Jibril pin juga memperhatikan lengan Javeed kemudian ia meminta Javeed masuk ke mobilnya.
"Masuklah! Kami akan mengobatimu!" Kata Jibril dengan tegas dan tatapannya pun sangat tajam, membuat Javeed merasa tidak nyaman.
"Tidak, terima kasih," ucap Javeed kemudian sambil melirik Aira.
"Tapi nanti lukamu infeksi," sambung Aira yang membuat Javeed tak mampu menolaknya.
__ADS_1
"Baiklah jika kalian memaksa," kata Javeed dengan senang hati.
Jibril meminta Javeed duduk di depan, sementara Aira dan Jibril duduk di belakang.
Selama dalam perjalanan, Javeed sering mencuri pandang pada Aira, sementara Aira bersandar di pundak sang kakak dan ia terlelap sejenak karena sejak tadi ia merasa begitu mengantuk.
Jibril tidak membawa Javeed ke rumah sakit, melainkan ia membawa Javeed ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Jibril tidak membangunkan Aira yang masih tertidur, ia menggendong adiknya itu dan hal itu membuat Javeed tersentuh, bahkan hal sepele seperti ini sudah memperlihatkan betapa Jibril menyayangi dan memanjakan Aira.
Aira?
Ah, Javeed baru tahu nama gadis ini. Sangat cantik, secantik tatapan matanya, fikir Javeed.
"Kami baru saja pulang dari rumah sakit dan tidak mungkin kami berputar arah kembali kesana apalagi adikku sedang tertidur, " jawab Jibril dan bersamaan dengan itu, pintu terbuka dan Bi Eni menyambut mereka dengan senyum hangat.
"Bi, tolong obati dia, ya. Aku mau mengantar Aira ke kamar," tukas Jibril pada pembantunya.
"Apa kau Dokter?" Tanya Javeed pada Bi Eni yang membuat Bi Eni terkekeh, sementara Jibril sudah pergi ke kamar Aira.
__ADS_1
"Bukan, tapi saya sudah biasa mengobati luka," jawab Bi Eni, ia membawa Javeed ke ruang tamu, mempersilahkan dia duduk di sofa kemudian Bi Eni pergi untuk mengambil peralatan yang ia butuhkan untuk mengobati luka Javeed.
Javeed celingukan, melirik setiap sudut rumah itu yang begitu besar, mewah, bak istana. "Dengan tuan putri yang tinggal di dalamnya." Javeed tersenyum saat mengingat Aira, dan sekarang ia mengerti kenapa dulu mereka bersedia membayar harga kuda yang sangat mahal. "Ternyata karena mereka orang kaya."
"Apa yang terjadi?" Tanya Bi Eni yang kini datang dengan membawa kotak p3k.
"Hanya kecelakaan kecil, salahku yang menyebrang tidak melihat jalan... Auuuhh" teriak Javeed saat Bi Sum membersihkan lukanya tanpa permisi.
"Kenapa kamu teriak hanya karena masalah ini? Masak kalah sama Non Aira," kata Bi Sum sambil terkekeh. "Dia pernah jatuh dari kuda, tidak bisa berjalan selama beberapa hari tapi dia tidak berteriak manja."
"Benarkah?" Tanya Javeed yang seolah sangat penasaran dengan cerita tentang Aira.
"Tentu saja," jawab Bi Eni yang kini mengoleskan obat ke luka Javeed, Javeed meringis saat merasakan perih di luka itu namun dia tidak menjerit lagi.
Tak lama kemudian Jibril datang dan ia sudah berganti dengan pakaian casual. "Bagaiamana keadaanmu? Apa perlu kita memanggil Dokter?" Tanya Jibril.
"Aku rasa tidak," jawab Javeed.
Tak berselang lama, terdengar suara klakson mobil. "Itu pasti Daddy, biar aku yang buka!"
__ADS_1
Tbc....