
Orang bilang, wanita akan menjadi ratu jika berada di tangan pria yang tepat. Dan Zenwa merasakan hal itu, sungguh sebuah anugerah baginya memiliki Micheal sebagai pria-nya. Yang tak hanya berperan sebagai suami, tapi juga sebagai teman dan sahabat.
Setelah seluruh keluarganya kembali ke desa, Micheal kembali dan Zenwa kembali menlanjutkan hidupnya seperti biasa. Dengan segala ke posesifan Micheal dan juga tingkah Zenwa yang semakin hari semakin manja.
Dan akhir-akhir ini, ia kembali di repotkan oleh sang ratu yang sering mengidam. Dari mengidam makanan khas desa nya, masakan neneknya, bahkan Zenwa juga mengidam jajanan pasar yang ada di pasar desa.
Micheal sungguh pusing, namun ia berusaha memenuhi semua keinginan istrinya itu. Dan ia harus sangat berterima kasih pada sang ayah yang turut berperan sangat penting dalam memenuhi semua keinginan Zenwa, dengan cara mengizinkannya memakai jet pribadinya.
Hari-hari yang Micheal dan Zenwa lewati penuh warna, apalagi semakin hari perut Zenwa semakin besar dan tentu berat badannya pun naik.
Zenwa masih melakukan semua aktivitasnya seperti dulu, namun Micheal meminta agar Zenwa mengurangi aktivitasnya tersebut agar ia tidak kelelahan. Zenwa patuh, karena ia tahu suaminya itu tidak bisa di debat dalam kondisi seperti ini.
Dan saat ini, Zenwa baru saja selesai mandi, ia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk sementara Micheal langsung membersihkan kamar mandi agar tidak licin. Hal itu sudah menjadi aktifitas rutin sang suami sejak Zenwa di nyatakan hamil, tak perduli berapa kali Zenwa melarangnya, namun Micheal tetap melakukannya dengan alasan demi keselamatan calon bayinya.
"Sayang, dua hari lagi aku harus pergi ke luar kota. Kamu mau ikut?" Tanya Micheal yang kini sedang mencuci tangan setelah membersihkan lantai kamar mandi.
"Aku di rumah saja, untuk apa juga aku ikut," kata Zenwa kemudian ia menjemur handuknya.
__ADS_1
"Ya buat nemenin aku, nanti aku kangen, dua hari loh," tukas Micheal yang membuat Zenwa terkekeh.
Semenjak menikah, keduanya memang tidak pernah berpisah dan selain itu, baru kali ini Micheal mau ke luar kota karena pekerjaan ini sangat penting untuk perusahaannya.
"Hanya dua hari, nanti aku telfon setiap jam," goda Zenwa sambil menyedipkan matanya yang membuat Micheal tertawa geli.
Ia pun langsung menggendong Zenwa ala bridal style, Zenwa memekik kaget dan ia langsung mengalungkan lengannya ke leher sang suami.
Micheal membawa Zenwa ke ranjang dan menidurkannya dengan perlahan disana, tatapan keduanya bertemu, bentuk dalam dan intens, membuat Zenwa merona.
"Ikutlah denganku, aku tidak tenang jika meninggalkanmu sendirian." lanjutnya.
"Ada Bi Eni disini, aku akan baik-baik saja. Kamu fokus saja pada pekerjaanmu," jawab Zenwa.
"Tapi kalau aku kangen sama kamu bagaimana? Aku sudah terbiasa memeluk kamu sebelum tidur, apa aku bisa tidur tanpa memelukmu nanti?" Zenwa memutar bola mata mendengar ucapan suaminya yang berlebihan itu.
"Hanya dua hari, Sayang." Zenwa mengusap pipi Micheal dengan lembut.
__ADS_1
"Terus, kalau malam ini mau jenguk si bayi, boleh nggak? Kata Dokter boleh," tukas Micheal seperti anak-anak yang menagih mainan.
Zenwa terkekeh, ia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 sore.
"Nanti malam ya, masih sore tuh." Micheal mengangguk girang mendengar apa yang di katakan suaminya itu.
"Entah kenapa sekarang aku selalu ingin bercinta denganmu, Sayang? Apalagi melihat perut kamu yang semakin besar begini, jadi semakin terlihat seksi." puji Micheal yang membuat Zenwa langsung merona. Karena memang benar, akhir-akhir ini Micheal sering sekali bersikap nakal padanya, seperti selalu bergairah pada Zenwa.
"Padahal aku semakin gendut," kata Zenwa malu.
"Tapi seksi, nanti jangan di kurusin lagi ya. Begini saja kamu benar-benar cantik."
"Hem, benarkah?"
"He'em, jadi ingin jenguk bayiku terus."
Tbc...
__ADS_1