
Raisa yang shock langsung jatuh pingsan di sofanya saat Gabriel dan para polisi memberi tahu alasan kedatangan mereka. Wanita itu begitu pucat, tangannya juga dingin, membuat mereka semua cemas. Daddy Gabriel berusaha menyadarkan Raisa, dan saat sadar, Raisa langsung menangis.
"Maaf, Raisa. Kami tidak bermaksud membebanimu, tapi putramu hampir saja merenggut nyawa menantuku," kata Daddy Gabriel dengan hati-hati, karena di lihat dari keadaan Raisa, wanita itu jelas sangat tidak sehat apalagi untuk menerima kabar buruk ini.
"Aku sudah berusaha menghentikannya, Gabriel. Demi Tuhan! Aku sudah menjelaskan bahwa semua itu hanya masa lalu," kata Raisa di tengah isak tangisnya.
"Aku mengerti itu," sambung Gio, karena ia pernah berada di posisi Javeed sekarang. Anak muda, dengan darah segar yang masih membara, pemikiran yang masih pendek, hanya bisa memiliki hasrat tanpa berfikir pada masa yang lebih panjang.
"Tapi bagaimana pun juga, Javeed harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, kami menyerahkan semuanya pada pihak kepolisian," sambung Daddy Gabriel. Tangis Raisa semakin menjadi, dan tiba-tiba ia menjatuhkan diri dan bersimpuh di depan Daddy Gabriel membuatnya terkejut dan ia langsung memaksa Raisa berdiri namun Raisa tak bergeming.
"Aku mohon, Gabriel...!" Raisa berkata di tengah isak tangisnya yang semakin menjadi. "Tolong! Jangan tangkap putraku, Gabriel. Aku mohon padamu, ampuni dia. Aku benar-benar memohon kepadamu, Gabriel!" Gabriel tidak tega mendengar permintaan Raisa itu, apalagi ia tampak sangat rapuh dan setahu Gabriel, Raisa sudah tidak punya siapapun selain Javeed.
Gabriel menatap Gio, seolah meminta pendapat pada pria itu. Namun dengan tegas Gio berkata. "Kami mengampuninya, Raisa! Tapi bukan berarti dia bisa lepas dari hukum di atas nama pengampunan, sangat penting bagi kita untuk menghukum Javeed supaya dia jera!"
__ADS_1
"Gio benar, Raisa. Putramu masih sangat muda, dia harus di beri pelajaran supaya dia tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Dia satu-satunya yang aku punya, Gabriel. Aku mohon...." Raisa bahkan hendak mencium kaki Gabriel berharap itu bisa membuat Gabriel mengampuni putranya, namun Gabriel langsung menjauhkan diri dari Raisa.
"Ya Tuhan, Raisa!" seru Gabriel tidak habis fikir. "Aku tahu dia putramu, satu-satunya yang kamu miliki tapi itu bukan berarti kamu bisa membela dia membabi buta seperti ini! Kalau kamu mau anak itu belajar, memperbaiki diri, terkadang kita harus menggunakan hukuman. Bukan karena kita tega, tapi karena kita sayang dan perduli! Apa kamu tahu? Aku juga memasukan putraku ke penjara karena dia melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, dan kesalahan yang kedua itu terjadi karena aku memaafkan kesalahan yang pertama begitu saja!"
Raisa hanya bisa tertunduk lemah, air mata terus mengalir deras di pipinya, namun hati kecilnya juga membenarkan apa yang di katakan Gabriel apalagi ia tahu karakter putranya itu.
"Kamu bisa mencarinya di rumah temannya atau di kandang kuda," jawab Raisa pasrah.
Namun tanpa mereka sadari, sejak tadi Javeed sudah pulang dan ia mengintip pembicaraan mereka, mendengar dirinya akan di tangkap, tentu saja Javeed tidak mau dan ia pun langsung melarikan diri dari sana.
Javeed pergi membawa mobilnya sementara Gabriel dan yang lainnya langsung mencari Javeed ke kandang kuda, namun pria itu tidak ada disana. Mereka melanjutkan pencarian ke rumah Eron namun juga tidak ada.
__ADS_1
"Dia pasti melarikan diri!" Geram Gabriel.
.........
Javeed yang tidak tahu harus bersembunyi dimana akhirnya datang ke rumah Arsyad, Arsyad dan Umminya pun menyambut Javeed dengan hangat bahkan mereka senang saat Javeed mengatakan ingin menginap disana.
Tbc....
Yang belom mampir pada kisah cinta bocah tengil dan Elsa, yok segera mampir. 😘
Kisah di jamin bikin gemes, hot juga, hehe
__ADS_1