
"Buku siapa itu?"Tanya Micheal yang sebenarnya hanya ingin tahu jawaban Zenwa. Zenwa terdiam sejenak, menatap buku itu sebelum ia menutup lacinya.
"Kak Arin," jawab Zenwa kemudian.
"Kenapa kamu membawanya?" Tanya Micheal lagi.
"Untuk mengobati rinduku jika aku merindukannya," jawab Zenwa lagi yang tentu saja membuat Micheal tak bisa lagi berkata-kata.
Zenwa pun bergegas ke kamar mandi untuk menggosok gigi, kemudian ia kembali keluar dan mengambil piyamanya.
Tak lama kemudian, Zenwa keluar dengan memakai piyaman namun ia masih menggunakan jilbabnya. Micheal yang melihat sedikit terkejut. "Tumben kamu memakai piyama," ujar Micheal.
"Sampai kapan aku tidur pakai gamis begitu," jawab Zenwa kemudian ia kembali mengambil buku Arini dari laci dan menyodorkannya ke Micheal yang tentu saja membuat Micheal bingung. "Aku tahu kamu pasti juga merindukannya, mungkin ini bisa sedikit mengurangi rasa rindumu," ucap Zenwa dengan suara yang sedikit tercekat. Micheal hanya menatap buku itu tanpa berani mengambilnya, hingga akhirnya Zenwa naik ke atas ranjang dan meletakkan buku Arini di pangkuan Micheal.
"Zenwa, aku rasa aku tidak memerlukannya," ucap Micheal.
__ADS_1
"Terkadang, semakin kita berusaha menghapus seserong dari ingatan dan hati kita, justru itu akan membuat kita semakin sulit melupakannya," tukas Zenwa yang membuat Micheal semakin bingung. "Waktu akan membuatmu terbiasa tanpanya dan terbiasa denganku." lanjutnya yang membuat Micheal langsung termangu, tak pernah menyangka kata itu akan keluar dari mulut Zenwa.
Zenwa menarik selimut menutupi setengah bagian tubuhnya, kemudian ia mengambil ponselnya dan memainkan game disana yang membuat Micheal tersenyum samar.
Sementara Zenwa sibuk dengan ponselnya, Micheal pun akhirnya mau membuka buku dairy itu dan membaca lembar demi lembar curahan hati Airin. Yang di setiap lembarnya, berisi tentang ungkapan cinta Arini untuk keluarganya, terutama untuk Zenwa. Kemudian tentang hobi Arini, cita-citanya, dan hanya ada satu lembar pengakuan cinta Arini untuk Micheal, yang membuat Micheal hanya bisa tersenyum samar.
Zenwa benar, dengan membaca buku dairy Arini ternyata mampu mengobati rasa rindu Micheal pada Arini, seolah Micheal kembali melihat Arini.
Tanpa terasa, hari sudah semakin malam dan tak ada satu lembarpun dari buku dairy Arini yang Micheal lewatkan.
"Pasti belum baca doa sebelum tidur," gumam Micheal sembari menarik selimut Zenwa lebih tinggi, ia mengambil ponsel Zenwa kemudian meletakkannya du atas begitu juga dengan buku Arini.
"Bagaiamana bisa kamu berbesar hati dengan perduli pada perasaanku, Zenwa? Arini benar, kamu wanita yang luar biasa dan kamu adalah anugerah untukku, jika saja wanita yang ku nikahi bukan kamu, mungkin akan berbeda ceritanya," ucapnya sembari memandangi Zenwa yang sudah tenggelam di alam mimpinya.
.........
__ADS_1
Micheal membenarkan apa yang di katakan Zenwa, ia akan terbiasa tanpa Arini kemudian ia akan terbiasa dengan Zenwa. Dan dari hal itu, Micheal kini tahu apa yang harus ia lakukan.
Pagi ini, seperti biasa Micheal bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Dan jika biasanya ia menyiapkan pakaiannya sendiri, pagi ini tidak.
"Zenwa...!" teriaknya selantang mungkin membuat Zenwa yang berada di dapur terkejut.
"Kenapa dia teriak-teriak?" Gumam Zenwa.
"Mungkin Tuan butuh bantuanmu, Nyonya. Sebaiknya datangi saja," ucap Bi Eni.
Zenwa pun bergegas ke kamarnya dan ia terkejut melihat Micheal yang hanya memakai handuk, tubuh serta rambutnya masih setengah basah.
"Ada apa?" Tanya Zenwa.
"Tolong ambilkan pakaian kerjaku!"
__ADS_1
Tbc...