
Daddy Gabriel menatap pria itu dengan tajam, darahnya mendidih, dadanya bergemuruh, apalagi saat pria itu justru melemparkan senyum miringnya.
"Aku ingin dia di hukum seumur hidup tanpa ada kesempatan di bebaskan!" Geram Daddy Gabriel.
"Kami pun menginginkan hal yang sama, karena itulah kami sedang mencari bukti yang kuat untuk menuntutnya dengan hukuman yang seberat-beratnya."
"Lalu, siapa yang menyuruh pria itu menyerang Zenwa?" tanya Daddy Gabriel kemudian.
"Dia sudah memberikan sketsanya...." polisi itu memberikan sketsa wajah seorang pemuda yang membuat Gabriel terkejut, keningnya langsung mengkerut dalam karena pria itu masih sangat muda.
"sulit di percaya, anak semuda ini sudah melakukan tindak kriminal, apa masalahnya?"
.........
"Aku tidak menangis," kata Micheal karena ia di olok-olok oleh Mommy Angeline dan juga ibu mertuanya. Mereka mengatakan Micheal menangis saat Zenwa di celakai, bahkan mereka mengatakan Micheal hampir gila.
"Aku juga tidak hampir gila, aku masih sangat waras," ucapnya kemudian.
"Tapi kamu melamun seperti orang gila, bahkan kamu tidak mau cuci tangan, tidak mau ganti baju, tidak mau pulang, tidak mau makan," tutur Mommynya panjang lebar yang membuat Micheal hanya bisa tersipu, karena itu memang faktanya.
"Kak Micheal cinta sekali ya sama kak Zenwa?" Tanya Aira sembari melirik kakak dan kakak iparnya itu bergantian.
Zenwa menatap Micheal penuh harap, ia sangat penasaran dengan jawaban suaminya itu, karena Zenwa pun juga sudah jatuh cinta, entah kapan dan kenapa. Apalagi mengingat masa lalu, dimana semuanya terasa begitu sulit bahkan Zenwa hampir menyerah atas pernikahannya.
__ADS_1
Sementara Micheal, ia justru tersipu atas pertanyaan adik bungsunya itu. Ia pernah jatuh cinta, tapi tak pernah menyatakan cinta pada perempuan.
"Kok malah diam?" Tanya Jibril.
"Aku...." Micheal menatap Zenwa dengan lembut. "Aku jatuh cinta pada istriku, aku sangat mencintainya." Micheal berkata dengan lirih, dalam namun begitu tulus dan jujur.
Itu ungkapan cinta yang begitu sederhana, simple, namun begitu menyentuh di hati Zenwa.
"Hem, semoga nanti Aira dapat suami yang seperti Kak Micheal ya, yang cinta sama Aira dengan tulus," kata Aira sambil tersenyum manis. Jibril pun ikut tersenyum dan ia mengusap kepala adiknya itu dengan gemas.
"In Shaa Allah," kata Jibril. "Kalau kamu ingin di cintai dengan tulus, maka kamu harus mencintai dengan tulus dan berperanlah sebagai seseorang yang patut di cintai dengan tulus." lanjutnya. Aira mengangguk mengerti, karena ini bukan pertama kalinya Jibril mengingatkan ia tentang hal seperti itu. Seperti menghormati orang lain jika ingin di hormati dan berperanlah sebagai orang yang pantas di hormati.
"Adikmu bijak sekali," kata Zenwa setengah berbisik pada suaminya itu.
"Jawaban apa?" Tanya Zenwa dengan polosnya.
"Cinta, tadi aku kan sudah menyatakan cinta, terus jawaban kamu apa?" Tanya Micheal lagi, kini ia yang menatap istrinya itu penuh harap, jantungnya bahkan berdetak lebih kencang hanya karena memikirkan Zenwa akan mengungkapkan cinta padannya.
Sementara Zenwa justru tersipu, ia ingin mengungkapkan cintanya, namun saat melirik orang-orang yang ada disana, Zenwa kembali menunduk malu.
"Sayang...." Micheal menangkup pipi Zenwa dan memaksa Zenwa mendongak hingga tatapan mereka bertemu. "Kamu sudah jatuh cinta 'kan sama aku? Atau belum?"
Mommy Angeline dan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Micheal, sangat tak romantis, fikir mereka. Sementara Zenwa justru mengangguk, tentu saja Micheal tidak puas dengan hal itu, ia ingin jawaban yang jelas.
__ADS_1
"Sudah jatuh cinta atau belum?" Tanyanya lagi.
"Sudah," jawab Zenwa yang membuat pupil mata Micheal melebar dan mulutnya pun terbuka lebar. Ia tampak shock dengan jawaban Zenwa. Sementara Ummi Zainab dan yang lainnya pun langsung tersenyum bahagia mendengar jawaban Zenwa, karena memang ini lah yang mereka harapkan.
"Coba jawab sekali lagi!" Pinta Micheal.
"Sudah."
"Sudah apa?"
"Sudah jatuh cinta."
"Sama siapa?"
"Ya sama kamu."
"Aku siapa?"
"Suamiku."
Michael langsung tertawa senang mendengar jawaban Zenwa dan ia pun langsung memeluk istrinya itu namun Zenwa justru menahan dada Micheal. "Perutku masih sakit," lirihnya.
"Aduh iya, maaf, aku terlalu senang," jawab Micheal malu dan semua orang pun hanya bisa tertawa.
__ADS_1