
Micheal saat ini sedang berada di kamar hotelnya setelah seharian bekerja dan menemui beberapa orang untuk membicarakan bisnisnya.
Micheal merasa ada yang kurang karena ia tak di sambut oleh Zenwa seperti biasa, padahal setiap kali ia pulang kerja, Zenwa selalu menyambutnya dengan senyuman, pelukan dan ciuman yang akan membuat rasa lelah Micheal langsung hilang.
"Seharusnya aku bawa saja istriku itu." Micheal menggerutu sendiri sembari melepaskan jasnya.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, Micheal langsung membukanya. "Ada apa, Akbar?" Tanya Micheal pada Akbar.
"Mau makan malam apa, Pak? Biar saya pesankan," kata Akbar.
"Entahlah, aku tidak selera makan," jawab Micheal lemas.
"Ada apa? Apa kau sakit, Pak?" Tanya Akbar cemas, karena sejak tadi siang Micheal belum makan apapun dan bosnya itu juga tampak bad mood.
"Iya, selera makanku hilang karena aku tidak melihat istriku seharian," kata Micheal yang membuat Akbar melongo kemudian ia terkekeh.
"Hanya dua hari, Pak. Lusa kita sudah pulang," kata Akbar.
"Dua hari itu seperti dua minggu, Akbar. Kamu tidak tahu karena kamu belum tahu rasanya punya istri, nanti kalau kamu sudah menikah, pisah sehari saja bisa seperti seabad." Akbar langsung tertawa mendengar ceramah Micheal dan ia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Micheal.
__ADS_1
"Aku tidak mau makan malam, kamu makan malam sendiri saja!"
"Tapi..." Micheal langsung menutup pintu kamarnya yang membuat Akbar terlonjak, dan ia hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan bosnya yang semakin hari semakin terlihat ketergantungannya pada sang istri.
Akbar pun pergi ke restaurant hotel, sedangkan Micheal kini menghubungi istrinya itu.
"Apa? kangen?" Terdengar suara lembut Zenwa dari seberang telfon.
"Iya, kangen," rengek Micheal seperti anak-anak yang meminta susu pada ibunya. "Aku bahkan tidak selera makan karena memikirkan kamu, Sayang."
.........
"Kamu sepertinya biasa saja meskipun berpisah dari aku, Zenwa. Kamu tidak sedih? Kok kamu masih bisa makan?"
"Sebenarnya aku juga tidak selera makan karena kangen sama kamu, Sayang," kata Zenwa sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dan mengunyahnya sambil tersenyum. "Tapi mau bagaimana lagi? Anakmu lapar, jadi aku harus makan." lanjutnya dan ia menambah nasi ke piringnya serta satu potong lagi paha ayam panggangnya.
"Oh, begitu ya? Baru sekarang aku merindukan orang sampai tidak selera makan," tukas Micheal.
"Aku juga baru sekarang tidak selera makan karena merindukan seseorang," kata Zenwa sambil menambah sambal ke piringnya kemudian melanjutkan makannya dengan sangat lahap.
__ADS_1
Bi Eni yang melihat itu hanya bisa tersenyum geli.
"Ya sudah, Sayang. Kamu makan saja yang banyak, kasihan anak kita."
"Kamu juga harus makan, biar tidak sakit. Ya? Nanti siapa yang jaga aku dan anak kita kalau kamu sakit?"
"Baiklah, Sayang. Aku akan makan, demi kalian."
Zenwa tersenyum sumringah mendengar apa yang di katakan suaminya itu, manja dan kekanak-kanakan memang terkadang menjadi salah satu sikap ajaib Micheal yang menambah warna tersendiri dalam hari-hari Zenwa.
...... ...
Akbar makan malam sendirian di restaurant hotel, ia memesan menu yang paling enak, mumpung di tanggung oleh bosnya. Dan tak lama kemudian Micheal datang, duduk di depan Akbar dan ia hanya memakai celana pendek serta kaos oblong.
Akbar tercengang, apalagi Micheal langsung mengambil makanannya dan memakannya dengan lahap, seperti orang kelaparan
"Katanya tidak selera makan, Pak?" Tanya Akbar.
"Tadi istriku sudah telfon, aku di suruh makan," jawab Micheal. Akbar hanya melongo. "Kamu kenapa diam saja? Pesan makanan lagi! aku benar-benar lapar."
__ADS_1
"Ba-baik, Pak."