
"Ya Rabb, apa yang harus aku lakukan? Aku bingung, hatiku bimbang, aku memohon petunjuk-Mu, Ya Hadi..." Zenwa memohon dengan lirih pada sang pemilik hati di sepertiga malamnya, ia sungguh butuh bimbingan saat ini. Dan kata-kata Micheal terus terngiang di telinganya, bagaimana dia meyakinkan Zenwa untuk bertahan dan memulai semuanya dari awal, hati kecil Zenwa membenarkan apa yang di ucapkan Micheal, apalagi ini juga tentang keluarga besar mereka. Dan Zenwa juga membenarkan, rasanya sangat tidak patut jika seseorang menjalankan pernikahan namun dengan tujuan untuk bercerai.
"Ya Rabb, kuatkan hatiku, ikhlaskan hatiku menjalani pernikahan ini, dan sungguh Engkau maha membolak-balikan hati. Aku memohon dengan sangat kepada-Mu, wahai dzat pemilik hati. Berikanlah hati suamiku untukku."
...... ...
"Ya Muqollibal Qulub, aku tidak tahu bagaimana menghapuskan cinta di hati ini yang masih tertuju pada Arini. Namun Engkau maha tahu, kini yang berhak atas cinta di hati ini hanyalah istriku, Zenwa ku."
Di atas sejadahnya, Micheal pun memohon kepada Rabb-nya di sepertiga malam, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mencurahkan segala keresahan dalam hatinya. Mengadu dengan lirih, jujur dan tulus.
"Aku telah menyakitinya, jangan biarkan aku menyakitinya lagi, sungguh dia wanita yang baik dan sholehah. Dan aku sangat beruntung memilikinya sebagai pasangan hidupku, aku tahu kisah ini tak seindah kisah cinta para pemuda di luar sana, namun aku yakin, Engkau akan selalu menuliskan kisah yang indah untuk kami suatu hari nanti."
...... ...
Keesokan harinya, Mommy Angeline dan Daddy Aryan menemui Micheal dan Zenwa di rumah Ummi Zainab, karena Mommy Angeline dan Daddy Aryan sudah harus kembali ke Jakarta.
Saat menemui Ibu mertuanya, Zenwa hanya bisa terus tertunduk, membuat Mommy Angeline merasa gemas sendiri.
"Zenwa..." Mommy Angeline yang tadinya duduk di sisi suaminya kini berpindah duduk di sisi Zenwa yang duduk berjarak dengan Micheal, Mommy Angeline duduk di antara keduanya.
__ADS_1
"Zenwa, kami sangat merestui pernikahanmu dan Micheal, kami sangat berharap kalian menjadi suami yang istri yang selalu bahagia," ucapnya kemudian ia memegang dagu Zenwa yang masih menduduk, membuat Zenwa mendongak dan kini ia menatap ibu mertuanya itu
"Kami tahu, ini mungkin sulit untuk kalian saat ini, tapi percayalah, kesulitan itu tidak akan abad, akan ada perubahan nanti. Dan kami menunggu kedatangan kalian secepatnya di Jakarta, Micheal juga punya banyak pekerjaan yang harus di lakukan disana." lanjutnya dan Zenwa hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kaku.
"Kami akan pulang beberapa hari lagi, Mom." sambung Micheal yang membuat Zenwa langsung melotot terkejut dan ia langsung menoleh pada Micheal, menatap Micheal penuh tanda tanya.
"Kenapa kamu terlihat terkejut?" tanya Micheal dengan santai nya.
"Benar, Zenwa. Kenapa kamu terkejut? Bukannya kalian sudah memutuskan akan tinggal di Jakarta setelah menikah?" sambung Ummi Zainab yang membuat Zenwa tak bisa memprotes karena sebelum menikah, mereka memang sudah sepakat akan tinggal di Jakarta.
"Pekerjaanku juga disana, Zenwa. Sementara di desa ini aku tidak punya pekerjaan, aku hanya numpang di rumah Mommy Firda, jika aku tidak bekerja, bagaimana aku bisa menafkahimu?" Zenwa menganga kemudian meringis mendengar ucapan Micheal yang menurutnya sangat dramatis, apalagi ia tidak pernah menolak atau mempertanyakan kenapa harus di tinggal di Jakarta karena ia tahu, sebagai istri ia harus mengikuti kemana suaminya pergi.
"Kalau nafkah batin sih gampang, setiap malam juga bisa." lanjutnya yang membuat Zenwa kembali melotot terkejut dengan ekspresi bingung yang membuat Micheal tertawa secara spontan. Mommy Angeline pun langsung memelototi suami dan putranya itu. Apalagi ia yakin, Zenwa dan Micheal pasti belum melakukan hubungan suami istri mengingat situasinya.
"Sudah, Zenwa. Jangan dengarkan mereka," ujar Mommy Angeline, sementara Ummi Zainab hanya bisa menahan senyum, ikut merasa gemas dengan raut wajah Zenwa.
Setelah berbincang-bincang dengan besannya, orang tua Micheal pun pamit.
"Kenapa harus buru-buru, Mom? Penerbangannya 'kan menunggu kalian," ucap Micheal sembari mengantar orang tuanya ke depan.
__ADS_1
"Mommy masih ada pekerjaan penting nanti sore, jadi Mommy harus sudah ada di Jakarta siang ini," jawab Mommy Angeline sembari memeluk putranya itu.
"Kenapa Mommy selalu mengejar pekerjaan? Mommy 'kan bosnya, punya karyawan banyak, suruh mereka saja."
"Anak ini, kapan berubahnya," gumam Mommy Angeline sembari menepuk pipi Micheal yang membuat Micheal hanya cengengesan.
''Kami menunggumu di sana, Zenwa. Secepatnya," ucap Mommy Angeline sambil tersenyum dan ia pun memeluk menantunya itu.
"In Shaa Allah, Tante," jawab Zenwa.
"Kenapa memanggilku' tante'? Aku mertuamu, Sayang. Ibumu juga, jadi panggil saja Mommy!" Zenwa tersenyum malu-malu sambil mengangguk.
Setelah orangtuanya pergi, tiba-tiba Micheal merangkul Zenwa yang tentu saja membuat Zenwa terkesiap dan secara spontan langsung mendorong Micheal menjauh.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Zenwa bingung.
"Merangkul istriku," jawab Micheal dengan enteng "Kamu menolak di rangkul? Lalu apa artinya aku tidak akan dapat nafkah batin?"
"Apa?!"
__ADS_1
Tbc...