Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 110


__ADS_3

"Memang apa alasan tidak merestui jika misalnya pria itu menyukai Aira?" Daddy Gabriel bertanya pada kedua putranya.


Saat ini mereka semua sedang makan siang di ruang rawat Zenwa, Zenwa pun juga makan namun menunya dari rumah sakit, dan Micheal menyuapi istrinya itu.


Micheal mengadu pada ayahnya tentang Javeed yang kata Jibril terus memandangi Aira, padahal Aira sendiri merasa biasa saja dan itu bukan masalah apalagi mereka tidak saling mengenal dan hanya kebetulan bertemu.


"Aku tidak suka pria itu, Dad . Dari wajahnya saja sudah kelihatan kalau dia bukan pria yang baik," kata Micheal dengan santainya.


"Katanya kalian tidak kenal? kenapa kamu berani menilai orang hanya dari wajahnya saja? Siapa yang mengajari mu begitu?" Tanya Daddy Gabriel dengan tajam.


"Bukan begitu, Dad. Aku bisa menilai dia seperti itu karena dia dulu mematok harga selangit untuk kuda Aira yang bahkan masih belum baligh," kata Micheal yang membuat Zenwa langsung terkekeh begitu juga dengan orang tuanya dan juga Oma opanya. Sementara Jibril hanya menahan senyum dan raut wajahnya masih datar seperti papan, beda halnya dengan Aira yang tampak biasa saja.


"Daddy rasa itu normal, namanya juga bisnis," jawab Daddy Gabriel. "Dan bisa jadi itu teguran untuk kalian karena waktu itu membohongi orang tua." lanjutnya.


"Astagfirullah, Dad. Sudah aku jelaskan saat itu, aku tidak bohong. Aku hanya tidak memberi tahu, karena kalau aku beri tahu, pasti di larang," sungut Micheal membela diri.


"Lalu apa penjelasanmu mencuri senjata Gio? Sama seperti itu? Hanya tidak memberi tahu?" Tanya Daddy Gabriel. Semua orang seketika terdiam dan mereka semua menatap Micheal, seolah menunggu kira-kira jawaban apa yang akan di berikan oleh putra pertama Gabriel ini. Bahkan, Jibril pun tampak penasaran.

__ADS_1


"Aku hanya meminjamnya, Dad." seketika semua orang hanya bisa menahan senyum mendengar jawaban Micheal.


"Meminjam itu ada izin dari kamu ke pemilik barang, kamu ada izin?" Tanya sang ayah mendesak.


"Aku buru-buru, Dad. Dan aku terpaksa melakukan itu, kalau aku pergi ke markas penjahat tanpa membawa senjata, itu sama saja aku bunuh diri," tuturnya panjang lebar, namun ayahnya seolah tak menerima jawaban itu.


"Sekalipun kamu bawa senjata paling canggih, itu tetap bunuh diri kalau kamu cuma pergi bersama Zach, tidak usah sok jadi pahlawan. Kalau kamu mati, kasihan kedua ibumu sama istrimu. Dan berhenti main hakim sendiri atau kamu juga bisa terjerat hukum!"


"Ya habisnya...."


Micheal tentu tampak kesal mendengar apa yang di katakan ayahnya itu, namun kemudian Zenwa menyentuh lengan Micheal dengan lembut sambil tersenyum manis.


"Sepertinya kamu memang salah, Sayang," kata Zenwa dengan lembu. "Bagaiamana pun juga, seharusnya kita biarkan polisi melakukan tugasnya."


"Aku cuma...." ucapan Micheal terpotong saat terdengar suara dering ponsel ayahnya yang cukup nyaring, bahkan memenuhi seluruh ruangan itu.


Daddy Gabriel langsung menjawab panggilan yang ternyata dari pihak kepolisian itu.

__ADS_1


Dan saat ia mendengar kabar dari pihak polisi, ia tampak terkejut, kemudian ia bergegas pergi dari ruang rawat Zenwa begitu saja.


Jibril mengejarnya dan menanyakan ada kabar apa. "Mereka di bayar oleh seseorang untuk menuusuk Zenwa," jawab sang ayah yang membuat Jibril terkejut.


"Apa? Jadi mereka bukan penjahat utamanya?"


"Bukan!"


"Lalu siapa pelaku utamanya?"


"Polisi sedang menyelidikinya."


Tbc....


*Hai, ada yang menunggu cerita ini? mohon maaf karena kemarin othor nggak up ya, soalnya othor pergi periksa mata ke dokter.


Btw, cerita ini udah detik-detik mau selesai, jangan sampai kelewatan setiap episodenya ya*.

__ADS_1


__ADS_2