Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 45


__ADS_3

Micheal masih terngiang-ngiang dengan apa yang di ucapkan Arsyad, bahkan ia merasa begitu emosi dan ingin sekali memarahi pria itu yang telah mengatakan ibunya membunuh.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Zenwa yang sudah sangat penasaran dengan perubahan sikap suaminya.


"Aku tadi berbicara dengan pria yang namanya Arsyad Ibrahim itu," ucap Micheal dengan nada dingin.


"Oh ya?" Pekik Zenwa yang justru terlihat antusias. "Bagaiamana? Apa dia membutuhkan guru baru?" Tanyanya.


"Tidak," jawab Micheal malas.


"Yah, sayang sekali..." gumam Zenwa lesu.


"Dan jika pun dia membutuhkannya, aku tidak mengizinkanmu mengajar disana," tukas Micheal kemudian yang membuat Zenwa semakin terlihat bingung.


"Tapi kenapa?" Tanyanya.


"Dia bilang mommy Firda membunuh, dia mengungkit kasus masa lalu," jawabnya yang membuat Zenwa tak bisa lagi berkata-kata, karena ia tahu itu adalah yang sensitif, dan Zenwa juga mengerti jika Micheal tersinggung dengan hal itu.


Keduanya kembali terdiam hingga mereka sampai di rumah, Micheal dan Zenwa masuk kamar beriringan.


"Kamu mandi saja duluan," ujar Micheal sembari melepaskan kemejanya dan menggantinya dengan kaos biasa. Bahkan ia juga melepas celananya disana tanpa memikirkan Zenwa yang langsung merasa malu sendiri, Zenwa pun langsung bergegas ke kamar mandi.


"Kenapa dia bisa melepas pakaian di depanku? Astagfirullah."


.........


Arsyad Ibrahim, pria berusia 31 tahun itu hidup berdua bersama sang Ibu dan ia mendirikan sekolah TK sejak lima tahun yang lalu dan sekolah itu gratis, namun dengan fasilitas yang sangat lengkap. Arsyad juga pemilik restaurant tempat dimana Micheal dan Zenwa makan malam tadi, dan dari sana lah semua penghasilannya serta biaya yang ia keluarkan untuk sekolahnya.


"Assalamualaikum, Ummi..." Arsyad mengucapkan salam saat memasuki rumahnya.


"Waalaikum salam," jawab Umminya yang saat ini sedang duduk di sofa dengan sebuah buku di tangannya. Arsyad duduk di samping Umminya.


"Bagaiamana restaurant?" Tanya sang ibu namun dengan pandangan masih pada bukunya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, hari ini sangat ramai, banyak pengunjung yang datang bahkan saat restaurant hampir tutup," jawabnya.


"Alhamdulillah, semoga hasilnya juga berkah," ucap sang ibu kemudian ia meletakkan bukunya.


"Ummi, tadi ada seseorang yang menemuiku dan katanya istrinya ingin mengajar di sekolah," ujar Arsyad dan ia teringat dengan Zenwa.


Saat Micheal meninggalkannya, Arsyad sempat mengejarnya untuk meminta maaf atas ucapannya namun langkahnya terhenti saat ia melihat wanita yang bersama Micheal. Entah kenapa, Arsyad merasa terpana saat melihatnya namun kemudian ia berbalik badan dan mengurungkan niatnya mengejar Micheal saat menyadari wanita itu pasti istri Micheal.


"Oh ya? Terus?" Tanya Umminya.


"Tadinya aku bilang saat ini kita tidak membutuhkan guru, kemudian aku meminta kartu namanya supaya aku bisa menghubunginya saat kita butuh guru nanti. Dan ternyata, pria itu putranya Gabriel Emerson, Ummi," tukasnya kemudian.


"Terus?" Tanya Umminya lagi.


"Ya, terus aku tidak sengaja mengungkit kasusnya saat istri Gabriel membunuh ayah mertuanya," cicit Arsyad yang membuat ibunya tampak terkejut. "Dan dia terlihat sangat marah." lanjutnya.


"Astagfirullah, tentu saja dia marah, Arsyad. Apalagi itu bukan kasus pembunuhan, apa yang istri Gabriel lakukan hanya untuk membela diri, bahkan dia sendiri hampir merenggang nyawa."


"Aku tahu kasus itu, Ummi. Entah kenapa tadi aku kelepasan berbicara seperti itu, aku benar-benar menyesal."


"Tidak, belum."


"Kamu harus secepatnya minta maaf, Arsyad."


"In Shaa Allah, Ummi. Aku memang berniat akan menemuinya besok."


.........


Jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat, namun Micheal tak kunjung kembali ke kamarnya yang membuat Zenwa merasa cemas karena tadi Micheal terlihat sedang marah. Zenwa pun keluar dari kamar dan bersamaan dengan itu, Micheal justru hendak masuk ke kamarnya.


"Mau kemana?" Tanya Micheal.


"Mencarimu," jawab Zenwa.

__ADS_1


"Baru dua jam aku meninggalkanmu, apa kau sudah merindukanku?" Goda Micheal yang membuat Zenwa melongo.


"Aku?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Merindukanmu?" Tanyanya sambil tertawa hambar. "Yang benar saja," geram nya kemudian ia kembali ke ranjangnya dengan kesal.


"Tentu saja kamu, memangnya siapa lagi yang boleh merindukanku selain istriku?" Tanya Micheal sambil terkekeh dan ia pun juga naik ke atas ranjang menyusul Zenwa.


"Entahlah, kekasih hatimu yang sangat kamu cintai, mungkin," cicit Zenwa yang membuat raut wajah Micheal langsung tampak kaku, namun kemudian ia menyunggingkan senyumnya dan berkata.


"Jangan membahas masa lalu, Zenwa. Supaya jalan masa depan kita lebih mudah," ucap Micheal dengan lirih, kemudian ia membenarkan letak bantal Zenwa dan menepuknya. "Tidurlah, ini sudah malam!" Zenwa menatap Micheal sesaat sebelum akhirnya ia tidur memunggungi Micheal.


Tbc...


***Iklan...


Hai, Readers tercinta Sky. Masih puasa engga nih yang menjalankan?


Sambil menunggu kisah Zenwa dan Mikail, yuk mampir sini.


Judul : Petaka Karena Perjodohan


Penulis : PenulisRatcheh


Pernikahan yang Airin Pranata jalani tak pernah membuatnya bahagia. Sifat Julian yang dingin, angkuh, bahkan acuh tak acuh kerap kali membawa kepedihan, keretakan, dan kesakitan bagi benak Airin.


Di tengah keterpurukan yang tidak ada jalan keluarnya, Airin hanya bisa mengatakan kalimat, "aku baik-baik saja," untuk menguatkan hati wanita malang tersebut.


Hingga Airin mendengar percakapan Julian yang mengatakan, "Buat rongsokan itu jatuh cinta dalam waktu 30 hari. Jika kau berhasil, aku akan menceraikannya dan memberikannya padamu."


Bagai dihujam ribuan pisau tak kasat mata, rasa sakit langsung menyerang dada Airin.


Apakah Airin mampu membisikkan kalimat "aku baik-baik saja" pada dirinya sendiri?


Jika Julian memintanya mencintai laki-laki lain, apa Airin akan memilih mempertahankan rumah tangganya? Atau

__ADS_1


Melangkah untuk menempuh kehidupan baru***?



__ADS_2