
"Kamu tidak mencoba berbicara dengan Zenwa supaya dia berbagi kamar sama kamu?" tanya Opa pada Micheal. Saat ini, keduanya sedang duduk santai di teras rumah sembari menikmati sejuknya angin malam dengan di temani kopi hangat.
"Bagaiamana mau bicara soal berbagi kamar, Opa. Berbagi meja makan saja tidak pernah, baru malam ini," jawab Micheal lesu.
"Ya kamu jangan diam saja dong, Micheal. Perempuan itu adalah makhluk yang suka di kejar, di perhatikan, di rayu, ya ... seolah kita tidak bisa hidup tanpa mereka, begitu. Itu akan membuat mereka bahagia, melayang, dan pasti mereka tidak akan mau jauh dari kita," tutur Opa yang membuat Micheal tersenyum samar.
"Aku juga tahu itu, Opa. Tapi masalahnya, situasi kami benar-benar sulit di atasi," jawab Micheal lesu.
"Sebagai laki-laki kamu jangan lesu begitu, Micheal. Kalau kamu begini terus, lalu kapan kami punya cicit? Kami ini sudah tua renta, kami ingin sekali punya kesempatan melihat anak-anak Zenwa." Micheal meringis mendengar permohonan kakek mertuanya itu namun ia hanya bisa melemparkan senyum kemudian.
Sementara di sisi lain, Oma mendatangi Zenwa ke kamarnya dengan tujuan yang sama, yaitu membujuk Zenwa supaya mau berbagi kamar dengan Micheal.
"Oma, bukannya Zenwa tidak mau, hanya saja ... Zenwa butuh waktu," lirih Zenwa yang membuat Omanya berdecak.
"Oma tahu, Oma mengerti perasaanmu, Zenwa. Tapi setidaknya mulailah dulu, maka setelah itu, semuanya akan berjalan begitu saja. Tapi kalau kamu tidak pernah memulainya, maka sampai kapan pun kamu masih akan terjebak di tempat yang sama." Zenwa menghela nafas berat mendengar apa yang di ucapkan Omanya.
"Coba kamu fikirkan semuanya kembali, Nak. Dengan hati dan fikiran yang tenang, pernikahan itu bukan hubungan yang bisa di permainkan, cobalah kamu melihat Micheal sebagai pria yang sudah sah menjadi suami kamu, bukan sebagai pria yang mencintai kakakmu."
"Gampang berbicara seperti itu, Oma. Tapi nyatanya? sangat sulit, Zenwa terus terbayang dengan Kak Arin, dan jika seandainya Kak Arin masih hidup, mungkin Oma tidak akan berbicara seperti ini, Micheal dan Kak Arin akan selalu terhubung dan aku hanya akan menjadi bayangan Kak Arin."
"Zenwa, sekalipun Arini masih hidup, tetap saja itu tidak akan mengurangi sedikitpun hakmu atas cinta dan perhatian Micheal. Tidak perduli Micheal mencintai siapa atau siapa yang mencintai Micheal, faktanya, kamu lah istri Micheal, yang pantas bertahta di hatinya. Jika di hati itu masih ada wanita lain, maka kamu harus merebutnya dan itu tidak salah, Nak. Karena itu memang hakmu sebagai istri." Zenwa mendengarkan ucapan Omanya itu dengan seksama, mencoba memahami nasihat itu. Dan Zenwa teringat dengan apa yang di tuliskan Arini di bukunya.
"Ini sudah malam," ucap Oma kemudian ia beranjak dari tempat duduknya "Tidurlah." Oma mencium pipi Zenwa dan Zenwa hanya bisa mengulum senyum.
.........
Keesokan harinya...
"Zenwa, hari ini kamu ke pasar, ya!" Zenwa yang saat ini sedang mencuci beras di wastfel langung menoleh saat mendengar suara Umminya.
"Ke pasar?" tanya Zenwa bingung.
"Iya, Ummi sakit kepala, tidak bisa ke pasar. Kamu ke pasar sama Micheal, ya!" Tentu Zenwa bingung harus menjawab apa, karena ia tidak pernah ke pasar dan tidak tahu cara berbelanja di pasar, selama ini yang selalu ke pasar Umminya dan Arini.
__ADS_1
"Beli apa?" tanya Zenwa kemudian karena tak mungkin ia menolak.
"Ummi sudah catat daftar belanjaannya, sama ini uangnya." Ummi Zainab meletakkan selembar kertas dan beberapa lembar uang di atas meja "Berangkat sekarang saja, mumpung masih pagi." lanjutnya sembari mengambil alih pekerjaan Zenwa.
"Iya, Ummi," jawab Zenwa ragu. Setelah mencuci tangan, ia pun mengambil kertas itu dan kedua bola mata Zenwa langsung melotot sempurna melihat daftar belanjaan yang baginya cukup banyak.
"Michael sudah di depan, Zenwa. Ayo cepat!" seru Ummi Zainab dan Zenwa pun segera bergegas keluar.
Di luar, Zenwa melihat Micheal yang sudah siap di atas sepeda motornya.
"Naik motor?" pekik Zenwa.
"Iya, biar cepat," jawab Micheal kemudian ia menyerahkan helm pada Zenwa "Kenapa? Apa Nona yang baru keluar dari pesantren takut terkena matahari?" ejek Micheal yang membuat Zenwa langsung mencebikan bibirnya.
"Bukan begitu, hanya saja belanjaannya banyak, apa bisa di bawa dengan motor?" tanyanya yang membuat Micheal tertawa geli.
"Ya bisa lah, sudah ayo, mumpung belum panas, nanti gosong kulit putihmu itu," ujar Micheal yang kini membuat Zenwa mendelik. Ia pun naik ke atas motor dengan gugup, karena sebelumnya Zenwa tidak pernah boncengan dengan pria.
"Oh ya, sudah pakai blognya matahari?" tanya Micheal tiba-tiba yang membuat Zenwa langsung mengernyitkan keningnya.
"Itu, yang biasa di pakai wanita kalau takut kulitnya gosong, sunblog 'kan? Blognya matahari bahasa Indonesianya," kata Micheal yang membuat Zenwa langsung tergelak.
"Sunblock. S.U.N.B.L.O.C.K," jawab Zenwa di tengah tawanya, ia bahkan mengeja kata sunblock itu penuh penekanan.
Diam-diam Micheal memperhatikan Zenwa dari kaca spion dan Micheal terpana melihat kecantikan Zenwa saat tertawa.
"Oh, begitu rupanya. Jadi bukan blog?" tanya Micheal yang juga tertawa geli, ia pun menyalakan motornya dan melajukannya pelan-pelan.
"Bukan, lagian masak tidak bisa membedakan blog dan block? Katanya sekolah tinggi, calon CEO," ejekanya yang membuat Micheal hanya meringis.
"Calon bapak juga dari anakmu kelak." ucap Micheal dengan entengnya
"Astagfirullah..." ucap Zenwa secara spontan, sekali lagi Micheal terkekeh
__ADS_1
"In Shaa Allah, bukan astaghfirullah!"
Tbc...
...PROMO...
Hai, SkySal punya novel keren neh, gk kalah keren dari kisah tiga pasangan di sini lho.
Judul : Beautiful Affair
Rate : 20+
Sinopsis
Menjadi istri Daniel Agra, seorang billionaire, muda, dan tampan, tidak membuat Ananiya Alira bahagia, apalagi di balik wajah bak malaikat sang suami tersembunyi sifat iblis yang membuat Alira ketakutan.
Di balik senyum Alira terdapat air mata yang tertahan.
Di balik make up cantiknya tersembunyi luka akibat pukulan sang suami.
Alira yang seorang yatim piatu mencoba mempertahankan pernikahannya karena hanya Daniel yang ia miliki, dengan harapan Daniel akan berubah.
Namun kehadiran adik tiri Daniel yang bernama Ryan Reiner mengubah cerita hidup Alira.
Saat Ryan hadir sebagai seseorang yang menghapus air mata Alira saat ia sedih, mengobati lukanya saat Daniel memukulnya, bahkan perlahan Ryan mengisi hatinya.
Alira jatuh cinta pada Ryan, namun ternyata Ryan hanyalah seorang playboy yang akan bersenang-senang dengan semua wanita dan ia tak percaya pada sebuah hubungan.
Akankah Alira memperjuangkan cintanya pada Ryan dan meninggalkan Daniel?
Akankah seorang playboy seperti Ryan membalas cinta Alira yang merupakan kakak iparnya?
Dan bagaimana jika Daniel mengetahui bahwa sang istri telah mencintai adik tirinya?
__ADS_1
Penasaran?