
Micheal menggeser tubuhnya hingga berada tepat di belakang tubuh Zenwa, membuat Zenwa terkejut dan ia langsung menoleh dan hal itu justru membuat wajahnya begitu dekat dengan wajah Micheal.
"Ada apa?" lirih Zenwa yang berusaha menahan gejolak di dadanya.
"Aku ... aku ingin memelukmu," lirih Micheal yang membuat pupil mata Zenwa langsung melebar, jantungnya berdetak lebih cepat, dadanya berdebar dan ia menahan napas. "Boleh, kan?" Tanya Micheal seolah merayunya. Zenwa langsung memalingkan wajahnya, tak kuasa jika harus berhadapan dengan Micheal.
"A-aku...."
"Please...." lirih Micheal yang membuat Zenwa tak lagi mampu berkata-kata, apalagi ketika Micheal meletakkan tangannya di pinggang Zenwa, sentuhan tangan Micheal yang masih terhalang kain itu berhasil membuat tubuh Zenwa menegang.
"Aku hanya ingin kita ada kemajuan dalam pernikahan kita, apa kau mau melangkah selangkah lagi ke depan?" Tanya Micheal dengan lembut, tatapannya menyiratkan harapan yang begitu besar. Zenwa terdiam sejenak, ia memejamkan mata, mencoba berfikir dengan tenang.
Zenwa sudah melangkah sejauh ini, pernikahannya juga bukan sebuah hubungan yang bisa terus ia permainkan.
Dengan gugup, Zenwa mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas tangan Micheal, sebagai jawaban ia mau di peluk oleh suaminya itu dan ia juga mau melangkah selangkah lebih maju.
__ADS_1
Micheal yang merasakan tangan Zenwa di tangannya langsung tersenyum sumringah, ia menari tangan Zenwa, menggenggamnya dan mengecupnya yang membuat Zenwa semakin gugup.
"Terima kasih," ucap Micheal. "Sekarang tidurlah, ini sudah malam." lanjutnya yang hanya di jawab dengan gumaman oleh Zenwa.
Keduanya pun terdiam, dengan posisi yang tentu membuat jantung Zenwa dan Micheal berpacu, darah keduanya berdesir hangat, dan pelukan ini menggelitik rasa yang tersimpan dalam hati keduanya.
Mungkin, saat ini pelukan sang suami teras begitu aneh, tidak nyaman, namun suatu hari nanti, Zenwa berharap pelukan Micheal akan selalu terasa nyaman untuknya begitu juga sebaliknya.
.........
"Ada apa dengan pria ini?" gumam Javeed karena buku berisi data yang sangat lengkap tentang semua hal yang berhubungan dengan keluarga Gabriel, termasuk istrinya. Hingga di lembaran berikutnya, Javeed menemukan sebuah catatan yang berisi penyusunan rencana sang ibu.
Javeed menganga tak percaya, ibunya merencanakan sebuah pembunuhan. Namun kemudian berbagai pertanyaan muncul dalam benak Javeed, siapa Gabriel? Kenapa ibunya menyusun rencana pembunuhan? Apa yang terjadi?
"Aku harus tahu jawaban semua ini..." geram Javeed kemudian ia membawa buku itu ke ibunya.
__ADS_1
"Mom..." Javeed mengetuk pintu kamar sang ibu, dan tak lama kemudian pintu terbuka menampilkan wajah sang ibu yang tampak begitu pucat. "Mom, ada yang mau aku tanyakan...."
"Apalagi, Jav?" Tanya sang ibu.
"Apa ini?" Tanya Javeed sembari menunjukkan buku itu yang membuat ibunya langsung melotot terkejut, bahkan ia hendak mengambil buku itu dari tangan Javeed namun Javeed langsung menghentikannya. "Bisa kau jelaskan apa maksud dari semua catatanmu ini, Mom?" Tanya Javeed setengah mendesis.
"Jav, berikan buku itu!" Tegas ibunya namun Javeed menggeleng tegas.
"Jelaskan dulu! Kenapa kau merencanakan pembunuhan terhadap Gabriel Emerson dan istrinya?"
"Jav, itu hanya masa lalu, sebaiknya kamu bakar buku itu!"
"Tidak, ada yang kau sembunyikan dariku, Mom. Disini juga ada data tentang ayahku. Apa pria itu yang membunuh ayahku?"
Tbc....
__ADS_1