
Zenwa memenuhi janjinya untuk membiarkan sang suami menjenguk anak mereka, sesuai dengan petunjuk Dokter, mereka melakukannya dengan pelan dan mencari posisi yang paling aman dan nyaman untuk Zenwa.
Kini tubuh Micheal dan Zenwa sudah mengkilap karena keringat yang terus mengucur seiring pergerakan mereka.
Tatapan keduanya terkunci satu sama lain, dengan mulut yang terus terbuka dan mendesahkan nama satu sama lain. Zenwa memeluk leher Micheal sementara sang sang suami masih fokus memacu dirinya di bawah sana.
Pelan, namun menjanjikan kenikmatan yang tiada tara. Lembut, namun menggiring keduanya pada sebuah rasa yang membuat keduanya melayang ke angkasa.
"Lebih cepat, Sayang," bisik Zenwa di telinga sang suami. Ia sudah begitu dekat dengan kenikmatan itu, dan Zenwa tidak sabar untuk menjemputnya.
Seperti ada gulungan ombak di perutnya, darahnya terasa panas dan di bawah sana berdenyut manja, seolah ingin menelan milik sang suami yang keluar masuk di bawah sana.
"Kau yakin? Aku takut menyakiti kalian, Sayang," tukas Micheal cemas. Zenwa tersenyum lembut, ia melingkarkan kedua kakinya di pinggang sang suami, membuat Micheal langsung mengerang karena pusat dirinya masuk semakin dalam.
"Tidak akan," jawab Zenwa dengan malu, sekarang dirinya bertingkah layaknya wanita penggoda yang haus belaian, dan itu tentu sangat di sukai oleh Micheal.
Sesuai permintaan sang istri,Micheal bergerak lebih cepat dan masuk lebih dalam namun tetap terkendali, Zenwa menjerit tertahan. Fikirannya blank, yang ada dalam otaknya sekarang adalah bagaimana ia menjemput kenikmatan ini bersama sang suami.
Micheal pun mengerang saat merasakan miliknya seperti akan di makan oleh sang istri, kenikmatan itu terasa hingga ke ubun-ubunnya.
hingga akhirnya lenguhan panjang tak bisa di tahan, Micheal dan Zenwa menjemput kenikmatan itu bersama.
__ADS_1
Jika biasanya Micheal akan ambruk di atas tubuh Zenwa, kini Micheal langsung menyingkir dari atas tubuh istrinya itu karena ia tak ingin menindih Zenwa yang sedang hamil.
Napas keduanya memburu, jantung keduanya berdebar seperti baru menyelesaikan lari marathon. Senyum puas tersungging dari bibir keduanya dengan tatapan yang juga menyiratkan kepuasan atas percintaan mereka yang luar biasa ini.
"Apa aku menyakiti kalian, Sayang?" Micheal bertanya dengan lembut sembari menyingkirkan rambut yang menempel di sekitar wajah Zenwa karena keringat.
"Tidak sama sekali, Sayang. Kami baik-baik saja," jawab Zenwa dengan suara parau.
Zenwa mendesakan tubuhnya ke tubuh Micheal, mencari kehangatan dari sang suami. "Lelah, hm?" Tanya Micheal sembari mendekap Zenwa.
"Hem," jawab Zenwa, ia menghirup aroma Micheal dalam-dalam sebelum akhirnya ia memejamkan mata dan perlahan alam mimpi menjemputnya karena ia merasa begitu lelah.
Micheal menatap wajah sang istri yang tampak begitu tenang, ia memberikan kecupan ringan di ubun-ubun Zenwa. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih atas semuanya," bisik Micheal.
Micheal menarik selimut dan menyelimuti tubuh Zenwa dengan benar sebelum akhirnya ia pun menyusul sang istri ke alam mimpi.
.........
Keesokan paginya, Zenwa memilihkan pakaian untuk Micheal yang akan ia bawa ke luar kota.
"Kamu menginap di hotel, 'kan?" Tanya Zenwa.
__ADS_1
"Hem," jawab Micheal yang kini sibuk dengan laptopnya.
"Sama Akbar, 'kan?" Tanya Zenwa lagi.
"Iya, Sayang. Kenapa? Kamu takut aku bertemu wanita lain disana?" Micheal bertanya sambil terkekeh.
Zenwa mengangguk sambil cemberut. "Di sinetron yang aku tonton, ada suami yang pergi ke luar kota, eh pulang-pulang bawa istri baru. Atau bisa juga si suami menikah diam-diam, dan mereka melakukan itu tanpa rasa bersalah pada si istri dengan alasan poligami tidak di larang," kata Zenwa yang membuat Micheal tertawa.
Ia mendekati istrinya itu dan mencium pipi tembemnya dengan gemas.
"Poligami memang halal, tapi apakah di halalkan menyakiti seorang istri? Apakah di halalkan membuatnya menangis? Tidak menghargai? Aku tahu dengan pasti, pria yang terbaik adalah yang paling baik pada istrinya."
Zenwa tersenyum kemudian ia juga mengecup pipi Micheal dengan lembut." Kamu tidak akan menyakitiku, 'kan?" Tanyanya.
"Cinta selalu bersanding dengan luka, Sayang. Tapi aku janji, aku akan menghargaimu, menghormatimu. Dan mengkhianatimu adalah bentuk pelecehan pada kehormatanmu, aku tidak akan melakukan itu karena kehormatanmu adalah kehormatanku."
*Tbc...
Hem, masih belum pada mampir ke beautiful Affair?
Sayang banget kalau sampai kamu melewatkan episode yang seru ini.
__ADS_1
Mampir yuk! 😘*