Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Takdir Terbaik Di Balik Air Mata


__ADS_3

Micheal dan Zenwa sedang menyusun barang-barang yang akan mereka bawa pulang ke desa, karena besok adalah hari ulang tahun Tanvir yang ke 6 dan mereka ingin merayakannya di kampung halaman Zenwa.


"Sayang, aku ingin makan Spaghetti deh, aku lapar sekali," kata Micheal sembari memasukan beberapa mainan Tanvir ke dalam koper.


"Beli saja, ya. Biar cepat," jawab Zenwa dan Micheal pun mengangguk setuju, ia segera mengambil ponselnya, menghubungi seseorang agar mengantarkan Spaghetti ke rumahnya.


Tanvir yang saat ini sedang bermain mobil-mobilan di lantai memperhatikan ayah dan ibunya itu, dan dari percakapan mereka, Tanvir sepertinya mendapatkan ide brilliant untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat.


Setelah Micheal menelfon, ia meletakkan ponselnya di atas meja kemudian ia kembali membantu Zenwa.


Sementara Tanvir, ia langsung mengambil ponsel ayahnya dan menghubungi nomor terakhir di list panggilan.


"Ya, Pak Micheal. Apa ada tambahan?" tanya seorang pria dari seberang telfon.


"Halo, ini Tanvir," kata Tanvir sambil tersenyum lebar. "Tanvir mau beli adek bayi, ya!" lanjutnya yang membuat Micheal dan Zenwa langsung melongo dan menganga.


Sementara di seberang telfon, tak terdengar suara pria itu sehingga Tanvir kembali mengulangi ucapannnya. "Tanvir mau beli adik bayi, biar cepat," ucapnya dan seketika pria di seberang telfon itu tertawa.


"Tanvir telfon siapa, Sayang?" Tanya Zenwa menghampiri anaknya itu.


"Beli adik bayi, Mama. Biar cepat," jawab Tanvir dengan polosnya yang membuat Zenwa melongo.


"Beli adik bayi bagaimana?" Sambung Micheal yang juga bingung dengan tingkah anaknya itu.


"Kata Mama, beli saja biar cepat, jadi Tanvir beli adik bayinya, kalau bikin lama."


"HAHAHA" Micheal dan Zenwa tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan konyol anak mereka itu, Zenwa bahkan merasa sampai sakit perut dan matanya berair, begitu juga dengan Micheal.


"Nak, yang di beli itu haha ... yang di beli itu barang, makanan, bukan manusia," kata Micheal sambil di sela tawanya.


Sementara Tanvir yang di tertawakan justru ikut tertawa cekikikan, bahkan ia sampai menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Lah, kenapa kamu ikut ketawa?" Tanya Micheal.

__ADS_1


"Karena Papa dan Mama tertawa," jawab Tanvir dan ia kembali cekikikan, seperti ada sesuatu yang sangat menggelikan, dan hal itu membuat kedua orang tuanya kembali tertawa geli.


"Astagfirullah, Nak... Nak!"


.........


"Yeayy! Pulang!" Seru Tanvir saat ia sudah sampai di rumah Neneknya yang di desa, bahkan ia langsung masuk ke dalam rumah, berlari kesana kemari sembari terus mengucapkan salam, bahkan ia membuka setiap pintu kamar seolah ingin menyapa semua kamar itu.


"Assalamualaikum..."


"Assalamualaikum, rumah...."


"Assalamualaikum semuanya, Tanvir pulang!"


"Assalamualaikum..."


"Capek deh semua makhluk menjawab salammu itu, Nak," ucap Micheal sembari melepas sepatu dan kaos kakinya.


"Kenapa capek, Papa? Kan salam itu do'a kesalamatan, kenapa orang capek berdo'a?"


Micheal membuka sepatu serta kaos kaki Tanvir dan mencuci tangan serta kakinya. Setelah itu ia mengambilkan sandal Tanvir dan membiarkan anak itu kembali berlarian di rumah.


Sementara orang rumah yang lain sedang sibuk untuk menyiapkan acara ulang tahun Tanvir nanti malam.


Zenwa yang baru saja sampai pun langsug ke dapur dan membantu disana, tak perduli ibu mertuanya yang menyuruhnya beristirahat, Zenwa tetap membantu dan ia menyukai moment saat semua orang berkumpul seperti ini.


"Oh ya, Zenwa. Apa kamu tidak mau kasih adik untuk Tanvir? Dia sudah 6 tahun," ucap Ummi Zainab.


"Bukan tidak mau, Ummi. Cuma belum di kasih," jawab Zenwa.


"Belum di kasih apa proses pembuatannya yang selalu terganggu?" Tanya Mom Firda yang membuat Zenwa langsung tertawa. "Aku pernah mengalami hal itu, perjuangan yang tidak mudah untuk mendapatkan Aira karena saat itu kami punya dua pengganggu yang sangat aktif menganggu." lanjutnya.


"Benar tuh, Mom," sambung Micheal yang kini masuk ke dapur sambil meneteng anaknya itu. "Nih anak minta adik terus, sampai mau beli katanya biar cepat, seperti makanan saja. Tapi bagaimana adiknya mau jadi? Setiap malam di ngerecokin," ucapnya sementara anak yang di bicarakan itu hanya justru fokus ingin mengambil segelas kopi yang ada di atas meja.

__ADS_1


Ia berjinjit seperti biasa, dan tangan kecilnya itu terjulur dengan susah payah.


"Kalian masih biarin dia minum kopi?" Tanya Ummi Zainab.


"Cuma satu teguk, Ummi," jawab Zenwa. "Itu pun hanya kadang-kadang." lanjutnya, dan benar saja, Tanvir hanya meminum satu teguk kemudian ia kembali berlari keluar dari dapur.


"Kalau kalian mau, kalian bisa bulan madu di rumah selama seminggu, biar Tanvir disini, bagaimana?" tawar Mom Firda yang tentu saja membuat Micheal langsung mengangguk setuju.


"Ide bagus, Mom," ucapnya antusias dan Zenwa hanya bisa mengikuti apa kata suaminya karena ia juga ingin kembali memiliki anak.


..........


Saat malam hari, acara pun di gelar, dari do'a bersama untuk anak pertama Micheal itu, kemudian di lanjutkan dengan acara makan-makan.


Tanvir bermain bersama anak-anak desa yang lain, dan Tanvir tidak pelit sama sekali sehingga dia dengan tenangnya memberikan semua mainan yang ia punya pada anak-anak tetangganya itu.


Hal ini selalu terjadi setiap kali Tanvir pulang ke desa.


Sehingga meskipun saat ini ia sedang ulang tahun, bukan ia yang mendapatkan hadiah melainkan ia yang memberi hadiah.


Acara ulang tahun Tanvir berjalan dengan sangat meriah, dari anak-anak, orang dewasa hingga beberapa orang tua ikut meramaikan karena memang mereka semua di undang oleh Daddy Gabriel.


Bahkan Mom Angel dan Daddy Aryan juga hadir di acara ulang tahun cucu meraka itu.


Zenwa dan Micheal pun terlihat sangat bahagia selama acara itu berlangsung, dan mereka juga membagikan uang serta pakaian untuk anak-anak yang hadir.


Mom Firda memperhatikan wajah menantunya yang terus tersenyum selama acara berlangsung, dan itu justru mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun yang lalu, saat Zenwa sangat marah dan bahkan mengucapkan hal-hal buruk tentang Micheal di rumah sakit.


"Kenapa melamun, Sayang?" Tanya Daddy Gabriel sembari merangkul pundak sang istri.


"Hidup itu luar biasa kejutannya ya, Bang. Dulu Zenwa sangat marah pada Micheal setelah tahu Micheal mencintai mendiang Arini, dia juga kecewa dan menangis saat itu, tapi lihatlah sekarang? Aku rasa tidak ada yang lebih bahagia dari dia malam ini."


Daddy Gabriel tersenyum dan berkata. "Begitulah takdir, terkadang membungkus senyum dari air mata, bisa juga sebaliknya. Apapun itu, apa yang terjadi sudah skenario dari Tuhan dan tidak ada kisah yang di tulis Tuhan itu gagal."

__ADS_1


......Si kecil Tanvir......



__ADS_2