
Bukankah sudah jelas? Micheal tidak akan pernah bisa selamat dari goda'an Zenwa. Yang rencananya malam ini Micheal akan memberikan kejutan pada Zenwa, justru ia yang mendapatkan kejutan dari Zenwa.
"Ini ulang tahunmu, Sayang. Seharusnya aku yang memberimu kejutan dan hadiah tapi kenapa malah sebaliknya? Ehem ehem...." Micheal berdeham karena tenggorokannya terasa kering, suaranya juga begitu serak, matanya berkedip cepat dan pandangannya sangat tidak fokus.
Bagaiamana mau fokus, pemandangan di depannya benar-benar mengobrak-abrik jiwanya, membuat kepalanya blank, jantungnya berdebar, ia menjilat bibirnya yang terasa kering.
Sementara di depannya, sang istri naik ke atas ranjang, menghampiri suaminya yang sudah menunggunya. Dan yang membuatnya hampir tak bisa bernapas, kain jaring-jaring berwarna merah cerah yang membalut tubuh indah sang istri dengan sangat tidak sempurna, masih kelihatan warna kulitnya yang putih, dan pasti Zenwa masih merasa kedinginan dengan kain itu.
"Oh Tuhan! Entah dari mana kamu mendapatkan ide gila ini...." Micheal berkata sembari menarik Zenwa dan membanting Zenwa ke ranjang, Zenwa memekik terkejut namun kemudian ia tertawa. Micheal langsung mencumbu tubuh istrinya itu dengan tidak sabar dan Zenwa hanya bisa terkikik apalagi saat Micheal mencium dada dan perutnya, Zenwa merasa geli.
"Beli dimana, hm? Ini mahal loh," kata Micheal sembari memainkan tali-tali tak berguna namun justru terlihat begitu indah dan menggoda itu.
__ADS_1
"Beli, pakai uangmu, emhh...." Zenwa mengerang tertahan saat cumbuan Micheal berhenti di perut bagian bawahnya. Zenwa menarik rambut Micheal, dan semakin menekan kepala sang suami di perutnya yang masih menyisakan bekas sobekan yang cukup panjang itu.
"Aku suka, nanti beli lebih banyak lagi ya, Sayang." Micheal berkata sembari merangkak naik, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Zenwa.
Zenwa menangkup pipi suaminya itu kemudian ia tersenyum dan mengangguk sebelum akhirnya ia mendaratkan kecupan lembut di bibir sang suami. Micheal membalasnya dengan sama lembutnya, bibir keduanya saling berpangut hingga akhirnya Zenwa menepuk dada Micheal karena ia merasa kehabisan napas.
Napas meraka memburu, pandangan mereka menggelap karena gairah, wajah meraka bersemu merah.
"Setiap malam kamu pakai baju ini, ya. Aku benar-benar suka," kata Micheal dengan napas terengah dan ucapannya itu membuat Zenwa terkejut, alisnya naik dan mulutnya terbuka.
Jika saja boleh, tentu saja ia akan menyuruh istrinya itu dinas setiap malam. Namun hubungan suami istri yang baik itu setidaknya seminggu tiga kali saja, jika terlalu sering maka bisa saja keduanya akan lecet, atau bahkan bisa menjadi bosan. Selain itu, menciptakan jarak itu juga penting, dengan begitu akan ada kerinduan yang di tahan dan rasanya akan sangat luar biasa saat menuntaskan kerinduan itu dalam gulatan ranjang.
__ADS_1
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya suka melihat kamu berpakaian seperti ini, seperti melihat bidadari," jawab Micheal.
"Tapi kalau aku memakai pakaian seperti ini setiap malam, nanti kamu minta jatah, gimana dong?" Micheal tertawa gemas mendengar ucapan sang istri, apalagi raut wajah seriusnya itu begitu menggoda, membuat Micheal ingin melahapnya saat ini juga.
"Ya tidak apa-apa," jawab Micheal berbisik dengan suara yang semakin me berat, ia pun menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri dan ia menghembuskan napas hangat nya disana, membuat Zenwa meremang. "Aku kan suami kamu,"
"Tapi ... kata Dokter...." napas Zenwa mulai putus-putus karena kini Micheal mulai menggoda Zenwa dengan bibir dan lidahnya. "Kata Dokter, emm seminggu ... tiga kali. Jadi, anaknya ... anaknya jadi," kata Zenwa yang berusaha menyelesaikan ucapannya. Keduanya memang berkonsultasi ke Dokter karena keduanya sudah sama-sama menginginkan kehadiran buah hati.
"Baiklah, kalau aku ingat, aku akan mengikuti kata Dokter."
"Kalau kamu lupa?"
__ADS_1
"Semoga tetap jadi bayi."
Tbc....