
"Tidak!" Tegas Micheal tanpa bisa di bantah saat Zenwa meminta izin untuk pergi tour.
"Yah, padahal aku fikir bisa bersenang-senang jika tour bersama anak-anak," ujar Zenwa namun Micheal tetap menggeleng. " Okey, perintah suami no debat, ya." lanjutnya.
Saat ini keduanya sedang menikmati makan malam bersama seperti biasa. "Tapi, apa semua guru TK itu ikut?" Tanya Micheal kemudian dan Zenwa mengangguk sembari mengunyah makanannya. "Cuma sehari, kan?" Tanya Micheal lagi dan Zenwa kembali mengangguk. "Baiklah, kamu boleh pergi." lanjutnya yang membuat mata Zenwa langsung berbinar.
"Terima kasih, suami..."Micheal langsung termangu saat mendengar nama panggilan Zenwa untuknya.
"Apa?" Tanya Micheal dengan kening berkerut.
"Terima kasih, suami!" Ucap Zenwa sekali lagi yang membuat Micheal terkekeh.
"Sama-sama, istri," balasnya dan keduanya pun tertawa bersama, merasa konyol dengan ucapan diri mereka sendiri.
.........
"Mom, kau sedang apa? Ini sudah makan, seharusnya kau istirahat...." seru Javeed yang mendapati ibunya justru membongkar lemarinya. Padahal hari sudah malam, dan Javeed sudah meminta ibunya itu beristirahat.
"Bisa tolong buang sampah ini? Ini hanya menumpuk di lemari," ujar ibunya tanpa memperdulikan teguran Javeed.
"Astaga, Mom. Apa tidak bisa di lakukan besok?" Keluh Javeed.
"Sudah, jangan membantah. Ini, buang sampah-sampah ini..." ibunya Javeed menyerahkan kresek yang berisi berbagai macan barang, termasuk kertas dan beberapa kain tak terpakai.
"Baiklah," jawab Javeed pasrah. Ia pun mengambil sampah yang sudah di pisah itu dan membawanya keluar.
__ADS_1
Saat Javeed melempar kresek itu ke tempat sampah, perhatian Javeed tertuju pada sebuah buku yang cukup tebal. Javeed mengambilnya dan membuka buku itu.
.........
Zenwa memandangi foto kakaknya yang ia simpan diponselnya, sungguh besar rasa rindu yang ia simpan dalam hati untuk sang kakak. Terbayang kembali masa-masa yang ia lewati bersama Arini, apalagi masa kecil mereka yang begitu manis.
"Ini benar-benar terlalu cepat, Kak. Terkadang, aku masih berharap ini cuma mimpi, atau kakak hanya pergi dan aku sedang menunggu kakak pulang, tapi kenyataannya? Kakak lah yang menungguku disana," lirih Zenwa.
Sementara itu, Micheal saat ini sedang fokus melakukan pekerjaannya yang tertunda. Ia sangat tampak serius, di temani dengan secangkir kopi di sampingnya. Saking fokusnya bekerja, Micheal sampai lupa waktu.
"Astagfirullah, sudah jam 12...." gumam Micheal saat ia melirik jam di laptopnya, ia pun segera menutup laptopnya itu dan kembali ke kamarnya.
Lampu kamar masih terang benderang, namun Micheal melihat Zenwa sudah terlelap. Seperti biasa, Micheal mengambil wudhu sebelum tidur setelah itu barulah ia naik ke atas ranjangnya.
"Baru selesai?" Micheal tersentak kaget mendengar suara Zenwa, ia menoleh dan mendapati Zenwa yang saat ini menatapnya.
"Tadi memang ketiduran, tapi bangun pas kamu masuk kamar," jawab Zenwa. Ia tidur menyamping, menghadap sang suami yang juga tidur menghadapnya. "Aku boleh bicara sesuatu?" Tanya Zenwa kemudian.
"Tentang apa?" Tanya Micheal, ia menatap Zenwa yang tidur dengan berbantal tangannya sendiri.
"Aku rasa kamu harus membagi waktu, kapan waktu bekerja, waktu bersama keluarga dan juga waktu istirahat, karena itu sangat penting. Ini sudah jam 12 lewat, seharusnya kamu sudah istirahat setelah seharian bekerja," tukas Zenwa yang membuat hati Micheal menghangat sebenarnya, karena ia merasa di perhatikan dan di perdulikan oleh istrinya.
"Lagi pula, kita di karunia materi yang Alhamdulillah lebih dari cukup, In Shaa Allah. Jadi sebaiknya jangan terlalu ambisius dalam bekerja," tukas Zenwa lagi yang membuat Micheal langsung mengulum senyum.
"Baiklah, aku janji mulai besok akan membagi waktu lebih baik lagi," jawab Micheal dan Zenwa hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Ia pun berbalik, memunggungi Micheal seperti biasa. Dan saat Micheal hendak memunggungi Zenwa seperti biasa juga, Micheal mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Micheal menggeser tubuhnya hingga berada tepat di belakang tubuh Zenwa, membuat Zenwa terkejut dan ia langsung menoleh dan tak itu justru membuat wajahnya begitu dekat dengan wajah Micheal.
"Ada apa?" lirih Zenwa yang berusaha menahan gejolak di dadanya.
Tbc...
Gantung ya? Biar penasaran... Hehe.
Oke, yang belum baca Lentera Don Gabriel Emerson pasti tidak tahu siapa itu Javeed. Atau mungkin sudah baca tapi lupa, siapa Javeed? Initip cuplikannya...
......LENTERA DON GABRIEL EMERSON......
Saat pria itu mendekat, Aira langsung menundukan pandangan nya.
"Kau lama sekali." tegur Micheal.
"Maaf, tadi ada masalah sedikit," kata Javeed "Bagaiamana dengan pembayarannya?"
"Aku akan transfer sekarang," jawab Micheal kemudian ia merogoh ponselnya dan mengirimkan uang ke rekening Javeed. Javeed pun memeriksa isi rekeningnya dari ponselnya dan ia tersenyum samar.
"Baiklah, sekarang kuda ini milik kalian. Aku mohon jaga dia dengan baik, aku beri nama dia Meethi. Dalam bahasa Hindi, arti nya manis," kata Javeed yang membuat Aira langsung mendongak dan seketika tatapannya bertemu dengan tatapan Javeed yang sejak tadi memang menatap penasaran pada Aira. Javeed tertegun melihat kecantikan yang terpancar dari mata Aira, begitu tajam namun juga terlihat begitu polos.
"Kau sangat sayang pada kudamu, ya?" tanya Aira dan Javeed mengangguk pelan.
"Aku juga sayang pada kuda, aku janji akan merawat kuda mu dengan baik. Terima kasih ya, sudah mau menjual nya sama aku" kata Aira dan lagi lagi Javeed mengangguk seperti orang bodoh. Entah kenapa, tatapan Aira seperti sihir yang membuatnya linglung.
__ADS_1
...Penasaran???...