
"Aku juga suka, itu ciuman pertamaku," ujar Micheal yang kembali berkata jujur, Zenwa semakin berdebar, wajahnya sudah pasti semerah tomat sekarang. "Kalau aku minta cium lagi, boleh nggak?"
"Eh?" pekik Zenwa
"Jadi nggak boleh?" Micheal bertanya dengan tatapan yang memelas, bibirnya mengerucut.
"Bukan begitu...." cicit Zenwa.
"Jadi boleh?" Micheal bertanya dengan mata yang terbuka lebar.
"Hah?" Zenwa melongo bodoh.
"Boleh apa nggak, Zenwa?" Micheal merengek manja, bahkan kini ia seperti bocah yang tak sabar ingin memakan kue ulang tahunnya, begitu antusias, tidak sabar.
Sementara Zenwa sungguh bingung harus menjawab apa, lidahnya terasa kelu, ia gugup, detak jantungnya seperti drum yang di tabuh, darahnya berdesir hangat. Zenwa kembali menunduk malu, haruskah ia menjawab iya? Tapi malu. Bagaimana kalau jawab tidak?
Hati dan otak Zenwa bersiteru, namun alih-alih menjawab keinginan Micheal, Zenwa justru kembali menunduk.
__ADS_1
Micheal yang sudah tidak tahan dan merasa gemas sendiri dengan Zenwa akhirnya menangkup pipi Zenwa dengan kuda tangannya, membuatnya mendongak kemudian ia langsung mendaratkan bibirnya di bibir Zenwa, tindakan Micheal itu begitu cepat, membuat Zenwa tak sempat menghindar dan sepertinya ia memang tak mampu menghindar.
Zenwa memejamkan mata, menerima dengan senang hati serangan sang suami. Begitu juga dengan Micheal, ia menutup mata, menikmati lembutnya bibir sang istri.
Ciuman itu perlahan berubah menjadi ******* lembut namun menuntut, tangan kanan Micheal menekan tengkuk Zenwa untuk memperdalam ciumannya, sementara tangan kirinya menyentuh lengan Zenwa, bahkan sedikit meremasnya.
Zenwa tidak tahu harus melakukan apa selain menerima kecupan, ciuman dan ******* sang suami dengan pasrah. "Jangan hanya diam, Sayang." Micheal berbisik tepat di bibir Zenwa. "Balas ciumanku...."
"Aku ... tidak tahu," jawab Zenwa yang membuat Micheal terkekeh, ia mengecup ujung hidung Zenwa dengan gemas, kemudian ia kembali menangkup pipi Zenwa. Tatapan keduanya bertemu, begitu sayu dengan napas yang memburu. Wajah keduanya merona indah dengan bibir yang sedikit terbuka.
"Bukankah ciuman ini indah?" Micheal bertanya dengan suara seraknya, dengan malu-malu Zenwa mengangguk jujur, membuat hati Micheal memekik girang, seperti iblis yang berhasil menggoda mangsanya. "Gotcha!"
"Tapi...."
"Shhttt...." Micheal meletakkan jarinya di bibir sang istri. "No tapi ... tapi, ini halal kok," bujuk rayunya begitu indah, membuat Zenwa terbuai dengan kata halal itu. "Mulai lagi yaa...." Ia kembali menggoda dengan tatapannya yang membuat Zenwa hilang akal dan pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah.
Keduanya kembali menutup mata, dan perlahan wajahnya kedua mendekat dengan bibir yang terbuka dan jantung yang kembali berdebar, jarak mereka begitu dekat, hanya sebentar lagi, sedikit lagi bibir kedua insan itu menyatu namun tiba-tiba....
__ADS_1
"Mickey...."
Sontak, Micheal dan Zenwa langsung menarik diri, menciptakan jarak yang lebar. Micheal berdecak kesal saat mendengar suara sang ayah yang memanggilnya. Sementara Zenwa hanya bisa menunduk malu sambil meremas jari jemarinya dengan gugup.
"Mickey, kamu sudah tidur?" Micheal kembali berdecak mendengar suara bariton ayahnya itu.
"Mungkin ada yang mau Daddy bicarakan," tukas Zenwa.
"Ck, masak di saat seperti ini...." Micheal menggerutu kesal.
"Mungkin penting, coba tanya dulu." saran Zenwa yang membuat Micheal merengut kesal, ia pun turun dari ranjang, berjalan menghentakan kaki membuka pintu.
"Apa sih, Dad?"
Tbc...
......***Mau crazy up?......
__ADS_1
...Jangan lupa like, comment, vote gift, ya. 😘***...