Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 130 - Tuan Posesif


__ADS_3

Yang hadir ke acara ulang tahun Ummi Arsyad adalah para guru Tk dan juga semua karyawan restaurant Arsyad. Makanan yang di sajikan juga menu terbaik dari restaurant Arsyad.


Zenwa tampak sangat menikmati ikan panggang yang di sajikan, bahkan ia terus nambah dan itu membuat Micheal bingung, karena tak biasanya Zenwa makan sebanyak ini.


"Kamu kelaparan atau apa, Sayang?" Tanya Micheal dengan kening yang berkerut.


"Ikannya enak, Sayang. Mau coba?" Zenwa menyuapi Micheal.


"Biasa saja," kata Micheal yang membuat Zenwa mencebikan bibirnya.


"Coba sama sambel mangganya, wih, enak banget," kata Zenwa antusias dan ia memakan sambel yang di berikan irisan mangga muda itu. Micheal hanya bisa meringis.


Tak lama kamudian Arsyad datang dan ia duduk di kursi di samping Zenwa, ia juga membawa piring yang berisi nasi dan ikan goreng yang masih panas. Zenwa menatap ikan itu penuh minat, Arsyad yang menyadari hal itu langsung menyodorkan piringnya pada Zenwa.


"Bu Zenwa mau?" Tanyanya dan seketika mata Zenwa berbinar dan ia mengangguk antusias, Miheal yang melihat itu langsung mengerutkan keningnya, alisnya terangkat dan hampir menyatu, menandakan dia kesal dengan kelakuan Zenwa.


"Tidak usah," sambung Micheal. "Zenwa sudah makan sangat banyak, nanti sakit perut." lanjutnya yang membuat Zenwa langsung cemberut sementara Arsyad hanya mengedikan bahu, karena ia tahu Micheal selalu cemburu padanya.


Micheal menarik tangan Zenwa dan membacanya untuk cuci tangan, sementara tamu yang lain masih menikmati hidangan yang di sajikan.


"Padahal aku masih mau ikan sama sambalnya lho, Sayang. Enak," gerutu Zenwa sembari memperhatikan Micheal yang mencucikan tangannya.


"Nanti kamu sakit perut, besok aja lagi," jawab Micheal. "Lagian pak kepala sekolah itu kenapa sih harus duduk di samping kamu? Masak dia duduk di samping istri orang, nawarin ikan lagi." Zenwa melongo mendengar gerutuan suaminya yang kini mengeringkan tangan Zenwa dengan tissue.

__ADS_1


"Kan kursinya memang penuh, Sayang. Di samping aku saja yang kosong."


"Dia bisa bertukar dengan Umminya, kan? Umminya suruh di samping kamu dan dia duduk di tempat Umminya."


"Kamu cemburu, ya? Hem?" Goda Zenwa sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Bukan cemburu juga sih," sangkal Micheal kemudian ia merangkul istrinya itu dan membawanya kembali ke meja makan.


Micheal meminta Zenwa bertukar kursi dengannya sehingga kini ia yang duduk berdampingan dengan Arsyad.


Beberapa orang juga sudah selesai makan dan kini mereka menikmati cemilan yang ada, begitu juga dengan Zenwa.


Mereka semua saling membicarakan banyak hal, begitu juga dengan Raisa yang ternyata tinggal bersama Arsyad setelah Javeed di penjara.


Sementara Micheal, ia seperti wasit yang sejak tadi mengawasi gerak-gerak istrinya dan juga Arsyad, dan sejak tadi, ia terus menggenggam tangan kiri Zenwa tanpa mau di lepas.


Raisa dan Ummi Arsyad juga mengobrol banyak hal dengan Zenwa, mereka mengagumi sosok Zenwa yang sedikitpun tidak menaruh kebencian dan dendam pada Javeed apalagi pada Raisa. Raisa juga memuji Zeda Firdaus karena menurutnya, berbagai sifat mulia di miliki olehnya, dan ia sangat yakin anak-anak Firda akan memiliki sifat yang sama seperti ibunya.


"Benar sih, Tante. Aira memiliki sifat yang seperti itu," kata Zenwa.


"Gadis bercadar itu?" Tanya Arsyad antusias dan pancaran matanya seolah mengatakan sesuatu saat Zenwa menyebut nama Aira.


"Iya, dia suka berkuda dan memanah," jawab Zenwa.

__ADS_1


"Hah? Anak gadis suka berkuda dan memanah?" tanya Ummi Arsyad.


"Iya, Tante. Dia juga anak yang sholehah," jawab Zenwa.


"Apa dia sudah memiliki pasangan?" Tanya Ummi Arsyad.


"Belum," jawab Micheal dengan cepat. "Dia masih belajar dan kami ingin membiarkan dia menjalani masa mudanya dulu, mengejar cita-citanya dan melakukan hobinya." lanjutnya.


"Hem, biasanya orang desa itu di jodohkan," ucap Arsyad dan Micheal menatap Arsyad dengan curiga.


"Tidak semuanya," kata Micheal mencoba tenang. Kemudian ia melirik arlojinya dan menarik napas panjang.


"Baiklah, ini sudah malam. sepertinya aku dan Zenwa sudah harus pulang," ucapnya sembari beranjak dari kursinya.


Micheal bersalaman dengan Arsyad sementara Zenwa bersalaman dan berpelukan dengan Ummi Arsyad.


"Terima kasih sudah datang," kata Ummi Arsyad.


"Kami yang terima kasih karena sudah di undang, Tante," tukas Zenwa.


"Ayo, Sayang...." Micheal merangkul pinggang Zenwa dengan posesif dan keduanya pergi dari rumah Arsyad.


"Aku rasa Micheal tipe orang yang sangat posesif, sejak tadi dia merangkul Zenwa, memegang tangannya tanpa mau di lepas," kata Ummi Arsyad setelah Micheal dan Zenwa sudah tak terlihat.

__ADS_1


"Persis seperti ayahnya," sambung Raisa. "Mereka adalah tuan posesif pada apapun yang menjadi milik mereka."


__ADS_2