
"Obat siapa ini?" gumam Ummi Zainab sembari memperhatikan obat itu , ia mencoba membaca namanya namun itu tertulis dalam bahasa Inggris yang tidak dia fahami.
"Assalamualaikum," terdengar ucapan salam dari luar yang membuat Ummi Zainab terkejut, ia pun mengembalikan obat itu dan segera membuka pintu dan ternyata yang datang adalah kedua orang tuanya yang tinggal di desa tetangga.
"Waalaikum salam..."
"Ibu, Bapak, tumben pagi-pagi datang kesini," kata Ummi Zainab sembari membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan kedua orangtuanya masuk.
"Ibu mau memjemput Arini, dimana dia?" tanya Ibunya.
"Ya Allah, dari pada kalian selalu menjemput Arini setiap dua minggu sekali, kenapa kalian tidak meminta Arini tinggal bersama kalian saja?" tanya Ummi Zainab karena tidak mungkin orang tuanya yang pindah ke desa mereka di karenakan mereka punya pekerbunan di sana, dan mereka juga merupakan tetua di desa itu.
"Dia tidak mau," jawab Bapak.
"Oh ya, hari ini orang tua Micheal yang dari Jakarta mau menemui Zenwa, apa kalian mau menemaninya?" tanya Ummi Zainab. Bapak dan Ibunya itu saling memandang, mereka datang untuk membawa Arini kerumah sakit seperti biasa.
"Lain kali saja," jawab Ibu kemudian "Hari ini Bapak mau cek kolesterolnya, katanya bapak merasa pusing." lanjutnya yang terpaksa berbohong.
"Oma, Opa!" seru Zenwa yang baru keluar dari kamarnya. Zenwa pun langsung mencium tangan Oma Opanya itu.
"Kalian mau menginap?" tanya Zenwa antusias.
"Lain kali saja ya, Zen. Oma mau menjemput Arini," ujar Omanya yang membuat Zenwa langsung cemberut.
"Kata Ummi dan Abi, setiap dua minggu sekali Kak Arin akan menginap di rumah Oma Opa, kenapa kalian tidak pindah kesini saja? Biar kita sama-sama," tukas Zenwa.
"Terus siapa yang mengurus perkebunan Oma dan Opa di sana?" tanya Opanya sambil mengusap kepala Zenwa dengan sayang "Oh ya, bagaimana? Zenwa sudah memutuskan untuk menerima Micheal?" tanya Opanya dengan tatapan yang begitu dalam.
"Entahlah, Zenwa bingung." Zenwa menjawab dengan tatapan yang sendu.
"Terima saja, Nak. Dia pria yang sangat baik, latar belakang keluarganya juga sudah tidak perlu di ragukan lagi." bujuk Omanya yang seolah setengah mendesak Zenwa.
"Aku juga sudah bilang begitu, Bu." sambung Ummi Zainab "Kapan lagi kita bisa menjadi bagian dari keluarga yang memiliki nasab yang mulai."
__ADS_1
Zenwa tak bisa menjawab, ia hanya bisa menunduk hingga akhirnya Opanya menyentuh pundak Zenwa dengan lembut.
"Sayang, apalagi yang perlu cari? Seorang pria yang soleh datang meminangmu pada orangtuamu, apakah masih ada yang di ragukan?" tanyanya.
"Tapi Kak Arin?"
"Kakak kenapa, Dek?" tanya Arin yang tiba-tiba muncul dari belakangnya "Bukannya sudah kakak bilang, kami hanya teman, kami tidak pernah memulai hubungan asmara." pandangan Arin tertuju pada obat yang ada di meja, ia pun segera menyambarnya dan memasukan ke dalam saku gamisnya.
"Terus kenapa Kak Arin sedih malam itu? Bahkan Kak Arin menangis?"
"Jangan ngaco kamu, mana ada Kakak menangis," kata Arin "Oh ya, sebentar lagi Micheal datang mau menjemput kamu, kamu siap-siap gih," ujarnya yang ingin mengalihkan pembicaraan.
"Tapi, Kak..."
"Zenwa, ayolah! Jangan biarkan Micheal menunggu." tegas sang Ummi dan dengan Zenwa bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Sementara Ummi Zainab kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya.
"Kamu sudah siap, Nak?" tanya sang Oma dan Arin mengangguk sambil tersenyum masam.
"Ada apa, Ummi?" tanya Arin.
"Tadi malam Abi membeli roti, kamu makan gih, kamu makin hari makin kurus begitu. Apa kamu diet?" Arin terkekeh mendengar pertanyaan Ibunya yang setiap hari mengomentari berat badannya yang memang turun.
"Iya, Ummi." Arin mengambil roti yang ada di meja dan ia memakannya dengan lahap, bukan karena lapar, tapi hanya untuk membuat Umminya senang.
"Kadang-kadang Ummi curiga kalau sebenarnya kamu itu sakit, Rin," tukas Umminya yang membuat Arini langsung berhenti mengunyah.
"Kenapa Ummi berfikir begitu? Aku sehat," ucap Arin.
"Sejak tiga tahun terakhir, kamu lebih sering tinggal sama Ibu dan Bapak, kamu juga lebih kurus, lebih pucat."
"Aku kan cuma kasian Opa Oma, di sana tinggal sendirian. Jadi aku hanya ingin membagi waktu saja," kata Arini dengan tenang.
__ADS_1
"Benar juga sih," jawab Ummi Zainab yang membuat Arin hanya tersenyum, Arin pun membantu ibunya itu memasak setelah ia menghabiskan dua potong roti. Sambil memasak, keduanya membicaran Zenwa dan Micheal, Ummi Zainab sangat memimpikan menantu seperti Micheal katanya.
"Padahal Ummi berfikir dia akan meminangmu lho, Rin," ujar Ibunya yang membuat Arini tersenyum tipis.
"Kami tidak pernah berfikir kesana, Ummi," jawab Arini.
"Memangnya kamu tidak apa-apa kalau di langkahi adikmu untuk menikah?" tanyanya lagi.
"Ya tidak apa-apa, Ummi. Namanya juga jodoh, datangnya tidak terkira."
Tbc...
...............
Iklan
*Mampir sini dulu, gaesss. Sambil menunggu episode selanjutnya yang akan semakin seru.
Judul: Stuck Marriage (Season 1&2)
Karya; Tyatul
Season 1
Rencana menyelamatkan diri dari musuh keluarganya membuat Ariana Delta terjebak dalam ikatan pernikahan dengan seorang sopir taksi bernama Alex Bara.
Setelah terbiasa hidup bersama membuat benih benih cinta diantara mereka tumbuh.
Ariana dan Alex memiliki rahasia yang tak diketahui masing masing. Hingga kebenaran terungkap, apakah keduanya tetap bisa saling mencintai?
Season 2
Menceritakan kisah anak pertama Ariana dan Alex siapa lagi kalau bukan Albian Ivander Bara dengan segala pesonanya.
__ADS_1
Penasaran? Cus, langsung cek. Sampaikan salam Sky sama si penulis yak. 😘*