
"Semoga saja rencana Ibu sama Bapak berhasil untuk mendekatkan Zenwa dan Micheal," ucap Ummi Zainab sembari menggoreng ikan. "Sebenarnya aku khawatir, Zenwa itu tidak tahu pasar." lanjutnya.
"Kamu sih, malah biarin mereka saling cuek begitu. Mereka itu butuh bantuan orang lain untuk saling mendekatkan diri, dan Zenwa itu sudah menjadi istri, dia harus tahu pasar." Omanya berkata sembari menikmati sepotong roti, hal kecil itu justru mengingatkan Ummi Zainab pada Arini saat ia meminta Arini banyak makan karena Arini terlihat kurus. Nafas Ummi Zainab langsung tercekat di tenggorokannya, sekarang ia mengerti kenapa Arini selalu terlihat pucat dan semakin hari semakin kurus.
"Kamu kenapa? Sakit kepala beneran?" tanya Oma yang melihat Ummi Zainab melamun.
" Aku merasa gagal jadi Ibu untuk Arini, Bu. Bagaimana bisa dia sakit separah itu dan aku tidak tahu?" lirih Ummi Zainab dan kembali kedua matanya terasa panas dan berkaca-kaca. Oma yang mendengar hal itu seketika kembali merasa bersalah, karena ia membantu Arini menyembunyikan rahasia besar itu.
"Bukan kamu yang gagal, Zainab. Ini hanya keinginan Arini yang tidak mau kamu dan Hamka hidup dengan ketakutan dan kesedihan karena apa yang dia derita selama ini, dia selalu takut kamu cemas dan khawatir padanya."
"Tapi jika kami tahu, kami bisa mengobatinya, Bu."
"Kami pun mengobatinya, Zainab. Tapi inilah takdirnya. Karena itu, sekarang kita seharusnya fokus pada Zenwa, karena hanya dia tuan puteri kita sekarang. Selain itu, Arini sangat mencintai Zenwa dan juga Micheal, dia ingin kedua orang itu bahagia."
.........
Di pasar, Zenwa seperti orang linglung, ia menatap para penjual yang menjajakan dagangannya, kemudian ia menatap kertas yang berisi daftar belanjaannya. Sementara Micheal, ia hanya berdiri di belakang Zenwa sembari menikmati pentol daging yang ia beli saat jalan masuk tadi, dan ia meminta uang pada Zenwa yang membuat Zenwa mendengus.
"Aku harus belanja dari mana?" tanya Zenwa bingung namun Micheal hanya mengedikan bahu.
__ADS_1
"Ya sudah, kita beli ikan dulu ya," ujarnya dan Micheal hanya mengangguk patuh.
Mereka pun pergi ke tempat penjual ikan, dan secara asal, Zenwa memilih ikan yang terlihat berwarna cerah di matanya tanpa memikirkan jenis ikan apa yang ia beli dan berapa harganya, dan karena di rumah ada 6 orang, Zenwa membeli 6 ekor ikan yang berukuran cukup besar.
"Apa tidak kebanyakan?" tanya Micheal heran.
"Aku rasa cukup," kata Zenwa yakin.
Setelah membeli ikan, mereka mencari daging ayam, sapi, kemudian di lanjutkan dengan sayuran.
Namun saat hendak membayar sayur, Zenwa tercengang karena ternyata duitnya sudah habis.
"Tadi bayar ikan 150, terus beli daging sapi 200 ribu, beli ayam, 140 ribu, beli pentol ku 10 ribu" tutur Micheal yang membuat Zee tercengang.
"Kamu tidak punya uang?" tanya Zenwa kemudian sambil meringis.
"Aku tidak bawa dompet," jawab Micheal dengan santainya yang membuat Zenwa mendelik.
"Kamu sih, malah sibuk jajan..." gerutu Zenwa.
__ADS_1
"Jadi bagaimana, Neng? Jadi beli sayurnya?" tanya Bibi penjual yang membuat Zenwa meringis.
"Maaf ya, Bi. Uangnya habis," kata Zenwa dengan jujur yang membuat penjual itu mendengus karena sayur yang di inginkan Zenwa sudah di masukan ke dalam plastik.
"Niat belanja atau tidak sih? Nambahin kerjaan saja." gerutunya yang membuat Zenwa merasa malu.
Meraka berdua pun segera pergi dari sana, Zenwa cemberut sementara Micheal hanya terkekeh.
"Ini bukan salahmu, lagian uang 500 ribu cukup buat apa?" tanya Micheal.
"Mungkin tadi seharusnya aku beli sedikit saja kali ya, biasanya Ummi ke pasar dua hari sekali." gumam Zenwa.
"Benar, itu ikan 6 ekor juga buat apa? Kalau kelamaan freezer udah engga enak," ucapnya.
"Tahu ah..." kesal Zenwa yang membuat Micheal terkekeh.
"Sudah, jangan cemberut. Suamimu ini anak orang kaya, nanti kita belanja lagi, kalau kamu mau beli pasar ini juga Daddy mampu."
Tbc...
__ADS_1