
Seperti biasa, Zenwa terbangun di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat tahajud, ia mengerang lirih sembari menggeliat malas.
"Astagfirullah, aku ketiduran di mobil..." gumam Zenwa sembari menatap ke sekeliling kamarnya, ia menunduk dan mendapati pakaiannya masih tak berganti, namun cadar dan sepatunya sudah terlepas. Zenwa menoleh, menatap suaminya yang masih terbuai di alam mimpi.
Di bawah cahaya tamaram lampu tidur, Zenwa menikmati ketampanan sang suami, yang entah mengapa tak pudar bahkan saat ia terlelap seperti ini. Seutas senyum tercetak di bibir Zenwa, entah apakah anugerah atau bukan memiliki Micheal sebagai suaminya, namun ia mulai merasa nyaman dengan keberadaan pria itu di sampingnya.
"Aku sangat tampan, ya?" Pupil mata Zenwa melebar saat mendengar ucapan Micheal sementara Micheal masih menutup mata. Zenwa langsung mengalihkan pandangannya ke jam dinding.
"Sudah saatnya sholat," ucap Zenwa sembari merangkak turun dari ranjang.
"Hem, aku masih ngantuk," rengek Micheal, ia berbalik, menarik guling dan memeluknya. "Aku ingin libur sholat malam, sekali saja." lanjutnya yang membuat Zenwa terkekeh.
"Allah tidak pernah libur mendengarkan do'a hamba-Nya di sepertiga malam, padahal Allah tidak butuh do'a kita," tukas Zenwa yang membuat Micheal tersenyum samar. Ia pun beranjak duduk, menggeliat malas, dan menguap.
"Baiklah, Sayang. Kau benar juga!"
.........
__ADS_1
"Jadi, kalian benar-benar akan ke Jakarta?" Tanya Ummi Zainab pada besannya itu. Mereka tidak sengaja bertemu di pasar, dan Mommy Firda pun memberi tahu rencananya yang akan pergi ke Jakarta untuk menunjangi putra dan menantunya.
"Iya, Mbak. Mungkin minggu depan, Mbak mau ikut?" Tanya Firda.
"Iya, tentu saja aku mau ikut, Ning Firda. Aku juga sudah sangat merindukan Zenwa," jawab Ummi Zainab antusias. "Oh ya, Ning Firda mau membeli apa? Ke pasar sama siapa?"
"Aku sama bang Gabriel, Mbak. Dia mau sop daging katanya sementara persediaan daging di rumah sudah habis. Tapi sekarang tuh orang malah sibuk cari pentol daging," tutur Mommy Firda yang membuat besannya itu tertawa geli.
"Jadi ingat sama Micheal, dulu aku menyuruh dia belanja sama Zenwa, uangnya tidak cukup karena mereka berdua tidak pernah ke pasar, dan Micheal juga membeli pentol daging katanya."
"Sayang..." Mommy Firda menoleh saat mendengar suara bass sang suami. "Pentol yang ini tidak enak, yang jualan orang lain," kata Daddy Gabriel saat ia sudah berada di samping sang istri.
"Tidak enak bagaimana? Coba..." Daddy Gabriel menyuapi istrinya itu. "Masih enak kok, apanya yang tidak enak?" Tanyanya.
"Kurang enak, lebih enak pentol langgananku itu," jawabnya.
"Ya sudah, mungkin sekarang langgananmu itu lagi ada halangan," balas Mommy Firda, sementara Ummi Zainab hanya bisa menyaksikan obrolan sepasang suami istri itu sambil tersenyum geli, dan ia merasa sikap Micheal menurun dari ayahnya.
__ADS_1
.........
"Aku mau jadi donatur di sekolah TK itu, dan aku juga mau, kamu tidak perlu meminta gaji pada mereka, bagaimana?" Tanya Micheal setelah ia menceritakan tentang sekolah TK Arsyad yang tidak memungut biaya apapun dari para muridnya.
"Baiklah, itu tidak masalah. Lagi pula suamiku kaya, bisa menafkahiku," goda Zenwa yang membuat Micheal terkekeh.
"Tapi, aku mau pakai identitas tersembunyi. Aku tidak mau ada yang tahu kalau aku donatur di TK itu," ujar Micheal.
"Kenapa?" tanya Zenwa heran.
"Karena, dulu pernah kejadian, Daddy jadi donatur terbesar di salah satu rumah sakit, kemudian salah satu musuh Daddy justru mengejar pemilik rumah sakit itu karena ada transaksi antara dia dan Gabriel Emerson, untung saja Om Billy dan Om Gio berhasil menyelamatkan orang itu."
"Nama itu sangat berbahaya, ya? Apa tidak sebaiknya ayah mertua mengganti nama belakangnya?"
"Aku pernah menawarkan hal yang sama, tapi itu akan percuma, karena yang namanya musuh, pasti akan mencari tahu sampai ke akar-akarnya."
Tbc...
__ADS_1