
Seperti saat ini, di kamar Finny merengek pada Damar.
" Mas, ingat gak dulu aku punya keinginan sama Hafizah?" Damar mengerutkan dahinya.
" Apalagi sih Mi, Allah bahkan sudah mengabulkan keinginan kamu. Di akhir nafasnya Hafizah mempercayakan kamu merawat Navya. Semua itu atas izin Allah kan?!" Damar tau ada sesuatu yang Finny inginkan lagi perihal hubungan Dafin dan Navya .
" Kan gak apa-apa kalo kita coba Pi.." Masih berusaha merayu dengan senyum jahilnya.
" Sayang, itu gak akan baik untuk mereka. Mungkin saja Navya sudah punya pacar, atau bahkan juga Dafin sudah memiliki calon hanya saja belum dia kenalkan pada kita." Damar memberi pengertian pada istrinya.
Finny diam, berfikir sejenak. " Tapi selama ini mereka belum pernah sekalipun membawa siapapun untuk dikenalkan ke kita. Yang statusnya TTM aja g ada Lo Pi. " Masih kekeuh dengan rencananya.
" Udah deh, biar Mami aja yang urus. Papi tenang aja." ujarnya sambil mengedipkan mata kepada Damar.
Damar menghela nafasnya pasrah. Istrinya ini memang kalau sudah berniat melakukan sesuatu pasti harus terlaksana. Memang keras kepala.
Ya, Finny memang keras kepala. Bahkan hal ternekat yang pernah dia lakukan adalah menikahi Damar walaupun tidak mendapatkan restu dari orang tuanya terutama sang Ayah. Rela meninggalkan keluarga hanya untuk bersama Damar. Keyakinannya atas ketulusan Damar memberikannya kekuatan untuk terus bertahan di sampingnya. Bukan dia tidak pernah rindu atau memikirkan kedua orangtuanya, hanya saja dia takut bertemu Ayahnya, Sultan Mahendra. Bahkan Damar sudah sering mengajaknya untuk bertemu orangtuanya untuk menunjukkan rasa tanggung jawabnya. Namun Finny tetap menolak. Setiap Damar membahas itu, dia akan mengurung dirinya di kamar, tidak mau makan. Maka damar akan mengalah padanya. Sungguh di dalam hatinya Finny sangat merindukan mereka, tapi rasa takut, malu, ego dan keras kepala mengalahkan rasa rindunya. Namun dibalik semua itu, Finny merupakan wanita yang baik, perhatian dan penuh kasih sayang. Itu yang membuat Damar sangat mencintai dia, bahkan keluarga Damar pun menyayangi Finny dengan tulus.
***
Sudah seminggu Dafin pulang, saatnya Damar mengadakan penyambutan dan mengumumkan Dafin sebagai calon Pemimpin Perusahaan yang baru. Maka hari ini Dafin akan ikut Damar ke Perusahaan.
Sementara sikapnya pada Navya masih saja dingin. Navya sangat bersyukur di saat Dafin pulang Navya sudah sibuk bekerja, jadi intensitas pertemuannya dan Dafin sangat sedikit. Apalagi Dafin akan bekerja di Perusahaan Damar, jadi mereka sama-sama sibuk. Bahkan saat sarapan, Vya memilih menyantap makanannya duluan dengan alasan buru-buru berangkat karena takut terlambat. Dengan begitu dia tidak akan mendapati sikap Dafin yang cuek terhadapnya yang mungkin saja akan merusak moodnya.
" Navya sudah berangkat Sayang?". Tanya Damar seraya mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.
" Udah Pi, Karena nanti malam acara penyambutan Dafin jadi dia mau izin pulang cepat ke Bos nya. Karena dia gak mau cuti, gak enak sama temen-temen nya" Menjelaskan pada suaminya sambil menuangkan nasi goreng ke piring Damar dan Dafin. Lalu dia juga ikut duduk dan sarapan.
__ADS_1
" Hmmm.." Damar mengangguk. "Bener juga, Vya kan pegawai baru gak bisa seenaknya cuti."
" Dafin.." Finny memulai misinya sekarang.
Si empunya nama mendongak demi melihat sang Ibu sambil terus mengunyah sarapannya.
" Kapan sih kamu kenalin mami sama pacar kamu ? Kamu kan sebentar lagi jadi Direktur, masa direktur jomblo." Ujarnya santai. Dafin tersedak mendengar ucapan maminya. Sementara Papinya terkekeh pelan.
" Apaan sih mi, aku males bahas ini." Tegas dia menjawab.
" Apa yang salah, temen-temen arisan mami ada yang sudah punya 2 atau 3 cucu. Sementara mami, calon mantu aja belum ada. Kalau Kamu belum punya pacar, mau ya mami jodohin!." Dia masih semangat dengan rencananya.
Dafin menutup mata, menghela nafas perlahan mencoba menahan emosi nya. " Mi..."
" Ya udah sih kalo kamu ga mau. Hidup kamu yang jalanin kamu ini. Nanti kalo mami udah gak ada baru bingung gak ada yang ngurusin." Lalu melanjutkan makannya tanpa bersuara lagi.
" Ehhemm.. Waah Papi kenyang banget. Nasi goreng mami emang the best."
" Ni Ana yang masak" Jawabnya datar. Masih fokus ke piringnya.
" Mi, Aku minta maaf. Bukan maksud aku bikin Mami sedih, Aku cuma..."
Dafin bahkan belum selesai bicara tapi Finny bicara lagi " Memang kamu memang gak pernah setuju dengan keputusan Mami." Nadanya berubah sedih. Lalu dia beranjak dari meja makan dan masuk ke kamarnya.
Dafin tidak tau harus bagaimana. Damar mengusap punggung Dafin, menenangkan anaknya. Mereka menyusul Finny ke kamar. Wanita paruh baya yang kecantikan wajahnya masih terpelihara itu sedang duduk di tepi ranjang sambil memandang keluar jendela.
Dafin datang berjongkok didepan sang ibu, menggenggam tangannya. Seakan memberitahu kalau dia sangat menyayangi Wanita cinta pertamanya itu. " Mi, Aku minta maaf. Apapun yang menurut Mami baik buat aku, aku akan menuruti kemauan Mami. " Seketika Finny memandang sang anak setelah mendengar ucapannya. "Tapi tolong jangan sedih lagi, jangan diam saja seperti ini. Okee!?"
__ADS_1
Tanpa berkata-kata lagi, Finny memeluk putranya dengan bahagia. " Kamu benar-benar mau menuruti keinginan Mami Nak ?"
Dafin mengangguk masih diperlukan ibunya.
" Oke, kalau begitu malam acara penyambutan kamu nanti Mami akan umumkan pertunangan kamu dengan Navya." Ucapnya lagi masih memeluk Dafin.
"Navya ?? Kenapa wanita itu ? Apa ini salah satu rencananya untuk menguasai keluargaku. Dia bahkan sudah merebut kasih sayang kedua orang tuaku, seenaknya masuk ke dalam keluarga ku, dan sekarang dia berusaha untuk menghancurkan hidupku juga. " Dafin memejamkan matanya, tidak ingin sang ibu tau bahwa dia sedang menahan amarahnya pada Navya.
" Kenapa kamu diam saja Sayang?" Mengurai pelukannya karena Dafin hanya diam.
" Gak apa-apa Mi, Mami atur aja. " Ucapnya tersenyum (palsu). " Asalkan Mami dan Papi bahagia."
Damar pun ikut senang mendengar ucapan anaknya, dia menepuk bahu Dafin bangga.
Tapi dalam hatinya, kebenciannya pada Navya bertambah besar. "Selama 20 tahun ini kau sudah senang dan hidup enak, tapi di sisa hidupmu aku akan membuatmu tersiksa, Kau akan membayar semua rencana licikmu. Bisa-bisanya membujuk orang tuaku untuk menikahkannya denganku."
Penolakan Dafin pada Navya dulu hanya sementara, hari-hari berikutnya dia mulai terbiasa dengan hadirnya Navya. Mulai bisa menerima Navya, menganggapnya sebagai seorang adik dan berusaha menyayanginya. Rasa bencinya pada Navya tumbuh pada saat Navya mulai masuk sekolah, perhatian Finny terasa lebih condong ke Navya, sedikit-sedikit Navya, kasihan Navya, takut terjadi apa-apa pada Navya, Navya tidak boleh menangis dan segalanya Navya itulah yang Dafin rasakan. Dia berfikir bahwa Navya mulai merebut perhatian orangtuanya. Bahkan keluarga besarnya juga menyayangi Navya. Tidak lagi Dafin si anak kesayangan. Mulai saat itu dia tidak suka melihat Navya, dan apapun yang Navya lakukan.
Setelah drama pagi yang dibuat Finny berkahir dengan keputusan pertunangan sang anak, Dafin dan Damar berangkat ke kantor, namun bukan untuk bekerja. Hari ini mereka hanya akan mengadakan rapat dengan petinggi perusahaan yang lain mengenai diangkatnya Dafin sebagai Direktur yang baru dan hal lain menyangkut sebagian saham perusahaan yang akan dialihkan atas nama Dafin. Di setiap kegiatan yang dia lakukan dengan Papinya, Dafin sedang merencanakan semua penderitaan dalam kehidupan Navya.
Bersambung
Haiii semuanya, para pecinta Novel. Ini novel perdanaku, maaf kalau banyak typo di penulisannya atau alur yang masih berantakan. Mohon dukungannya, jangan lupa like dan tinggalkan komentar, kritik dan saran yang membangun tapi bahasa yang sopan ya 🙏🙏🙏
Biar makin semangat melanjutkan kisah Navya, Alvi dan Dafin 🤗🤗
Terimakasih Banyak yang sudah mampir, kalau suka jadiin favorit yaa ❤️❤️❤️🥰🥰🥰
__ADS_1