Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Hubungan Papi Damar dan Kakek


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Navya berangkat bersama Elma. Kondisinya sudah lebih baik. Mengalah saat Alvi melarangnya pergi ke kampus. Padahal dia merasa dirinya baik-baik saja. Tapi Alvi tidak mau mengambil resiko. Dia tidak mau sampai Navya tidak jadi datang ke acaranya.


"Waa senangnya... akhirnya bisa kembali." Elma tersenyum lega ketika pesawat pribadi milik Alvi mendarat dengan selamat. Navya hanya tersenyum menanggapi.


Navya yang malah merasa semakin sesak. Besok siang adalah acaranya, bisakah dia bersikap biasa saja. Melihat kebahagiaan orang yang ia sukai.


Haaaah... Entahlah... Aku sudah coba menyiapkan hati, apakah bisa...


Elma menyentuh bahunya, menyadarkan Navya bahwa mereka sudah boleh turun.


"Hehe.. maaf kak. Aku melamun ya."


"Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin apapun yang terjadi, itu adalah yang terbaik untuk kalian." Elma meyakinkan Navya dengan keputusannya.


Mereka dijemput oleh Dafin dan Hana, dengan Finny juga tentunya. Antusias sel dia saat Alvi mengatakan bahwa Navya akan datang di peresmian hotel dan resort milik Mahendra Group.


"Anak kesayangan Mami." Heboh sekali Finny, dia memeluk Navya bahkan saat mereka masih di bandara.


"Kak, kenapa malah jalan ke sini. Nanti kakak lelah bagaimana?" Beralih memeluk Hana.


"Haha tidak apa-apa. Aku yang mau ikut, kayaknya dia gak sabar mau ketemu sama tantenya." Sambil menunjuk perutnya yang sudah terlihat membuncit.


"Waaa... anak baik. Sehat-sehat ya sayang di perut ibu. Nanti kalau udah lahir, Tante ajak jalan-jalan." Mengusap perut Hana dengan lembut. Mereka semua tersenyum melihat Navya yang membuat suara lucu dan berbicara dengan calon bayi di perut Hana. Sementara Dafin mengusap rambutnya saat Navya menghampiri dirinya. Navya memperkenalkan Elma pada mereka semua.


"Terimakasih ya El, kamu sudah menjaga dan menemani Navya selama ini." Tulus Finny bertemu pada Elma.


"Itu sudah tugas saya Tante."


Pagi itu mereka pulang dulu ke kediaman Wijaya, setelah makan siang mereka bertolak ke Hotel yang akan di resmikan.


***


Navya terus melihat handphonenya. Sejak kemarin dia turun dari pesawat, Alvi Belum pernah menghubungi dirinya sama sekali. Tadi malam dia mendengar dari Mami bahwa Alvi sudah tiba di resort. Tapi Navya bahkan tidak berani menghubungi Alvi duluan.


Kan tidak mungkin aku menghubungi dia duluan. Tapi untuk apa juga dia menghubungi aku kan, dia pasti sangat sibuk dengan acara kejutan untuk calon istrinya. Tapi kan setidaknya dia bisa bertanya apa aku sudah sampai dengan selamat. Apa ini tidak keterlaluan namanya.


Ekspresi wajahnya berubah-ubah sambil melihat handphone di tangan nya. Sebentar sedih, sebentar kesal, sebentar cemas.


Dia sudah selesai dirias. walaupun tadi sempat ada bunyi protes dari nya.


"Tidak perlu kan sampai di rias begini, ini kan hanya acara pesta peresmian hotel Mas Alvi."


Tapi tidak ada yang menanggapi protes yang ia keluarkan, bahkan penata rias sekalipun. Dan Navya merasa de Javu. Sepertinya pernah mengalami hal seperti ini. Tapi dia tidak berfikir banyak, yang ia pikirkan hanya dia merasa kehilangan Alvi saat ini. Alvi sudah jelas-jelas tidak lagi peduli padanya. Tapi dia tidak mungkin marah, atau mengungkit janji pria itu yang mengatakan dia akan selalu menunggu dan menjaga Navya.


Dia tersentak saat Dafin duduk di sebelahnya. Mereka sedang menunggu Elma, Mami dan Hana.

__ADS_1


"Sudah cantik tapi manyun." Navya tersenyum sekenanya. Dia sudah biasa saja sekarang saat berhadapan dengan Dafin.


"Bagaimana perasaan kamu?"


"Maksud Mas Dafin?" Heran, kemana arah pembicaraan Dafin.


"Aku tau, acara ini bukan hanya acara peresmian. Tapi juga Alvi akan melamar gadis pilihan nya. Jadi bagaimana dengan kamu?"


Menarik nafasnya berat dan menghembuskan perlahan. "Vya akan baik-baik saja kok Mas. Mungkin ada takdir lain yang sedang menunggu." Mencoba menampilkan senyum secerah mentari di depan Dafin.


"Kenapa kamu tidak langsung menerima dia setelah kita berpisah? Kamu jelas tau dia sangat mencintai kamu, dia adalah laki-laki yang sempurna untuk kamu."


"Tidak segampang itu Mas, dulu Vya pikir tidak adil untuk mAs Alvi kalau Vya menerima dia hanya karena kebaikannya. Vya harus mencintai dia, baru bisa percaya diri untuk ada di sampingnya. Tapi hati ini masih takut, takut kalau belum bisa benar-benar menjatuhkan hati padanya. Nantinya pasti akan membuat dia kecewa."


"Lantas sekarang? Dia lelah menunggu kamu dan berpaling."


"Mungkin begitu." Jawabnya pasrah.


"Rasanya aku ingin menonjok wajahnya sekarang, dulu ia bilang akan selalu sabar, akan selalu menjaga kamu, dia selalu ingin menunjukkan dia yang paling terbaik untuk kamu. Tapi masih beberapa bulan saja, sudah berpindah ke lain hati."


Navya tersenyum. Kenapa jadi Dafin yang kesal sekarang. "Tidak apa-apa Mas. Mungkin memang kamu belum berjodoh."


"Heeemmm... Ya sudah, kamu sabar saja. Kamu pasti akan mendapatkan seseorang yang tulus mencintaimu."


"Iya Mas, semoga, terimakasih ya Mas."


"Baju kakak cantik sekali...." Puji Navya yang membuat Elma malah jadi kikuk.


"Ehmmm iya, ini pemberian Tanteku."


"Kak, kenapa kakak tidak melepaskan saja kacamata itu? Lebih bagus kalau memakai softlens." Navya mendekat dan ingin melepaskan kacamata Elma. Sudah berdandan, dengan riasan yang sederhana. Tapi kacamata masih bertengger di hidung mancungnya, yang menurut Navya mengganggu penampilannya.


"Ah, ini. Tidak apa-apa. Aku lebih nyaman dengan kacamata ini." Dia langsung mencegah tangan Navya yang mau melepaskan kacamata nya.


"Ayo kita berangkat." Finny sudah keluar bersama Hana si sampingnya. Dafin langsung menghampiri istrinya untuk menggandeng tangannya berjalan.


Perhatian Navya langsung teralihkan ketika melihat Dafin yang dengan sigap menuntun Hana. Mereka sangat bahagia. Navya bersyukur melihat hubungan Dafin dan Hana, memang mereka benar-benar pasangan sejati. Tidak salah dia mengalah demi cinta mereka. Dalam hatinya dia berharap, semoga dia juga mendapat pasangan yang terbaik.


"Ayo..." Elma menepuk bahu Navya.


"Iya kak."


"Papi mana mi?" Navya dan Elma sudah berjalan beriringan menuju ruang tunggu keluarga.


"Papi duluan tadi, katanya tidak sabar menunggu Mami berdandan. Dasar tu si papi." Kan Mami jadi sewot. Navya dan Elma tersenyum lucu mendengar ucapan Finny.

__ADS_1


***


Sementara itu di sebuah ruangan di lantai paling atas gedung resort.


"Apa kamu yakin dengan yang kamu katakan?"


"Iya Om. Kakek benar-benar menyesal walaupun saat itu kakek tidak bermaksud mencelakai om Wisnu. Orang-orang kakek mengikutinya hanya untuk mengetahui dimana alamat om dan Tante yang baru. Tapi mungkin Om Wisnu salah paham, jadi sebisa mungkin dia mencoba menghindari kejaran mereka dan karena panik terjadi lah kecelakaan itu."


"Bukannya Papa mau balas dendam karena dia menyangka aku yang sudah mengakibatkan kematian orangtua kamu." Damar bicara dengan ekspresi wajah sedih, mengingat sahabatnya Syifa dan Indra.


"Tidak om, saya sudah menemukan bukti kalau om tidak bersalah dalam kematian Papa dan Mama, kakek juga sudah tau."


"Darimana kamu tau kalau saya tidak bersalah, dulu saya mencoba menjelaskan padanya tapi malah dia berencana menuntut saya kalau saya berani muncul di hadapannya lagi."


"Om tenang saja, semua sudah saya perjelas pada Kakek." Alvi menoleh pada Ryan di sebelahnya. "Yan, bawa masuk." Ryan menundukkan kepalanya lalu keluar, beberapa saat kemudian dia masuk lagi bersama seseorang yang di kenali oleh Damar. Damar terkejut melihat orang itu yang tangan nya sedang di borgol serta ada dua polisi di kanan dan kirinya.


"Kak Bram." Bramantyo adalah anak angkat dari Tuan Wijaya. Dia sempat diminta Wijaya untuk mendekati Finny dan menghancurkan perusahaan nya, dengan senang hati ia menuruti nya. Tapi dia berusaha untuk melakukan hal yang buruk pada Finny bahkan sebelum mereka menjalin hubungan, hal itu hampir merusak rencana Wijaya. Ternyata dia juga yang membuat usaha Wijaya hampir bangkrut saat itu, karena sudah menggelapkan dana perusahaan. Wijaya lalu mengusir Bram dari perusahaan.


Saat mengetahui Damar menikah dengan Finny dia tidak terima. Lalu mengadu domba keluarga Wijaya dan Mehendra dengan membeberkan semua rencana buruk Wijaya untuk menghancurkan perusahaan Mahendra. Juga soal kematian Indra, Bram lah yang sebenarnya bertanggung jawab. Tapi dia mengatakan Damar yang sudah mencelakai mereka berdua. Dia tidak mau Damar hidup berdamai dengan Keluarga istrinya.


"Saya akan menjebloskan om Bram ke penjara, setelah dia mengakui semua perbuatannya di depan Om Damar dan Kakek."


Kemudian Sultan masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh Bima. Sementara Bram masih tertunduk malu di hadapan mereka. Dengan agak terbata dan wajah takut dia menceritakan semua kejadian yang membuat hubungan antara Sultan dan Damar tidak pernah akur selama bertahun-tahun. Setelah itu dia di bawa oleh polisi untuk menjalani proses hukum.


Damar dan Sultan berpelukan, usai Bima dan Ryan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi antara mereka.


"Maafkan Papi, dulu bukannya papi sendiri yang datang menemui kalian. Malah menyuruh orang lain dan membuat Wisnu dan kamu salah paham. Sumpah kecelakaan itu di luar kendali Papi, Papi sangat bersalah. Bahkan untuk melihat wajah Navya pun Papi tidak sanggup."


"Tidak apa-apa Pi, semua sudah berlalu."


"Tapi Navya?"


"Asalkan kita membungkus semua ini dengan rapi, Navya tidak perlu mengingat kejadian buruk yang menimpa keluarganya. Agar hubungan keluarga kita tidak terpecah lagi."


"Tidak om, Navya harus tau semuanya."


"Tapi Nak, bagaimana jika dia tidak bisa menerima kenyataan. Ini tidak akan baik untuk kalian berdua."


"Om, bagaimana pun kita menyembunyikan keburukan, suatu saat akan terkuak semuanya. Jika Navya tau dari orang lain, akan lebih menyakitkan rasanya.


"Om tau kan, Navya seperti apa. Kita beri tahu sendiri atau dia mengetahui dari orang lain, Navya bukanlah orang yang akan mengedepankan emosinya. Namun dia pasti akan lebih kecewa."


"Kamu benar Al. Navya harus tau dari kita."


"Tapi akan lebih baik kita bicarakan setelah acara ini selesai nanti." Sultan memberi saran.

__ADS_1


"Papi benar, itu adalah pilihan yang tepat."


Bersambung


__ADS_2