Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Mood Kacau


__ADS_3

Malam yang sama di tempat yang berbeda, seseorang masih berdiri di balkon kamarnya. Netra nya menatap lurus pemandangan gelap di depan sana namun pikirannya terisi dengan wajah wanita penghuni hatinya. Meskipun dia menyadari bahwa tidak ada kesempatan lagi untuk harapannya, dia tidak bisa dengan mudah menghilangkan begitu saja. Malam ini pikirannya membuat nya tidak bisa tidur. Bayangan Dafin dan Navya duduk di pelaminan dengan senyum bahagia siang tadi masih membakar hatinya. Menutup pintu balkon, Alvi masuk dan mencoba merebahkan tubuh di ranjang dan memejamkan matanya. Namun bayangan itu terus saja mengganggu nya, apalagi mengingat ini adalah malam pertama Dafin dan Navya. Dia mengusap wajahnya kasar. Mengambil ponsel dan mencari nama Navya di daftar kontak nya.


"Apa aku sudah gila, kenapa aku akan menggangu mereka" Meletakkan benda pipih itu dengan kasar di sebelah nya, dia duduk bersandar. Menarik nafas dalam-dalam, Alvi mencoba menenangkan diri dan hatinya. Dia memilih memainkan ponselnya dan melihat foto-foto Navya yang pernah dia ambil diam-diam. "Kenapa aku tidak bisa menghapus bayangan kamu Navya, harus aku mulai berusaha melupakan mu. Tapi aku tak bisa jauh darimu. Apa yang harus kulakukan!?" Alvi bicara sendiri, terus memikirkan Navya dan akhirnya ia tertidur pada saat hari sudah menjelang pagi.


Pagi ini Alvi terbangun dengan rasa malas yang berkali-kali lipat. Selain karena dia kurang tidur, dia juga tidak bersemangat karena Navya masih cuti. Namun dia tetap harus masuk kantor, hari ini ada meeting mingguan dan ada janji dengan klien saat jam makan siang. Dia sudah rapi dan duduk di kursi meja makan, terlihat sekali wajahnya yang tidak bersemangat.


"Kamu masih ngantuk?" Rima yang sedang melahap makanannya sambil memperhatikan cucunya.


"Al sudah selesai Nek." Bukannya menjawab pertanyaan Rima, dia malah menyudahi sarapannya dan berpamitan pada kakek dan nenek nya. "Al berangkat ya." pamitnya seraya menyalami keduanya dan langsung pergi begitu saja.


"Ada apa dengan anak itu?" Kakek nya bertanya heran pada Rima. Sementara Rima hanya mengedikkan bahunya. "Coba kamu lihat ini." Sultan menunjukkan sebuah foto kepada Rima. "Ini Dafin anak Finny dan istrinya. Mereka menikah kemarin." Rima terkejut melihatnya. Tidak menyangka ternyata tunangan yang Navya maksud adalah cucunya sendiri. Doanya terkabul, Navya menikahi cucunya tapi bukan Alvi melainkan Dafin.


"Apa mungkin sikap Alvi hari ini karena pernikahan itu. Aku yakin dia sangat menyukai Navya, dia tak pernah membawa seorang wanita pun untuk menemui aku selain Navya."


***


"Saya tidak mau tau, saya mau perbaikannya selesai siang ini juga sebelum jam makan siang! Rapat selesai." Alvi meninggalkan ruangan itu tanpa bicara lagi. Semua yang ada di sana bingung dengan sikapnya. Namun tidak berani bicara apapun. Alvi kembali ke ruangannya dengan pikiran yang kacau. Hari ini dia tidak fokus untuk bekerja, tidak ada Navya karena gadis itu masih cuti. Kenapa dia kesal, dia sendiri yang memberikan cuti Navya selama seminggu. Belum lagi memikirkan Navya yang sedang berbulan madu bersama sang suami, memenuhi pikiran Alvi. Hari ini mood nya sedang buruk, semua yang orang-orang lakukan salah menurut nya. Mereka bahkan tidak berani bertemu dengannya.

__ADS_1


Panggilan intercom berbunyi, seorang staf sekretaris terkejut dan langsung menjawab. Takut bosnya marah jika menunggu terlalu lama, tapi dia juga takut karena hari ini Alvi lebih dingin dari biasanya. Bahkan cenderung ketus.


"Pesankan saya makan siang" Panggilan itu langsung terputus padahal si penerima belum sempat menjawab apapun.


"Ya ampun, mati aku. Bagaimana aku tau dia mau makan apa hari ini. Bahkan untuk menjawab 'baik' saja aku tak sempat apalagi bertanya makanan apa yang mau di pesan." Si penerima panggilan itu sedang curhat kepada temannya.


"Derita kamu sih. Aku ga ikutan." Ledek seorang yang ada di sebelah mejanya.


"Jadi aku harus bagaimana." Dia masih bingung. "Apa aku tanya lagi ya, dia mau makan apa!? Tapi aku takut. Lihat saja ekspresi nya pagi ini, dia seperti ingin memakan orang saja." Dia bergidik.


"Cepat berfikir, sebelum Pak Alvi semakin marah nanti karena lapar. Malah kamu yang di makan." Temannya malah tertawa meledek.


"Kamu pesan saja makanan dari Buffett langganan perusahaan. Menu nya kan enak semua tuh dan jaraknya dengan kantor kita tidak begitu jauh." Usul teman nya.


"Kamu benar, ya sudah aku order sekarang saja, takut kelamaan nanti si Bos bisa ngamuk." Akhirnya dia menyetujui saran temannya, sekitar 20menit kemudian pesanan itu tiba. Dia langsung mempersiapkan untuk di bawa ke ruangan Alvi.


Di nampan sudah tersedia menu Bebek bakar, Ayam mentega dan Capcay Seafood beserta nasi putih. Alvi memandang makanan itu tanpa ekspresi. Staf sekretaris yang tadi memesan makanan itu belum beranjak dari sana, dia menunggu dengan jantung yang berdetak cepat karena Alvi tidak menunjukkan bahwa dia menyukai makanan yang sudah terhidang di sana.

__ADS_1


"Kamu bawa ini keluar, saya tidak nafsu." Ucapnya datar.


"Tapi Pak..."


"Kamu tidak dengar, saya bilang kamu bawa keluar. Terserah mau kamu habiskan atau kamu bawa pulang."


"Baik Pak." Dia tidak berani membantah. Lalu dia bergegas membereskan semua yang sudah ia hidangkan.


"Kosongkan jadwal saya sampai sore nanti, saya akan keluar."


"Baik Pak."


"Lain kali kamu bisa tanya asisten pribadi saya jika ingin memesankan saya makan siang."


"Baik Pak. Maafkan saya." Alvi berjalan keluar dari ruangannya. Dia sama sekali tidak bersemangat untuk bekerja. Pikirannya hanya tertuju pada Navya.


Epilog.

__ADS_1


"Untung aku gak disembur sama Pak Alvi karena salah memesan menu, katanya aku harus tanya sama asisten pribadinya apa menu makan siang kesukaannya." Dia bicara sambil mengunyah makanannya.


"Syukurlah, tapi kita jadi bisa makan makanan enak begini kan. Tanpa perlu ke kantin. Oh ya, kamu jangan lupa menghubungi Asisten pak Alvi yang namanya Navya itu." Temannya ikut menikmati bebek bakar dan ayam mentega yang di tolak oleh Alvi.


__ADS_2