Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Teman Baru


__ADS_3

Navya sudah masuk dan duduk di pesawat. Setelah membuat seorang pria galau dan tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja Navya akhirnya melanjutkan langkahnya mewujudkan cita-cita yang berawal dari hobinya. Desainer Perhiasan.


Navya tersenyum ramah saat ada seorang gadis mengangguk hormat padanya, lalu duduk di kursi sebelah Navya.


Aneh, kenapa dia memberi hormat begitu. Tersenyum saja kan cukup.


"Apa Anda akan pergi ke negara X?" Menyapa Navya lebih dulu, namun bahasa nya terlalu formal.


"Ah, Saya akan kuliah di Universitas Xx. Kamu sendiri ?"


"Saya juga akan kuliah di sana. Apa jurusan yang Anda ambil?"


Navya tidak lucu. Kenapa gadis di sebelahnya ini bicara begitu formal. " Jangan terlalu formal begitu. Panggil saja aku Navya atau Vya. Siapa nama kamu." Navya


"Saya Elma. Ngomong-ngomong jurusan kita sama."


" Wahh, kebetulan sekali ya. Jangan kaku begitu. Kita bisa berteman mulai sekarang."


Akhirnya mereka mengobrol dan bertukar nomor ponsel. Elma dua tahun lebih tua dari Navya. Pertemuan nya dengan Elma membuat perjalanan Navya yang awalnya dia pikir akan membosankan menjadi sangat menyenangkan, mereka bahkan menggambar desain bersama sambil berdiskusi. Dia sedikit tenang, karena sudah memiliki teman di lingkungan kampus nanti.


Beberapa jam di lewati, mereka sudah tiba di negara yang dituju. "Dimana kakak akan tinggal?" Setelah berkenalan dan mengetahui usia Elma, Navya memutuskan memanggil nya dengan sebutan Kakak. Mereka sedang berjalan menuju pintu keluar.


"Aku belum punya tempat tinggal tetap. Jadi untuk sementara aku akan tinggal di hotel dulu, sambil mencari rumah kontrakan."


Navya berfikir, tidak ada salahnya kan kalau Elma tinggal bersama dirinya. Toh dia tinggal sendiri di rumah Alvi, hanya ada beberapa pengurus rumah saja. Tapi sebaiknya dia membicarakan dulu dengan Alvi perihal ini.


"Kak, bagaimana kalau kakak tinggal dulu bersamaku."


"Tidak..tidak... Aku tidak mau merepotkan mu." Elma menolak.


"Tidak apa-apa kak, aku senang akan ada teman di rumah nanti."


"Baiklah. Terimakasih."


Navya mencari supir yang diperintahkan Alvi untuk menjemputnya di bandara.


"Mungkin di sana." Elma memberi tahu Navya dimana dia melihat seorang pria kira-kira berumur empat puluh tahun menunggu di depan pintu keluar dengan sebuah papan bertuliskan 'Navya'.


Mereka berjalan menuju pria yang berdiri di sebelah mobilnya itu. "Permisi, saya Navya."


Laki-laki itu menundukkan kepalanya pada Navya. "Saya Hendra, Mas Alvian meminta saya untuk menjemput Anda."

__ADS_1


"Ini teman saya Elma." Dia hanya sekedar mengangguk pada Elma dan di balas dengan perlakuan yang sama oleh gadis itu.


"Mari Mbak." Lalu dia membukakan pintu mobil agar Navya dan Elma masuk.


"Pak..."


"Saya Mbak."


"Begini, teman saya ini belum memiliki tempat tinggal. Tidak apa-apa kan jika saya mengajak nya untuk tinggal bersama? Saya akan meminta izin Mas Alvi nanti."


"Baik Mbak."


Navya beralih pada Elma. "Kak sebentar aku menelepon keluargaku dulu." Elma tersenyum tanda menyetujui.


Awalnya Navya menelepon Maminya. Memberi tahu bahwa dia sudah mendarat dan sedang dalam perjalanan ke rumah. Setelah menutup panggilan dengan Finny, Navya baru saja akan menekan nomor Alvi. Tapi pria itu sudah lebih dulu menelepon dirinya.


"Kamu sudah sampai?"


"Iya, Saya sudah di perjalanan menuju ke rumah."


"Baguslah. Kalau kamu butuh apapun katakan saja pada Pak Hendra dia akan menyiapkan."


"Hmmm... Mas... Ada yang ingin saya sampaikan." Navya gak ragu sebenarnya.


"Begini, kebetulan saya bertemu dengan seorang teman dalam penerbangan tadi. Dia juga akan berkuliah di tempat dan jurusan yang sama. Apa boleh dia tinggal bersama saya di rumah?"


Alvi tersenyum, seakan Navya dapat melihat itu. "Kamu tidak perlu meminta izin saya. Apapun yang membuat kamu nyaman, lakukan saja."


Semudah itu?


Alvi bahkan tidak bertanya apakah temannya itu wanita atau pria. Tapi ya sudahlah, yang penting sudah mendapatkan izin dari si pemilik rumah.


"Terimakasih Mas."


"Sama-sama. Setelah ini istirahat lah dulu, kamu pasti lelah."


"Baiklah."


Navya menutup panggilan teleponnya dan menyimpannya lagi ke dalam tas. Dia menikmati perjalanan menuju ke rumah Alvi sambil mengobrol dengan Elma. Ternyata Elma banyak sekali mengetahui tentang kota dan negara itu. Menjelaskan pada Navya tentang apa yang mereka lewati, pemandangan kota dan gedung-gedung yang menjulang di sisi kanan dan kirinya. Sebuah sungai panjang, airnya memantulkan cahaya lampu jalanan dan berkas jingga dari langit senja.


"Apa Kakak pernah tinggal di sini?" Elma terkejut. Hendra juga melirik Elma dari kaca spion.

__ADS_1


"Oh tidak, bukan begitu." Elma agak panik. "Aku hanya sangat tertarik dengan kota ini. Keindahan dan kemajuan membuat aku begitu semangat untuk datang ke sini. Jadi aku mencari tau banyak informasi tentang kota ini dan Universitas yang akan aku masuki."


"Oh begitu... Harusnya aku juga melakukan hal yang sama dengan kakak." Navya menertawakan dirinya sendiri. "Tapi karena terlalu fokus dengan izin dari Mami, jadi aku tidak sempat melakukannya."


Elma hanya menanggapi dengan senyuman. Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah milik almarhum Indra Mehendra. Rumah itu ia bangun untuk istri dan anaknya. Kalau-kalau mereka berkunjung ke sana untuk berlibur atau untuk tempat tinggal saat Alvi menjalani kuliahnya tanpa perlu menyewa Vila.


Di sana juga lah ia dulu tinggal bersama nenek dan kakeknya setelah kedua orangtuanya meninggal dunia sampai dia menyelesaikan kuliah. Sambil mengurus perusahaan Mahendra yang didirikan Ayahnya di kota itu.


Mereka memasuki pintu gerbang, yang di sambut pepohonan di kanan kiri hingga mengantarkan mereka sampai di depan pintu utama. Navya menyukai tempat itu saat pertama kali dia melewati pintu gerbang. Ada taman bunga di halaman depan. Dan kolam renang juga taman hijau di sisi kanannya.


Rumahnya cukup luas, sebenarnya ukurannya tidak jauh berbeda dengan rumah Nenek Rima. Hanya saja ukuran tanah nya lebih luas dengan banyak taman. Taman-taman itu adalah ide Syifa, ibu Alvi. Dia sangat menyukai tanaman.


Di depan pintu mereka di sambut seorang wanita paruh baya namun ia terlihat masih segar dan bersemangat. Dan seorang laki-laki muda, kira-kira seumuran dengan Alvi. Mereka menundukkan kepala saat Navya berjalan menghampiri.


"Selamat datang Mbak Navya." Navya bingung sebenarnya, mereka bisa langsung tau yang mana dirinya. Sementara dia belum memperkenalkan diri dan dia datang bersama seorang teman yang juga perempuan. Atau mungkin Alvi sudah menunjukkan foto dirinya.


"Halo, saya Navya. Ini teman saya Elma." Navya membalas dengan sopan dan memperkenalkan diri.


Laki-laki yang ada di sebelah wanita itu langsung mengambil barang-barang milik Navya dari dalam mobil untuk di bawa ke dalam rumah. Hendra mempersilahkan Navya dan Elma masuk.


Wanita itu mengikuti di belakang Hendra. "Mbak Navya, beliau yang akan membantu Anda mengurus keperluan selama tinggal di sini." Hendra memperkenalkan Wanita itu saat Navya sudah duduk di ruang tamu.


"Anda bisa memanggil saya Neni. Seperti Pak Alvi memanggil saya."


"Senang bertemu Anda Neni."


"Jika ada yang Anda butuhkan di rumah, Anda bisa memintanya pada Neni. Untuk urusan perkuliahan dan yang lainnya saya yang akan membantu Anda."


Terimakasih, selanjutnya saya akan sangat merepotkan."


"Tidak Mbak, itu sudah tugas kami. Kami tidak akan merasa direpotkan. Selebihnya jika ada yang tidak sesuai dengan keinginan Mbak Navya, katakan saja. Agar saya kami memperbaiki." Menunduk lagi Hendra dan Neni.


Aku sedikit tidak nyaman dengan perlakuan mereka.


Batinnya.


"Baiklah. Terimakasih."


"Vya, aku permisi ke toilet sebentar." Elma berbisik pada Navya.


"Ya kak."

__ADS_1


Baru saja Navya ingin bertanya dimana letak toilet, Elma sudah berdiri dan meninggalkan tempatnya. Navya merasa ada yang aneh.


Bersambung


__ADS_2