
Mobil Alvi sudah melaju di jalanan kota yang ramai. Navya belum berani bertanya kenapa tiba-tiba Alvi bisa ada di sana. Yang ia tau, dia hanya sedang menunggu Pak Hendra. Karena tadi Hendra mengabari akan menjemput Navya, meminta gadis itu menunggu sebentar karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Tapi malah Alvi yang datang.
Navya melirik Alvi yang sedang mengemudi, dari tadi tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Alvi hanya fokus ke jalanan, tapi tangannya mencengkram kuat kemudi mobil. Terlihat sekali raut wajahnya sedang menahan emosi. Membuat Navya semakin tidak berani bicara.
Sementara Alvi mengharapkan Navya yang berbicara duluan padanya, menjelaskan kenapa dia bisa bersama laki-laki bernama Bagas itu di sana. Mengingat tadi Bagas menyentuh tangan Navya, membuatnya refleks memukul kemudi dengan kuat. Navya terperanjat kaget.
Dia terlihat marah sekali, dia marah kan aku tidak sengaja bertemu Bagas. Tapi apa aku tau dia akan datang dan aku juga tidak tahu kalau Mas Alvi akan menjemputku.
Mereka masih diam bahkan sampai mobil sudah memasuki area parkir apartemen. Alvi membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Biasanya dia akan membukakan pintu untuk Navya, entah kenapa kali ini dia lupa karena kepalanya masih dipenuhi emosi pada Bagas.
Navya keluar dari mobil, sambil membawa barang-barang belanjaan. Sedikit berlari untuk menyusul Alvi yang berjalan dengan cepat di depannya. Navya bahkan tidak berani memanggil agar Alvi menunggunya.
Tiba-tiba.... Brukkkk!
Alvi berhenti dan berbalik mendengar suara di belakangnya. Navya terjatuh. Barang-barang yang ia beli tadi berserakan di sekitarnya. Alvi terkejut dan panik melihat istrinya. Langsung berlari dan menghampiri Navya.
"Sayang, kamu baik-baik saja? Mana yang sakit?" Navya hanya menggeleng pelan.
"Gak apa-apa Mas." Alvi membantu Navya berdiri, dia merasakan sakit di kakinya tapi tidak berani mengatakan. Seorang petugas keamanan yang melihat Navya terjatuh membantu memasukkan barang-barang Navya ke dalam tas belanjaan lalu memberikan pada Alvi. Lalu mereka kembali berjalan menuju unit apartemen mereka. Navya sedikit kesulitan berjalan, tapi tetap dia tahan agar Alvi tidak tau.
Sesampainya di unit apartemen, Alvi membantu Navya duduk di sofa. "Aku letakkan ini dulu di dapur." Navya hanya membalas dengan anggukan. Lalu dia kembali membawa air hangat di dalam mangkuk serta sebuah handuk.
Alvi duduk di sebelah Navya, kemudian mengangkat kaki Navya ke atas pahanya. Dia tau kaki gadis itu keseleo. Navya hanya diam saja saat Alvi mengompres kakinya dengan handuk hangat. Dia masih takut untuk bicara, walaupun saat ini wajah Alvi sudah tidak sedingin tadi. Malah berganti raut kekhawatiran.
"Maaf..." Alvi tertunduk. Dia bahkan tidak berani menatap Navya. "Aku minta maaf, seharusnya aku tidak terlibat emosi lebih dalam." Karena Navya tidak menjawab, Alvi memberanikan diri menatap istrinya. Dia semakin panik saat melihat ada cairan bening menetes di pipinya. Gadis itu buru-buru mengusap wajah nya dan tersenyum.
Alvi langsung membawa Navya ke dalam pelukannya. "Maaf sayang, kaki kamu sakit sekali ya. Maafkan sikapku juga, meninggalkan kamu di parkiran tadi." Navya menggeleng.
"Enggak kok Mas, Mas gak salah. Vya cuma takut saja tadi, Vya takut Mas gak percaya sama Vya." Bicara sambil mengusap pipinya yang basah. "Vya gak janjian sama Bagas tadi, dia yang entah darimana tiba-tiba muncul dan duduk di sana. Vya gak bohong."
Alvi mengusap rambut istrinya lembut, mencium kepalanya. "Aku percaya, aku tidak marah sama kamu. Aku hanya kesal dengan teman kamu. Kesal dengan sikapnya yang tidak pantas. Tapi emosi ku malah membuat kamu terluka begini." Suara Alvi menunjukkan penyesalan yang sangat dalam.
Navya bangun dari pelukan Alvi. Menatap suaminya yang tertunduk lesu. "Mas, Vya benar-benar tidak menyalahkan Mas juga. Vya hanya takut Mas marah karena Vya bertemu dengan pria lain, tapi benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan dia di sana."
Alvi memegangi kedua pipi Navya. Mencium seluruh bagian wajahnya. "Aku percaya sama kamu sayang, kamu tidak akan mengkhianati aku. Ini semua salahku. Tadinya aku ingin memberi kejutan dengan menjemput kamu di sana. Tapi saat melihat apa yang Bagas lakukan tadi, membuat kamu jadi tidak nyaman. Emosiku benar-benar tidak bisa di bendung."
Begitu dia bilang emosi yang tidak terbendung, padahal sejak tadi aku melihat dia menahan diri untuk tidak melakukan hal yang berlebihan. Kamu memang pria yang baik Mas.
Navya kembali menghambur ke pelukan Alvi. Dia bahagia memiliki suami penyabar seperti Alvi.
"Terimakasih ya Mas."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena Mas sudah mau menjadi suaminya g baik untuk Vya." Alvi tersenyum.
"Terimakasih juga karena kamu sudah mencintai aku."
Navya mendongakkan kepalanya menatap Alvi. "Mas."
"Hemm?"
"Mas percaya kan, Mas adalah satu-satunya pria yang paling Vya cintai. Gak akan ada yang lain lagi. Cuma Mas Alvi. Yang paling ganteng, paling baik, perhatian dan paling segalanya."
Alvi merona mendengar ungkapan hati Navya. "Haha.. kamu ini, iya sayang aku percaya, istri ku adalah wanita yang paling setia dan baik hati."
Navya memberanikan mencium bibir Alvi duluan. Alvi terkejut tapi membalas ciuman Navya, cukup lama mereka melakukannya. Sampai Alvi yang melepaskan tautan mereka karena teringat sesuatu.
"Sudah cukup, kamu sedang menyiksa aku lagi sekarang?"
Navya malah tertawa cekikikan, membuat Alvi menatap penasaran istrinya. "Kamu sedang mengejekku?"
Navya masih tertawa sambil menggeleng. Lalu membisikkan sesuatu di telinga Alvi sambil malu-malu. Mata pria itu membola, bibirnya tersenyum senang.
"Kamu serius?" Navya mengangguk cepat, dia terlihat malu dan menutup wajahnya.
"Tapi Vya lapar Mas."
"Hahaha.. Dasar. Kamu selalu mengerjai aku ya." Gemas dia mencubit pipi Navya. "Ya sudah, kita makan dulu." Navya mengangguk, karena dia memang sudah merasa lapar.
...💙💙💙...
Navya kembali menatap dirinya di depan cermin. Dia malu sendiri dengan pakaian yang ia kenakan.
Kalau nanti mas Alvi malah tertawa bagaimana? Apa tidak usah kupakai saja yaa...
Dia melirik lagi layar ponselnya, beberapa tips yang bisa dilakukan saat malam pertama.
Aaaaaa..... Tapi aku malu keluar dengan pakaian seperti ini.
Dia mengintip, belum ada tanda-tanda Alvi kembali dari ruang baca. Tadi pria itu mengatakan ada sesuatu yang harus Alvi lakukan di ruang baca, sembari menunggunya selesai mandi.
Dia belum kembali. Bagaimana ya. Apa aku ganti saja.
__ADS_1
Disaat masih berfikir, tiba-tiba dari luar pintu diketuk. Membuat Navya gelagapan.
"Sayang, kamu belum selesai?"
"I..iya Mas. Sebentar lagi." Langsung mengambil jubah handuk dan memakainya. Perlahan membuka pintu, Alvi terlihat duduk di pinggir tempat tidur sambil masih memainkan ponselnya. Mendongak saat Navya sudah melangkah keluar dari kamar mandi. Melihat Alvi tersenyum padanya malah membuat Navya semakin gugup.
"Kenapa masih pakai handuk? Bukannya tadi kamu membawa pakaian ke dalam?"
"Hah. I..iya.. itu sudah Vya pakai." Alvi bingung dengan jawaban sang istri. Matanya mengikuti langkah Navya, gadis itu berjalan menuju ke meja, mengambil remot lampu. Dalam sekejap lampu kamar sudah padam dan berganti lampu tidur.
Alvi tersenyum menanggapi apa yang dilakukan Navya. "Kenapa dimatikan?" Sejak tadi istrinya bertingkah aneh, tapi lucu menurut Alvi. Terlihat sekali Navya gugup, menyadari apa yang akan mereka lakukan.
"Eehmmm, gak apa-apa kan kalau seperti ini?"
"Gak masalah."
Dia menggemaskan sekali kalau gugup. Padahal ini bukan yang pertama untuk nya.
Alvi mengulurkan tangannya pada Navya setelah menyimpan ponselnya di laci, malu-malu Navya menyambut tangan suaminya. Lalu dia duduk di sebelah Alvi namun matanya menatap ke arah lain. Tidak mau bertemu mata dengan suaminya.
Alvi mendekat, memegang kedua pipi Navya
kemudian mencium keningnya. Degub jantung Navya tidak dapat dia tahan, berdebar begitu kencang semakin membuatnya gugup.
"Kamu gugup?" Alvi masih sempat meledek, padahal hatinya juga sedang berdebar hebat.
"Iihh Mas." Navya menutup wajahnya malu.
"Aku pikir tadi kamu akan memakai... eehmmm... " Navya seketika melihat Alvi.
"Mas tutup mata dulu."
"Kenapa?"
"Pliisss, tutup mata yaa."
Alvi menurut saja permintaan Navya. Dia meletakkan tangan Alvi menutupi mata pria itu. "Ingat jangan dibuka sebelum Vya bilang ya."
"Heemmm.."
Navya berbalik membelakangi Alvi, lalu membuka jubah handuk yang ia pakai. Tanpa ia tau, suaminya sudah sejak tadi membuka matanya. Jantung Alvi semakin berdebar, melihat penampilan Navya dari belakang. Bahkan sebelum Navya berbalik, Alvi bangun dari duduknya dan memeluk Navya dari belakang.
__ADS_1
Bersambung