
"Kalian hati-hati ya.." Finny mengantar kepergian anak dan menantunya. Mereka hanya pergi dua sampai tiga hari, tapi Finny yang heboh dengan persiapan mereka. "Fin, kamu jaga Navya baik-baik ya."
"Iya Mami... Takut banget sih."
"Ya kamu kan biasanya kemana-mana sendiri, biar kamu ingat sekarang udah ada Navya sama kamu."
"Iya.. iyaa... tenang aja loh Mi."
"Baik-baik ya sayang, kalau ada apa-apa telepon Papi atau Mami." Kali ini dia bicara pada menantunya yang hanya di tanggapi dengan anggukan senyum. Sementara Dafin hanya geleng-geleng kepala. Mereka bukan lagi anak ABG tapi Maminya sampai berlebihan begitu.
"Vya dan Mas Dafin pamit ya..." Dia menyalami Finny dan Damar lalu masuk ke dalam mobil bersama Dafin.
***
"Kenapa kita ke sini?" Mobil itu masuk ke area apartemen sederhana.
"Aku mau jemput seseorang, kamu tunggu saja di sini." Dafin keluar dari mobil dengan diikuti tatapan bingung Navya.
Kurang dari 10menit Dafin sudah muncul dengan seorang gadis yang tidak asing di mata Navya. "Kak Hana" Gumam Navya, di mengenal gadis itu. Dia tersenyum sambil bicara pada Dafin, begitu juga dengan Dafin. Navya bahkan tidak pernah melihat Dafin tersenyum lembut begitu.
Navya tersentak saat Dafin membuka pintu depan tempat dimana Navya duduk. "Kamu duduk di belakang aja."
"Fin, gak apa-apa. Biar Aku aja yang di belakang." Tapi Dafin tidak perduli, dia menarik Navya agak keluar dari mobil.
"Maaf ya Vya, aku udah bilang sama Dafin biar aku naik taksi aja ke Bandara, tapi Dafin maksa buat jemput."
"Gak masalah kak, Vya duduk di belakang aja."
Navya sebenarnya masih bingung dengan keadaan ini, kenapa Hana bisa kenal dengan Dafin dan sekarang mereka pergi bersama, bertiga. Akhirnya Navya duduk di kursi belakang dan Hana sudah ada di kursi depan di samping Dafin yang mulai melajukan mobilnya.
Dafin seakan tak perduli pada Navya, kebingungan gadis itu bahkan perasaannya. Dia hanya bicara pada Hana. Hana merasa sedikit tidak enak, kemudian dia menyapa dna mengajak Navya bicara.
"Navya, kamu apa kabar ?"
"Hmmm.. Vya baik kak."
"Maaf kemarin aku tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Oh ya, Dafin udah kasi tau kamu kan ?"
"Kasi tau apa?" Navya semakin heran, dan mencoba mencari jawaban dari Dafin sementara Dafin tidak berminat untuk ikut dalam pembicaraan mereka.
"Kamu belum bilang ke Navya?" Hana bicara pada Dafin, tapi dia hanya diam saja. Dafin merasa tidak ada gunanya bicara soal itu pada Navya. Tapi Hana merasa tidak enak.
"Mulai hari ini Hana jadi sekretaris ku." Dafin hanya menjelaskan secara singkat. Hal itu sudah menjawab kebingungan Navya kenapa Hana sampai harus ikut pergi bersama mereka.
"Maaf ya Navya, aku jadi ganggu kalian. Kan harusnya kalian bisa sambil bulan madu."
"Gak apa-apa kak. Apa ibu dan bapak tau kalau kak Hana sudah bekerja di sini ?"
"Aku sudah bilang akan pindah ke kota ini, tapi aku belum mengabari mereka kalau aku bekerja di kantor Dafin. Karena begitu diterima, aku sudah harus menemani Dafin meeting di luar kota."
"Navya senang kak Hana kembali ke kota ini, jadi kapan-kapan kita bisa jenguk anak-anak di Panti bersama."
"Yaa ide kamu boleh juga. Nanti kita bisa pergi bersama." Hana melirik Dafin di sebelahnya, pria itu sama sekali tidak tertarik untuk banyak bicara pada Navya.
***
__ADS_1
Di tempat lain, Alvi menerima laporan dari Ryan bahwa Navya akan melakukan penerbangan keluar kota pagi ini. Alvi berfikir bahwa mereka akan berbulan madu, namun Ryan memberi tahu bahwa kepergian pasangan itu adalah karena Dafin urusan pekerjaan.
"Siapkan semuanya, saya mau kita sampai di sana hari ini juga."
"Baik Pak."
***
Siang menjelang sore mereka sudah tiba di hotel tempat mereka menginap. Dafin memesan dua kamar, satu untuknya dan Navya, satunya lagi untuk Hana. Kamar mereka bersebelahan.
"Hana kamu istirahat dulu, jam 7 malam nanti kita akan makan malam bersama mereka." Sambil memberikan kartu akses kamar pada Hana.
"Baiklah. Sampai ketemu nanti. Bye Navya..."
Hana tersenyum pada Dafin dan Navya.
"Bye Kak.."
Hana masuk ke kamarnya sementara Dafin dan Navya menuju kamar mereka. Setelah meletakkan tas dan barang bawaan lainnya Dafin membersihkan diri lalu duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Gantian Navya yang masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama kemudian Navya keluar namun tidak menemukan Dafin di sana.
"Mas Dafin kemana ?" Dia coba menghubungi namun tidak di jawab oleh Dafin. Sebuah pesan masuk sesaat sebelum Navya akan kembali menghubungi nomor Dafin.
Mas Dafin:
Aku ada urusan sebentar, kalau kamu lapar kamu bisa pesan makanan. Jangan keluar sendiri, aku tidak suka di repotkan jika terjadi sesuatu pada diri kamu.
"Kenapa sih dia gak pamitan langsung ke aku, segitu gak mau nya dia bicara padaku. Daripada aku di sini sendiri, lebih baik aku ngobrol dengan kak Hana saja." Navya kemudian menuju balkon, karena kamar nya yang bersebelahan dengan kamar Hana dia berniat memanggil dari balkon kamar. Namun balkon dan tirai nya tertutup.
"Apa kak Hana benar-benar tidur ya!?" Navya keluar kamar dan mencoba memanggil Hana dari pintu, tetap tidak ada sahutan. Akhirnya dia kembali ke kamar, merebahkan tubuhnya di sofa dan tanpa sengaja tertidur pulas.
Tidak tahu berapa lama dia tertidur, tapi saat terbangun Dafin sedang duduk di depannya. sudah berpakaian rapi. Seketika Navya langsung duduk. "Mas Dafin kapan baliknya ?"
"Iya Mas."
"Aku keluar." Navya mengangguk sambil memperhatikan Dafin yang berjalan meninggalkan dirinya lagi di kamar itu. Navya bosan, dia bukan anak kecil yang akan tersesat jika hanya turun ke resto dan berjalan-jalan sebentar di taman hotel. Dia memutuskan akan turun sendiri ke bawah dan makan malam di restoran hotel. Dia tidak akan menggangu Dafin.
Setelah berganti pakaian Navya menuju restoran, dan memilih duduk di meja dekat jendela kaca, Navya sudah memesan menu makan malam, dia menunggu sambil memperhatikan sekelilingnya. Mencari tahu keberadaan Dafin, namun dia tidak menemukan siapapun yang dia kenal di sana. Meja tempat dimana Navya duduk memiliki sekat dengan meja lain di sebelah nya, sehingga tidak akan bertatapan langsung dengan pengunjung yang lain. Navya menunggu pesanannya sambil memainkan ponsel saat dia tidak sengaja mendengar suara seseorang yang dia kenal.
"Kenapa kamu gak ajak Navya makan malam bersama ? Kenapa harus berbohong, kita akan meeting besok pagi. Bukan malam ini."
"Kamu tahu kan, semua ini hanya karena Mami. Perjodohan, pernikahan, semuanya. Jadi untuk apa aku harus pura-pura baik kecuali di depan keluarga."
"Lalu, sampai kapan pernikahan ini akan terus seperti ini?"
"Sampai aku puas dan membuat nya sengsara, Navya sudah mengambil semua kebahagiaan ku. Pernikahan ini hanya alasan ku agar bisa membalas dendam ku padanya."
Navya menegang mendengar percakapan Dafin dan Hana. Ternyata Dafin sangat membencinya begitu dalam. Navya mendadak tidak berselera makan dan pergi dari sana sebelum pesanannya datang. Dia tidak kembali ke kamar melainkan pergi ke taman.
Dalam kesendirian nya dia mengingat lagi sedikit kenangan bersama orangtuanya, hanya sedikit yang dia punya karena setelah itu ayah dan ibunya meninggalkannya sendirian. Tanpa terasa cairan bening menetes dari mata indahnya. Kenapa begitu cepat dia harus kehilangan orang-orang yang dia sayangi, jika ayah dan ibu masih hidup dia tidak harus merusak kebahagiaan orang lain dengan masuk dalam kehidupan mereka. Mereka pasti akan merasakan kebahagiaan masing-masing.
"Navya ?" Suara itu tidak asing, berusaha menghapus dan menutupi jejak air mata nya lalu dia perlahan mengangkat kepalanya demi melihat si pemilik suara.
"Benar Navya kan ?!" Si pemilik suara itu kemudian tersenyum.
Navya heran dan terkejut "Kenapa Bapak ada di sini ? Duduk Pak."
__ADS_1
Akhirnya mereka duduk berdua di sebuah kursi teman. "Sudah beberapa kali kita bertemu tanpa sengaja, jika kamu belum menikah saya akan berfikir kalau kita berjodoh" Alvi terkekeh, namun tidak dengan Navya, diam tidak tahu harus menjawab apa karena dia juga tidak mengerti arti ucapan Alvi.
"Kalian honeymoon di sini ?" Alvi mengalihkan pembicaraan, merasa keadaan sedikit canggung.
"Oh, hmm itu.. enggak kok Pak." Navya bingung menjawab apa, kenyataannya memang dia ke sini bersama suaminya namun bukan untuk berbulan madu. Dan mereka juga tidak akan mungkin melakukan itu, Dafin tidak mencintai dirinya.
"Maksudnya?"
"Iya maksudnya, kami di sini karena Mas Dafin ada pekerjaan. Jadi sekalian saya ikut aja, ada sekretaris Mas Dafin juga."
Alvi hanya mengangguk paham. "Jadi kenapa kamu sendirian di sini?"
"Hmmm.. sa..yaa... lagi jalan-jalan aja Pak, lihat taman." Bicara namun matanya menatap ke arah lain.
Alvi mengerutkan dahinya, jawaban Navya sangat aneh. Kemudian Alvi melihat sekelilingnya "Kamu mau lihat apa malam-malam begini di sini?"
Deg!
Benar. Jawaban apa itu, apa yang bisa d lihat di sini. Taman di tempat Navya duduk bukanlah taman bunga dengan hiasan lampu-lampu cantik di dekat pinggiran kolam dan restoran.
Di sini lebih seperti hutan mini, dengan sebuah danau buatan. Jika siang hari tempat itu sejuk, dan menjadi tempat bermain anak-anak pengunjung hotel. Namun jika malam hari tidak banyak orang yang lewat di sana.
"Bapak sendiri kenapa ada di sini?"
"Saya sedang liburan."
Kali ini Navya yang mengernyitkan dahinya. "Bukannya Mahendra Grup sedang banyak proyek Pak !?"
"Ya bagaimana saya bisa bekerja, sekretaris saya sedang asyik berbulan madu. Saya kan jadi iri."
Celotehan Alvi malah membuat Navya tersenyum meledek, bagaimana bisa seorang Presdir seperti Alvi bisa berfikir demikian. "Bapak pasti bercanda kan? Bapak jangan maksa kalau memang gak bisa bercanda."
"Kamu ini, hargai sedikit lah usaha saya. "Navya malah semakin menertawakan dirinya. "Ok kamu menang, saya memang ada pekerjaan di sini. Hotel ini salah satu milik Mahendra Grup dan saya ke sini bersama Ryan untuk membahas penambahan sarana dan fasilitas lainnya."
"Ohh gitu.." Setelah pembicaraan itu agak lama mereka hanya diam.
"Lebih baik kamu kembali ke kamar dan istirahat, kamu pasti lelah karena perjalanan tadi." Dia tau Navya sedang tidak baik-baik saja.
"Hmm.. yaa... Saya duluan Pak." Navya berpamitan dan beranjak dari sana. Alvi hanya memandang punggung gadis itu.
"Aku tidak mungkin salah, aku yakin dia tadi menangis. Bahkan dia belum makan malam." Setelah Navya menghilang dari pandangannya, dia mengeluarkan benda pipih dari saku jasnya dan mengetik kan sesuatu.
Epilog
Suara ketukan di pintu kamar Navya. Seorang pelayan mengantarkan hidangan makan malam ke kamarnya. "Maaf, tapi saya tidak memesan makanan. Mungkin anda salah kamar."
"Tapi ini benar nomor kamar nya Bu, boleh saya bawa masuk ?"
Meski bingung Navya tetap menerima nya. Tidak lama setelah pelayan itu pergi, ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk.
Presdir Alvi
Kamu belum makan kan, saya pesankan makan malam untuk kamu. Semoga kamu suka.
Navya menatap bergantian pesan di ponselnya dan hidangan makan malam itu. Seketika dia juga ingat kata-kata Alvi saat menyuruhnya masuk.
__ADS_1
"Bagaimana Pak Alvi tau semuanya. Dia tau aku baru sampai siang tadi dan belum makan malam."
Bersambung