
"Kamu apa-apaan sih?"
"Maksud Mas ?
"Ya, kamu kenapa jalan pelukan begitu sama Alvian?!"
"Mas gak cemburu kan?" Navya refleks bertanya begitu, karena Dafin terlihat gusar.
Dafin seketika terdiam. Cemburu?? Mana mungkin!
"Mas?"
"Kamu jangan kepedean lah.. Kamu mikir gak sih kalian tadi sedang ada di tempat umum, apa kata orang-orang nanti. Sementara kamu itu adalah wanita bersuami." Dengan cepat Dafin mencari alasan dari kemarahan nya. Karena dia juga tidak tau kenapa dia merasa sangat kesal tadi.
"Vya juga ga mau Mas, tadi Vya udah nolak. Tapi Pak Alvi yang memaksa."
"Ya kamu kan bisa telpon aku."
"Tapi kan ini juga gara-gara Mas Dafin. Gak sabaran." Wah wah... Navya sudah berani menyalahkan Dafin.
"Kenapa jadi menyalahkan aku?"
"Kan Mas Dafin yang terus-menerus nelpon Vya, Kan tadi Vya ke dah bilang kalo Vya udah mau jalan. Jadinya Vya buru-buru sampai hampir jatuh di tangga, untung ada Pak Alvi yang tiba-tiba datang. Walaupun Vya keseleo tapi dia menangkap tubuh Vya dan......"
"Udahlah, gak usah di bahas lagi."
Dafin malah gusar.
"Iya Maaf Mas."
Hening beberapa saat. Navya pikir Dafin sedang kembali pada sifat aslinya. Tidak peduli. Nyatanya Dafin malas mendengar Navya membahas Alvi. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah butik. Bukan butik langganan Finny yang biasa mereka datangi.
"Kaki kamu masih sakit?" Nada suaranya sedikit lembut, seperti benar-benar mengkhawatirkan Navya.
"Hmmm..??" Seakan tidak menyangka bahwa Dafin sedang bertanya tentang keadaan nya.
"Kaki kamu, masih sakit gak?"
"Oh ini... sakit sedikit. Oh ya Mas mau apa ke sini?" Tanya Navya sambil menunjuk bangunan di depan sana dengan pandangan nya.
"Oh, ada yang mau aku beli. Untuk klienku. Kamu tunggu di sini saja." Di balas anggukan oleh Navya. Tidak ada kecurigaan sedikit pun dalam hatinya. Navya sedang terlena dengan cara bicara Dafin yang akhir-akhir ini sedikit melunak padanya.
Navya menunggunya sekitar lima belas menit. Tiba-tiba Dafin keluar dari pintu dengan seorang wanita yang sangat di kenal Navya.
Dafin membukakan pintu belakang kemudian Hana masuk dan duduk di kursi belakang. "Hai Vya?" sama Hana ramah. Wajahnya sangat bahagia menurut Vya.
__ADS_1
"Kak Hana. Vya baik. Kok kak Hana ada di sini juga?"
"Tadi aku meminta Hana ke sini dan membantu memilih sesuatu untuk aku bawakan pada klien kami." Dafin yang menjawab saat dia masuk ke mobil.
"Oh gitu."
Hana hanya tersenyum seperti membenarkan jawaban dari Dafin.
"Ini. Kamu pakai ini saja. Sepatu kamu rusak kan? Kaki kamu juga sakit, sebaiknya gak usah pakai sepatu dulu." Dafin memberikan sebuah tas berisi sandal wanita pada Navya. Gadis itu menerimanya dengan gembira. Jarang sekali, bahkan ini kali pertama Dafin begitu peduli padanya.
"Makasih ya Mas." Ucapnya sumringah.
"Hmm..." Dafin melirik penghuni kursi belakang dari spionnya, Hana melempar pandangan kosong keluar jendela.
Kurang dari tiga puluh menit mereka tiba di rumah mereka. "Kamu turun dulu, bereskan barang-barang yang akan kamu bawa ke rumah Mami. Nanti malam aku akan antar kamu."
"Mas Dafin mau kemana?"
"Aku ada urusan sebentar, sebelumnya aku akan mengantarkan Hana dulu ke Apartemennya."
"Kak Hana gak mampir dulu?"
"Lain kali saja Vi. Aku masih mau mempersiapkan barang-barang untuk besok."
"Oh iya, kak Hana ikut Mas Dafin ya. Ya udah, Vya turun dulu ya Kak."
"Kamu bisa?"
"Oh, ini. Vya bisa kok Mas. Pelan-pelan."
"Ayo, biar aku bantu kamu." Hana sudah berdiri di depan pintu mobil untuk membantu Navya berjalan.
"Makasih ya Kak."
"Biar aku bawa tas kamu." Dafin mengambil tas di tangan Navya lalu ikut keluar dari mobil.
Hana memapah Navya sampai dia masuk ke dalam rumah. Sementara Dafin membawa kan tas dan sepatu Navya. Perhatian Hana tidak lepas dari Dafin yang sedang membukakan pintu sambil membawa barang-barang milik istrinya. Dafin biasanya tidak begitu peduli pada gadis manapun. Kecuali dirinya.
Setelah mengantarkan Navya ke kamarnya, Hana segera keluar sembari Navya mengucapkan terimakasih. Sementara Dafin masih di sana.
"Kamu bisa sendiri?"
"Bisa Mas, cuma terkilir sedikit."
"Ya sudah, aku pergi dulu. Aku usahakan tidak akan lama. Kalau kamu butuh apa-apa jangan paksakan turun ke bawah, tunggu aku pulang."
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak berjalan, kalau kamu ingin minum aku sudah bawakan di sana." sambil menunjuk ke arah meja. Sebelum naik ke kamar, Dafin mengambil dua botol air mineral dari dapur untuk di bawa ke kamarnya dan meletakkan di atas meja.
Navya mengangguk dengan senyum yang entah kenapa membuat Dafin menjadi salah tingkah. Namun dia langsung berpaling, menyadari bahwa tindakannya itu salah. Kenapa dia menjadi perhatian pada gadis di depannya.
"Aku pergi." Pamitnya pada Navya, tanpa melihat gadis itu.
"Hati-hati ya Mas." Dafin berhenti, namun tidak berbalik.
"Hmm." Dafin kemudian melangkah keluar melewati pintu yang tidak tertutup rapat. Di depan sana ternyata Hana masih berdiri menunggu Dafin keluar. Dengan wajah datar dia menatap laki-laki yang baru saja keluar dari kamar itu. Dafin segera menutup pintu kamar.
Namun Hana segera berbalik dan berjalan meninggalkan Dafin. Tapi Dafin tidak segera mengejar, bukannya Dafin tidak peduli tapi mereka masih berada di rumahnya dan ada Navya di sana. Dafin membiarkan Hana berjalan duluan sampai ke mobil. Kemudian Dafin masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan kendaraannya keluar dari komplek perumahan itu. Hana masih diam.
"Jangan marah dong sayang." Bujuknya sambil mengambil tangan Hana untuk di genggam.
"Kamu suka sama Navya?"
Dafin hanya tertawa menanggapi pertanyaan itu.
"Dafin... Aku serius." Sambil melepaskan tangan Dafin yang sedang menggenggam tangan nya
"Jadi kamu pikir aku gak serius mau nikah sama kamu. Kita akan menikah Han, besok. Kenapa kamu malah mikir yang aneh-aneh."
"Tapi cara kamu memperlakukan Navya tadi, aku gak suka."
"Kita masih bersandiwara Hana. Kamu ingat? Dan Aku sedang berfikir cara untuk berpisah dari Navya, agar kamu tidak jadi sasaran kemarahan keluarga ku sebagai penyebab perceraian kami."
"Tapi sikap kamu lembut banget ke dia. Itu seperti bukan Dafin yang membenci Navya."
Dafin menghentikan mobilnya. Kembali dia meraih tangan Hana dan meletakkan di dadanya.
"Hana.. tolong seperti ini. Kamu bicara seakan-akan ini semua keinginan ku, bahwa aku yang memilih untuk menikahi Navya dan mengkhianatimu."
Hana menunduk. Dia menyesal. Memang benar, bukan Dafin yang menginginkan menikahi Navya, balas dendam yang Dafin rencanakan semua dorongan dari Hana. Rencana menikah dengan Navya dan menceraikannya adalah ide Hana. Dafin bahkan memilih untuk kawin lari dengan nya daripada menikahi Navya. Tapi Hana tidak mau, Hana ingin Dafin meninggalkan Navya saat gadis itu mulai mencintai Dafin. Agar Navya merasakan bagaimana rasanya saat dia di kecewakan oleh harapan kosong. Semua itu idenya.
"Lalu bagaimana caraku membuat dia menyukai aku kalau bukan dengan berpura-pura bersikap baik padanya."
Hana kemudian menatap Dafin. Mencari kejujuran di matanya. Mata itu, selalu menjadi kelemahan Hana. Dafin akan selalu memandang dirinya dengan lembut. Kemudian dia memeluk pria itu.
"Aku takut Fin. Kamu gak pernah begitu baik sama wangi manapun selain Mami kamu dan aku. Aku gak mau kamu jadi menyukai Navya."
"Sayang, kita akan menikah lusa. Sesuai impian kamu. Jadi tolong jangan buat suasana hati kamu bersedih dengan prasangka buruk."
Lalu dia mengurai pelukan itu. Dan mengusap air mata di pipi Hana. "Kamu cantik kalau senyum."
"Aku minta maaf sayang, tapi cara kamu bicara dengan Navya itu gak terlihat seperti sedang berpura-pura. Kamu tau kan aku takut kehilangan kamu, aku cemburu."
__ADS_1
"Kamu terlalu banyak berfikir." Sambil mengusap kepala Hana yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Hana. Dafin kemudian melajukan kembali mobilnya dan membelah jalanan.
Hana sudah lebih tenang, kecemburuan nya akan selalu sirna saat Dafin meyakinkan nya bahwa Dafin hanya selalu mencintai diri nya. Sementara Dafin sendiri malah sedang bingung, dia berusaha meyakinkan Hana namun dia sendiri tidak yakin dengan hatinya. Apa benar dia hanya berpura-pura, atau dia memang harus peduli pada Navya karena status perkawinan mereka. Yang dia tau tadi dia benar-benar mengkhawatirkan gadis itu, Navya bahkan tidak bisa berjalan sendiri. Harusnya dia menemani dan membantu apa pun yang Navya butuhkan. Tapi dia sudah berjanji pada gadis yang sedang duduk di sampingnya. Navya tidak akan pernah menjadi prioritas nya. Apa benar semua sikapnya ini. Dafin menarik nafas dalam, namun dia menghembuskan perlahan. Takut Hana tau bahwa dia sedang gundah. Hari ini dia telah membohongi dua gadis sekaligus.