
Tak terasa hari itu tiba. Navya sudah didandani, memakai kebaya berwarna putih dan make up yang natural sudah membuatnya sempurna. Ia menatap lagi dirinya di cermin besar itu, menarik nafas dalam berulang kali. Meskipun ia belum siap, tapi dia harus siap kan. Semua demi Mami dan Papi. Mungkin saat ini ia tidak mencintai Dafin dan begitu juga Dafin yang tidak mencintai Navya. Namun dia meyakini suatu saat kebersamaan akan membuat mereka terbiasa satu dengan yang lain dan menanam harapan bahwa cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Semoga saja.
"Kamu bisa Navya, kamu pasti bisa menjalani ini semua"
Dan lamunan itu terhenti saat seseorang membuka pintu kamarnya. "Navya..."
"Bu Sarah..." Sarah berjalan masuk mendekat kepada Navya lalu memeluknya yang di balas oleh gadis itu.
Mengurai pelukan itu dan ia menatap Navya. "Kamu cantik sekali Nak. Ibu sangat bahagia, Bu Finny dan Pak Damar menepati janji mereka untuk membahagiakan kamu. Semoga almarhum kedua orang tua kamu juga bahagia Nak."
"Terimakasih Bu. Doakan Navya ya.." Ya dia harus bahagia, karena semua orang bahagia. Mereka adalah orang-orang yang sudah sangat tulus menjaga dan menyayangi dia sepeninggal orangtuanya. Pengorbanan kecil ini tidak ada apa-apa nya dengan apa yang sudah mereka semua berikan padanya.
"Sayang... Ayo kita turun, acara sudah akan dimulai." Finny datang untuk menjemput mempelai wanita.
"Iya Mi."
Navya berjalan di iringi oleh Sarah dan Finny menuju meja akad. Banyak pasang mata yang terkagum-kagum dengan paras mempelai wanita itu. Make up nya natural dan tidak berlebihan membuat nya semakin cantik karena wajah Navya memang sudah cantik walaupun tanpa polesan Make up. Dafin bahkan terpaku beberapa detik saat melihat Navya, namun ego dan kebencian mengalahkan hati nuraninya. Dia meyakini bahwa dia tidak akan mencoba untuk menyukainya apalagi jatuh cinta padanya. Tidak akan pernah. Sementara Navya tidak berani memandang wajah Dafin, dia masih belum percaya hari ini akan terjadi.
"Baiklah acara akan segera kita mulai." Kata seorang pembawa acara.
Dan prosesi itu berjalan dengan baik. Dafin dan Navya sudah resmi menjadi pasang suami istri. Dafin menyematkan cincin pernikahan di jari Navya dan sebaliknya. Lalu Navya mencium tangan Suaminya dan di balas oleh Dafin dengan mencium kening Navya secara singkat. Tidak ada yang mencurigakan, para tamu hanya tersenyum dengan tingkah Dafin. Mereka beranggapan bahwa Dafin masih malu-malu mencium kening Navya.
Setelah acara pernikahan selesai, kemudian dilanjutkan dengan acara resepsi. Kebanyakan tamu yang datang adalah kerabat dari keluarga Damar, rekan bisnis Damar dan Dafin juga teman-teman Finny. Beberapa teman dan atasan Navya di PT. Sinar Mega juga hadir. Namun dia belum melihat Bos nya di sana. Sementara keluarga Sarah dan anak-anak Panti sudah berpamitan pulang saat acara pernikahan selesai. Tapi Hana tidak turut hadir, dia mengatakan harus mengurus kepindahan dan pengunduran dirinya dari pekerjaan lamanya.
Dafin merasa sedikit bosan dengan acara itu. Dia tidak betah berlama-lama duduk di pelaminan, sementara dia dan Navya tidak bicara sepatah kata pun sejak mereka resmi menjadi suami istri. Terlebih ia harus menunjukkan senyum palsu di depan semua orang. Mereka turun dari pelaminan yang pusat acara tersebut untuk beristirahat dan mengisi perut. Navya merasa lega, dia sudah merasa lelah sebenarnya. Banyak sekali tamu undangan yang datang dan seperti tidak berhenti menyapa dan memberikan ucapan selamat pada mereka. Ia duduk bersama Finny dan Damar. Sementara Dafin mengatakan akan ke toilet. Tapi sebenarnya ia pergi keluar ruangan untuk menghubungi seseorang.
"Halo..."
__ADS_1
"Kamu dimana, kenapa aku tidak melihat kamu di sini?"
"Maaf, aku harus mengurus kepindahanku. Oh ya, Selamat atas pernikahan kamu." Hana bicara dengan antusias, seakan-akan dia juga ikut merasakan bahagia dengan pernikahan itu.
Dafin hanya tersenyum sinis, seakan Hana bisa melihat itu.
"Fin?"
"Hmmm yaa... Terimakasih."
"Ya sudah, aku tutup dulu ya. Acara kamu juga belum selesai kan."
"Baiklah. Aku akan menelpon lagi nanti. Jaga dirimu, jika ada masalah jangan ragu untuk hubungi aku."
Sambungan itu terputus, Dafin menatap lekat foto seseorang di layar ponselnya. Sementara di seberang sana, Hana menarik nafas dalam-dalam demi menahan sesak di hatinya.
"Dafin..." Seseorang menyapa sambil menepuk bahunya. Berbalik dan mendapati Alvi di belakangnya.
"Selamat atas pernikahan kamu dan Navya."
"Ya, terimakasih."
" Ayo masuk."
Alvi menyetujui dan mereka bersama- sama masuk ke ruangan tempat dimana acara itu berlangsung. Alvi mengikuti langkah Dafin untuk menemui Navya. Dari jauh Alvi sudah melihat Navya. "Dia sangat cantik". Hatinya berkecamuk. Bahkan sebelum datang ke acara itu dia butuh waktu yang lama untuk berfikir dan mempersiapkan hatinya. Melatih bibirnya agar bisa tersenyum biasa saat mengucapkan selamat pada Navya dan Dafin.
"Pak Alvi." Navya mencoba berdiri ketika Alvi dan Dafin mendekat ke meja dimana ia dan orangtuanya duduk.
__ADS_1
"Selamat ya atas pernikahan kalian."
"Terimakasih banyak Pak. Mi, Pi, kenalkan ini Pak Alvian, Bos Vya."
Alvi tersenyum pada Damar dan Finny, seraya menjabat tangan mereka. Saat menyentuh tangan Damar ia merasakan desiran di dadanya. Tapi dia tetap tersenyum ramah untuk menutupi itu. "Alvian Mahendra." Dia menyebutkan namanya. Damar tersenyum tipis namun Finny terkejut. Gantian Alvi menjabat tangan Finny. "Kita bertemu lagi Tante, apa kabar?"
"Sa..saya baik." Finny menjawab terbata. Ternyata dia tidak salah, dari awal bertemu Alvi dia sudah curiga bahwa Alvi adalah keturunan Mahendra. Anak dari saudaranya, Indra.
"Silahkan duduk. Kami permisi dulu."
"Terimakasih Tante." Alvi duduk di sana bersama Navya dan Dafin. Sementara Damar dan Finny sudah beranjak dari sana. Damar mengerti apa yang sedang Finny rasakan. Dia bertemu dengan seseorang yang memiliki hubungan darah dengannya. Keluarga yang tidak pernah ia temui selama puluhan tahun.
Bukannya ia tak senang, hanya saja dia belum siap dengan pertemuan mendadak itu. Dia tidak tau apa yang harus ia katakan, bahkan di sana ada Dafin yang masih tidak tau apa-apa tentang masa lalu nya.
Sementara itu di meja yang sama tempat Alvi, Dafin dan Navya duduk bersama "Saya pikir Bapak tidak akan datang."
"Saya pasti datang, saya sudah janji kan."
"Ngomong-ngomong kenapa kamu datang sendiri?"
"Trus dia mau datang bersama siapa ? Mana ada cewek yang mau bersama dia kecuali Asisten pribadinya. Gunung es." Chandra menjawab pertanyaan Dafin. Mereka semua terkejut dengan suara yang tiba-tiba menyahuti tanpa diminta. "Hei bro, selamat atas status baru Lo." Langsung saja ia memeluk Dafin.
"Tuan gunung es, apa aku salah bicara" Dan dia masih menggoda Alvi. Alvi hanya geleng-geleng kepala menanggapi ucapan Chandra. Ia tau betul watak temannya yang suka bercanda. "Oh ya, perkenalkan ini Arisya."
Dia memperkenalkan seorang wanita muda cantik yang berdiri di sampingnya.
"Pantas saja kamu berani mengejekku. Lalu ini adik sepupu kamu yang mana ? Bukannya kamu biasanya mengajak Dinda" Chandra memiliki beberapa saudara sepupu perempuan yang umurnya tidak jauh berbeda dengannya. Dan Dia akan sesekali mengajak sepupu perempuan nya untuk menemani nya dalam beberapa acara agar tidak terlihat jomblo. Alvi tau kebiasaan itu dari dari dulu.
__ADS_1
"Lo bisa aja Al. Tapi yang ini bukan Al, ini perintah Nyonya Besar." Ucapnya sambil menggaruk kepala belakang nya yang tidak gatal." Mereka semua tersenyum. " Sini Sya duduk, kenalin ini teman-teman Mas." Dia memperkenalkan gadis itu pada Dafin, Alvi dan Navya. Arisya menyalami mereka semua seraya memperkenalkan diri. Gadis itu adalah anak dari rekan bisnis orangtuanya, mereka meminta Chandra mengajaknya sebagai langkah awal untuk menjodohkan mereka.
Bersambung