Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Sandiwara


__ADS_3

Pagi itu Navya bangun dari tidurnya, dia tidak menemukan Dafin di kamar itu. Dia mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di dalam. Dia membuka pintunya perlahan, benar saja di dalam sana tidak ada siapapun. Tak lama kemudian pintu kamar hotel terbuka, Dafin muncul di sana.


"Mas Dafin dari mana? Mas Dafin gak tidur di sini ?" Selidik Navya.


"Aku tidur di kamar lain."


"Kamar lain? Kenapa?"


"Kenapa?" Dafin menoleh pada Navya, lalu perlahan melangkah mendekati nya. "Memangnya kenapa aku harus ada di sini bersama kamu ?" Dia berjalan semakin dekat, hingga Navya mundur sampai terduduk di ranjang. "Memangnya kamu mau aku melakukan apa?" Dafin menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Navya, gadis itu menunduk dan memejamkan mata. "Jangan berharap lebih dariku Navya, dan jangan pernah harapkan apapun dari pernikahan ini."


Navya membeku, dia bukannya tidak paham maksud perkataan Dafin padanya. Dafin memang tidak suka padanya, dulu. Tapi sejak menyetujui pernikahan ini, dia berfikir Dafin akan berubah atau setidaknya Dafin akan berusaha menerima dirinya.


Dafin berdiri tegak, lalu berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk dia berhenti kemudian bicara lagi. "Kamu bersiap-siap, kita akan sarapan dengan keluarga di bawah. Tunjukkan wajah bahagia mu dan jangan sampai ada yang tau aku tidak tidur di kamar ini tadi malam."


Navya membuka matanya, masih dengan wajah yang menunduk dia hanya mengangguk saja mengiyakan ucapan Dafin. Dalam diam dia menyesali semuanya. Benarkah dia sudah salah menyangka Dafin berubah, sudah berharap terlalu banyak untuk masa depan pernikahan yang bahkan masih hitungan jam ini apakah keputusan nya menuruti permintaan orang tuanya salah. Tak terasa cairan bening lolos begitu saja dari netra nya. Buru-buru dia menghapusnya saat mendengar Dafin membuka pintu.


"Cepat sana, jangan sampai mereka menunggu lama." Tanpa bicara apapun Navya beranjak dari tempatnya duduk.


Setengah jam kemudian mereka keluar dari kamar itu menuju restoran hotel. Sebuah meja panjang khusus sudah di persiapkan di pinggir area kolam renang untuk sarapan bersama keluarga Wijaya. Navya berjalan di belakang Dafin, hanya diam tidak ada yang bicara. Di dalam lift pun mereka membisu. Setelah keluar dari benda kotak silver itu Dafin menarik tangan Navya, menggenggam nya. Navya sedikit bingung.


"Kita harus terlihat bahagia. Tersenyum." Perintah Dafin menjawab kebingungan nya.

__ADS_1


Lalu melanjutkan langkah menuju meja makan untuk bergabung bersama keluarga besar mereka. Benar saja di sana semua keluarga sudah berkumpul dan menunggu mereka.


"Nah ini dia pasangan pengantin baru yang sudah di tunggu. Lama banget sih turunnya." Finny meledek mereka.


"Mami bisa aja, mami dan papi kan sudah pengalaman." Dafin menyahuti celotehan sang Ibu, untuk menunjukkan bahwa dia sedang senang. Mereka semua tertawa mendengar jawaban Dafin. Sementara Navya hanya tersenyum menanggapi. Mereka berdua duduk bersebelahan dan bergabung dengan yang lainnya.


Setelah selesai sarapan mereka masih duduk bersantai di sana sambil mengobrol.


"Jadi gimana rencana bulan madu kalian?" Seorang wanita yang merupakan adik Damar bertanya. Navya terkejut dan melihat Dafin sekilas. Lalu Dafin yang menjawab karena Navya tidak tau harus bicara apa.


"Mungkin kami akan menunda bulan madu, karena aku masih sibuk Tante. Dan Vya hanya mendapatkan cuti beberapa hari. Tidak apa-apa kan sayang ?" Dia menggenggam tangan Navya dia atas meja. yang ditanya mengiyakan saja.


"Dafin, kamu kan bisa ambil cuti sayang. Kalian baru saja menikah." Finny sedang mengajukan protes. "Masa' kamu langsung mau bekerja?"


"Ya Papi setuju itu. Kamu ajak saja Navya."


"Papi ihh... bukannya belain malah setuju."


"Ya kan gk apa-apa, semakin cepat urusan Dafin selesai kan bagus, setelah itu mereka bisa merencanakan bulan madu."


"Gak apa-apa Mi, Vya gak masalah kok. Lagian Vya ikut Mas Dafin kan. Jadi kalau urusan Mas Dafin selesai kita berdua bisa bersantai di sana beberapa saat sebelum pulang." Dia coba menenangkan Finny.

__ADS_1


"Iya mbak, biarin aja. Mereka kan udah dewasa. Lagian kan Dafin memang sedang sibuk, namanya juga Direktur baru. Masih banyak pekerjaan yang harus di selesai kan dulu. Wajar dong." Ucap tantenya sedikit sarkas.


"Ya sudah kalau Vya setuju." Finny mengalah.


"Tapi kamu yakin Vy, gak mau berhenti kerja aja. Kamu kan bisa kerja di kantor Dafin, sayang."


"Biarkan Navya berkarir dulu di tempat lain Mi. Dafin juga akan selalu mendukung keputusannya. Yang penting Vya nyaman. Oh ya Mi, Dafin udah beli sebuah rumah yang dekat sama kantor Vya. Jadi setelah pulang dari luar kota kami akan pindah ke rumah kami."


"Kamus serius? Kami kenapa gak bilang dulu ke Mami dan Papi ? Sudah menikah malah maminya tinggal." Finny mulai drama. Tidak hanya Finny, Navya yang belum tau apa-apa juga terkejut. Namun dia berhasil menyembunyikan itu, dia berusaha tenang dan ikut dalam sandiwara Dafin.


"Mi, kami berdua kan butuh pendekatan, mengenal lebih baik. Untuk itu kami juga harus punya waktu berdua kan." Mengucapkan itu Dafin seraya melihat ke arah Navya. Menunjukkan bahwa dia sangat ingin menjalankan pernikahan ini dengan tulus. "Selama ini kami tidak begitu akrab, jadi kami akan memulai hubungan ini sebagaimana mestinya. Mami ingin Dafin dan Navya bahagia kan?" Bagi semua orang, kata-kata Dafin terdengar menyentuh, tapi bagi Navya itu seperti sebuah ancaman. Dia memberikan isyarat pada gadis itu agar membantu dia membujuk Finny. Vya mengerti.


"Iya Mi, Vya juga ingin menjadi istri yang baik dan mandiri. Vya akan mengurus semua keperluan mas Dafin." Navya menimpali.


"Tapi kamu kan bekerja juga, pasti kamu kelelahan mengurus semua sendiri."


"Mi, mereka sudah dewasa, sudah menikah. Biarkan mereka menjalankan keputusan mereka sendiri." Damar akan selalu menjadi penengah diantara mereka.


"Iya iya... Tapi kalau weekend kalian harus ke rumah Mami. "


"Iya Mi, Mami dan Papi juga boleh datang kapan aja ke rumah kita." Dafin meyakinkan sang Mami.

__ADS_1


Navya memperhatikan Dafin, sikapnya sangat berbeda dengan Dafin yang bersamanya di kamar tadi. Navya seperti melihat dua orang yang berbeda, dan dia meyakini di depan sana akan ada banyak hal tidak menyenangkan yang akan terjadi dalam pernikahan ini. Terutama bagi dirinya.


Bersambung


__ADS_2