Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Tak bisa memilih


__ADS_3

Alvi mengantarkan Navya pulang. Sementara mobilnya akan di antar oleh Ryan nanti. Dafin yang dari tadi menunggu, melihat dari balik jendela saat Navya turun dari mobil Alvi. Jelas dia cemburu, dia marah dan ingin sekali menghampiri Alvi. Tapi ada hal yang lebih penting dari rasa cemburunya saat ini, bagaimana dia menjelaskan jika benar tadi siang Navya mendengar semua percakapannya dengan Papi.


Baru saja membuka pintu, Navya sudah di sambut pertanyaan.


"Kenapa pulang bersama dia? Mobil kamu kemana?" Nada bicaranya masih biasa, mencoba menahan kesal.


"Nanti di antar sama orang kantor. Mas Dafin udah makan? Vya ganti baju dulu ya, setelah itu Vya buatkan makan malam."


Dafin menarik tangan nya saat gadis itu akan berlalu dari hadapannya, hingga Navya berada tepat di depannya. "Kita perlu bicara sekarang."


Navya menanggapi dengan senyum, tapi Dafin malah bingung dengan sikap istrinya. Jelas siang tadi Navya pasti tau dan mendengar pembicaraan dia dengan Papi. Kenapa Navya malah menanggapi dengan santai, harusnya seperti istri-istri lainnya yang tau suaminya memiliki kekasih lain mereka akan mengamuk, minimal menangis kecewa.


Navya melepaskan tangannya dari cengkraman Dafin, lalu duduk di sofa sementara Dafin masih berdiri dengan bingung.


"Katanya mau bicara, kenapa Mas Dafin malah diam?"


Mengikuti istrinya, dia duduk di sofa tepat di sebelah Navya.


"Kamu gak marah?" Menatap intens gadis di depannya.


"Marah? Untuk apa?"


"Ya maksud aku, kamu ada di sana siang tadi, dan pasti kamu mendengar aku dan Papi."


"Soal kak Hana? Sebelum mendengar pembicaraan tadi siang, saya sudah tau." Jelas keterkejutan terlihat di wajah Dafin.

__ADS_1


"Kamu tau?" mengangguk yakin. "Sejak kapan?"


"Belum lama." Dia tidak pernah memandang wajah Dafin saat bicara. Entah menahan sakit atau tidak ingin melihat wajah Dafin.


"Kamu sudah tau, tapi kamu hanya diam? Kamu bersikap biasa saja." Lalu kenapa Dafin jadi gusar sendiri.


"Lalu, saya harus apa mas? Menemui wanita itu? Wanita yang dicintai oleh suami saya dan mereka saling mencintai."


"Sekali pun dia bukan kak Hana, saya tidak akan melakukannya."


"Kenapa? Kamu istriku kan, kamu bilang mencintaiku. Kenapa kamu tidak marah, apa kamu tidak bersungguh-sungguh dengan perasaan kamu?"


Entah kenapa kata-kata Dafin itu terdengar lucu bagi Navya. Siapa sebenarnya yang salah di sini, kenapa jadi dia yang memojokkan Navya dengan perasaannya.


Kalau Mas Dafin mengharapkan saya bersikap seperti istri yang dicintai suaminya, apa selama ini Mas Dafin melakukan itu? Saya selalu berusaha berperan menjadi istri sungguhan. Bahkan ketika dulu Mas meminta kita bersandiwara sebagai pasangan yang harmonis saya melakukannya sepenuh hati dengan harapan itu akan jadi kenyataan.


Mas Dafin memberikan harapan bahwa saya harus memperjuangkan cinta saya, karena Mas Dafin juga pernah mengatakan Mas sudah terbiasa dengan keberadaan saya, tapi sekali pun Mas tidak pernah mengatakan bahwa Mas Dafin mencintai saya.


Saat tau bahwa Mas Dafin mencintai wanita lain, bahkan sebelum kita menikah, apa saya harus marah? Kenyataannya saya yang sudah masuk di antara kalian, walaupun semua itu dipaksa oleh keadaan. Tapi hanya karena dendam pada saya atau pada takdir, kalian mengorbankan perasaan kalian."


Ada yang membasahi matanya, tapi Dafin bahkan tidak berani mengusapnya ataupun menyela ucapan Navya. "Saya mungkin terlalu naif karena berfikir ketika Mas Dafin berubah dan mulai menerima saya juga pernikahan ini, kita bisa memulai hubungan kita dari awal. Mewujudkan pernikahan yang harmonis dalam balutan kasih sayang. Padahal saya juga tau Mas sudah merencanakan umur pernikahan kita sampai enam bulan saja." Wajahnya sendu, tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Navya sedang menertawakan dirinya.


"Bahkan ketika tau hubungan Mas dengan kak Hana..." Kata-katanya terhenti, karena tanpa dia sadari air mata menetes begitu saja di pipinya. Mengusap wajah sebelum melanjutkan kata-katanya. "ketika saya tau, saya benar-benar kecewa tapi juga sadar saya tidak berhak untuk marah. Saya merasa yang sudah menyakiti dia. Meski begitu saya tetap ingin Mas Dafin hanya melihat saya, hanya mengakui saya sebagai istri, dan calon ibu dari anak-anak Mas Dafin. Saya ingin di cintai, karena saya mencintai Mas Dafin. Apa saya salah, saya seorang istri, saya juga berhak atas suami saya, cintanya, perhatiannya." Suaranya bergetar karena menangis.


Melihat Navya menangis, Dafin tidak tega. Hatinya juga teriris. Pedih. Andai Navya tau, dia juga menyayangi Navya, dia ingin memiliki Navya seutuhnya. Sejak menyadari hatinya jatuh pada gadis itu, dia sekuat hati menahan diri untuk tidak menyentuh nya hanya karena dia takut kalau suatu hari nanti dia harus menepati janjinya pada Hana.

__ADS_1


Perlahan dia menarik Navya dalam dekapannya. Memberi ketenangan padanya.


"Kamu sudah bicara banyak, kamu pasti lelah." Benar. Navya lelah membiarkan hatinya terluka dan menimbun harapan.


"Aku minta maaf. Aku tidak bisa memilih saat ini. Kalian berdua punya tempat di hatiku."


Navya mengusap air matanya. Melepaskan pelukan Dafin lalu menatap lelaki itu. "Mas, seperti yang pernah saya katakan, saya akan menunggu. Saya yakin, suatu saat Mas akan tau siapa yang harus diperjuangkan."


"Saya akan melakukannya, izinkan saya merebut semua hak saya Mas. Mas Dafin mau kan? Kalau sampai enam bulan pernikahan kita saya tidak bisa membuat Mas Dafin mencintai saya sepenuhnya dan Mas Dafin tetap tidak bisa meninggalkan Kak Hana, saya yang akan mundur. Saya akan biarkan Mas Dafin menikah dengannya."


Dafin diam, bagaimana bisa gadis ini menjalani pernikahan padahal mengetahui suaminya memiliki wanita lain. Membiarkan aku menikahinya? Itu artinya dia tidak mendengar semua percakapanku dan Papi. Aku bahkan sudah menikahi nya Navya. Maafkan aku.


"Saya akan berusaha membuat Mas Dafin hanya memilih saya dan mencintai saya. Bukankah cinta harus berjuang?" Navya sedang menyemangati dirinya. Entah memang cinta nya buta.


Dafin tidak menjawab. Kenapa ada wanita seperti ini. Apa hebatnya dirinya sampai-sampai dia dicintai sebesar ini. Sungguh dia semakin merasa bersalah.


"Saya tidak akan memaksa Mas harus melupakan kak Hana sekarang, Mas bisa mencobanya perlahan....." Dafin mencium bibirnya agar dia berhenti bicara. Sepertinya Navya terlalu lelah, mungkin berfikir terlalu banyak. Saat bibir itu masih bersentuhan, Dafin merasakan ada yang membasahi wajahnya. Benar saja, gadis itu kembali menangis, tapi dia tidak melepaskan tautan bibir mereka.


Dafin yang menyadari itu langsung melepaskan tautannya. "Kamu mau istirahat? Aku antar ke kamar ya.."


Navya mengangguk pasrah, dia lelah. Entah karena dia sedang memperjuangkan cinta atau karena terlalu sering memberi harapan pada dirinya sendiri. Padahal lelaki yang ia harapkan masih berada dalam kebimbangan hati, tidak bisa memilih, tapi jika memiliki keduanya pasti akan juga menyakiti semuanya.


Dafin mengantarnya ke kamar untuk istirahat, sebelumnya Navya membersihkan diri dan berganti pakaian. Tidak banyak bicara seperti tadi, dia hanya mengangguk atau menggeleng saat Dafin bertanya atau menawarkan sesuatu. Dafin membantunya naik ke tempat tidur dan menyelimutinya, mencoba membantu agar istrinya tertidur dengan mengusap-usap kepalanya. Tapi Navya malah berbalik membelakangi Dafin, tidak benci dia hanya tidak ingin semakin terbawa perasaan. Keyakinannya berkurang, saat pria yang sedang menepuk pelan kepala nya itu tidak menanggapi apapun yang ia katakan tadi. Tentang perjuangan cinta dan pernikahan mereka. Apa memang hanya dia yang berjuang di sini, sementara lelaki itu tidak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2