
Rumah yang tadinya ramai dengan kehadiran teman-teman dan saudara sekarang menjadi sepi. Hanya ada beberapa pelayan, orang-orang dari penyedia katering dan wedding organizer yang tinggal untuk membereskan sisa acara.
Anggota keluarga Wijaya juga sudah tidak terlihat lagi di kediaman Sultan Mahendra. Selesai acara pernikahan, makan siang dan bercengkrama sebentar, mereka memutuskan untuk pamit pulang. Karena tidak ada acara lainnya dan resepsi akan dilaksanakan dua minggu lagi.
Ada beberapa proyek di kantor cabang luar negeri yang harus diselesaikan Alvi, dan Navya juga harus mengikuti ujian di kampus. Baru setelah itu mereka akan mengadakan resepsi besar di AlviNa Resort.
Papi Damar, Mami Finny, Dafin dan yang lain sudah kembali setelah para tamu undangan berpamitan meninggalkan tempat acara pernikahan. Kakek Sultan dan Nenek Rima sedang ada di kamar untuk beristirahat sambil menunggu waktu makan malam.
Dan kedua pengantin baru juga sudah masuk ke dalam kamar. Alvi membantu istrinya berjalan, karena Navya masih mengenakan gaun pernikahan.
"Saya mandi dulu yaa." Pamit Alvi setelah Navya duduk di depan meja rias di dalam ruang ganti. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum pada suaminya lewat pantulan cermin.
Navya mulai menghapus riasan di wajahnya. Dia juga ingin mandi. Membuka hiasan di rambut yang tadi dipasang dengan sangat rapih oleh penata rambut. Beberapa jepitan sudah ia lepaskan, sebagian lagi dia agak kesulitan melakukannya. Bersamaan pintu kamar mandi terbuka, Navya yang sedang sibuk berusaha membuat jepitan di rambutnya tidak menyadari Alvi yang sudah keluar dr kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya.
Pria itu memperhatikan apa yang sedang istri nya lakukan. Dia tersenyum melihat Navya yang kesulitan membuka hiasan rambutnya. Ia berjalan mendekati.
"Biar saya bantu." Ucapnya sambil menurunkan tangan Navya. Membuat gadis itu terkejut, sejak kapan suaminya itu selesai mandi. Lebih terkejut lagi melihat Alvi yang masih memakai handuk. Seketika Navya menutup mata dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa?" Alvi heran dengan tingkah Navya.
"I... itu... Mas, bisa pakai baju dulu gak. Saya masih belum terbiasa."
Apa dia tidak tau, jantung ku hampir copot melihat tubuhnya yang hanya ditutupi handuk di pinggang.
Alvi melihat bayangannya di cermin, lalu tersenyum. Alvi baru sadar bahwa dia masih memakai handuk.
"Kita kan sudah menikah, memang apa yang salah?" Alvi bicara sambil menurunkan tangan Navya.
Ya memang benar, tapi kan kita masih beberapa jam menikah. Jelas saya masih canggung dengan hal begini.
"Jadi mau saya bantu?" Alvi bertanya sambil menunjuk rambut Navya.
__ADS_1
Navya hanya mengangguk pelan. Alvi mulai menyentuh rambut Navya. Jantung Navya berdebar kembali saat sentuhan tangan Alvi mengenai bagian lehernya. Debaran yang sama saat tadi pada prosesi pernikahan. Apalagi ketika mereka berciuman di depan semua orang, mereka berdua tidak dapat mengontrol debaran hebat di dada masing-masing.
Saat acara pernikahan.
Setelah mereka resmi di nyatakan sebagai pasangan suami istri, Alvi memasangkan kalung pernikahan dileher Navya serta cincin pernikahan di jari manisnya. Lalu bergantian Navya memasangkan cincin di jari Alvi.
Navya mencium tangan suaminya kemudian Alvi melabuhkan ciuman di kening Navya, agak lama. Sambil memejamkan mata, Navya dapat merasakan cinta dan ketulusan suaminya tersalurkan lewat kecupan di keningnya itu.
Para hadirin mulai riuh, bersorak "cium, cium, cium.." Yang tentu saja di pelopori oleh Mami Finny. Ia terlihat meneteskan air mata tadi saat Alvi mengucapkan ikrar pernikahan, namun sekarang dia begitu semangat menggoda pasangan baru itu.
Wajah Navya tampak merona, malu. Begitu juga dengan Alvi sebenarnya. Namun pria itu malah menuruti keinginan para tamu. Secepatnya dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Navya, hingga sang istri tidak dapat menolak saat Alvi menabrakkan bibir mereka. Navya hanya merasakan debaran jantungnya semakin kencang bahkan ketika Alvi sudah melepas kecupan itu.
Kembali ke kamar.
Alvi tersenyum, dia pura-pura tidak tahu kalau dari tadi istrinya melihat pantulan dirinya di cermin. Dan Navya benar-benar tidak sadar, bahkan Alvi sudah menyelesaikan apa yang tadi ia kerjakan. Rambut Navya sudah tergerai bebas, semua jepitan rambut sudah di lepas Alvi. Tapi gadis itu sedang asyik dengan bayangan kilas balik adegan ciumannya dengan sang suami tadi pagi.
Lucunya Istriku. Apa yang ia pikirkan, sampai-sampai tidak menyadari kalau aku sudah selesai dengan rambutnya.
"Istriku, sedang memikirkan apa?" Navya terperanjat. "Kenapa melihatnya sampai begitu, Saya gak akan pergi kemana-mana." Lalu menciumi bahu dan leher Navya dengan lembut. Membuat gadis itu menggeliat karena geli.
"Enggak kok, saya gak mikirin apa-apa." Tapi wajahnya memerah. Seperti ketahuan apa yang tadi ia bayangkan. Sementara Alvi masih menelusuri leher dan bahunya, Navya hanya tersenyum sambil menggenggam tangan Alvi yang melingkar di pinggang nya.
"Hmm... Mas, saya mandi dulu ya." Seakan tau apa itu yang diinginkan suaminya. Alvi tersenyum, masih dengan posisi kepala ada di bahu Navya. Kemudian dia kembali berdiri, lalu mencium kepala Navya.
"Pergilah mandi, setelah itu kita istirahat dulu." Gadis itu menunjukkan pandangan penuh tanya, bukankah tadi suaminya seperti menginginkan itu, kenapa sekarang malah menyuruh istirahat. Alvi tersenyum menyadari sorot mata penuh tanya Navya sambil mengusap kepala sang istri di depannya.
"Saya tau kamu lelah, jadi istirahat saja dulu. Kita masih punya banyak waktu." Ucapnya tersenyum. Gadis itu mengangguk, lalu berdiri dari duduknya. Berjalan menuju kamar mandi dengan dibantu Alvi. Sebelum ia melangkah masuk ke kamar mandi Alvi menarik tangannya, sehingga tubuh Navya menempel dengan Alvi.
Alvi mendekatkan bibirnya di telinga Navya. "Tapi nanti malam saya tidak akan melepaskan kamu." Lalu mengecup pipinya. Wajah Navya memanas demi mendengar ucapan nakal sang suami. Mereka saling berpandangan sesaat, Navya merasa malu dan tidak tahan dengan tatapan intens Alvi padanya. Dia langsung masuk dan menutup pintu dengan terburu-buru. Bersandar di balik pintu sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. Navya tersenyum bahagia.
Sementara Alvi gemas sendiri dengan sikap sang istri yang terlihat malu, pria itu tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Ia bahkan masih tersenyum saat pintu kamar mandi sudah tertutup dan terdengar suara percikan air dari dalamnya.
__ADS_1
Akhirnya cinta berpihak kepada ku, padahal dulu aku sudah membuang jauh harapan untuk bisa memiliki kamu, Navya Istriku.
...💙💙💙...
Mereka turun untuk makan malam bersama. Tidak hanya Kakek dan Nenek, ada sepupu kakek dan juga keponakan Nenek yang masih tinggal. Mereka memutuskan untuk menginap malam ini.
Makan malam itu terasa hangat, semua keluarga Sultan Mahendra sangat bersuka cita menyambut masukknya Navya menjadi anggota baru dalam keluarga mereka. Navya duduk bersama para wanita yang usianya tidak jauh berbeda dengan ibunya, juga anak mereka yang lebih muda usianya dari Navya. Sementara Alvi duduk dengan para tetua. Tapi pandangan matanya tidak berpaling sedikit pun dari istrinya. Ia merasa ada yang aneh dengan istrinya.
"Kak, lihat itu. Kak Alvi bahkan tidak membiarkan kakak lepas dari pandangannya." Ucap gadis muda itu menggoda Navya. Saat dia menoleh, matanya bertemu dengan tatapan penuh cinta dari Alvi. Mereka saling melempar senyum.
Alvi kemudian berjalan menghampiri Navya yang duduk bersama tante dan sepupunya. "Kamu kelihatan agak pucat sayang, kamu sakit?"
"Iya Kak benar, apa kakak sakit? Aku sampai tidak sadar karena terlalu semangat mengobrol."
"Ah, mungkin saya sedikit lelah Mas."
"Al, ajak Navya ke kamar. Istirahat saja dulu Sayang. Jangan sampai kamu sakit, lusa kamu akan ujian kan." Ini suara Nenek.
"Ayo saya antar kamu istirahat di kamar." Navya mengangguk, menyetujui tawaran Alvi. Ia berpamitan pada semua anggota keluarga. Alvi mengantarkan Navya ke kamar.
"Mas keluar saja dulu, Kakek dan yang lainnya masih berkumpul. Temani mereka mengobrol dulu."
"Kamu yakin?"
"Iya Mas, saya gak apa-apa kok. Kan jarang-jarang kalian mengobrol."
"Ya sudah saya kembali ke sana ya." Alvi menunduk mencium kening Navya. "Istirahatlah dulu, agar nanti kamu punya tenaga yang cukup." Lalu dia berjalan keluar kamar dan Navya kembali berdebar karena ucapan Alvi.
Setelah Alvi meninggalkan kamar mereka, Navya merasakan perutnya agak nyeri. Sambil menahan sakit di bagian perut nya, Navya menyadari sesuatu. Mengambil ponsel di laci dan membuka kalender, kemudian bergegas masuk ke kamar mandi.
Bersambung..
__ADS_1