Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Cinta Alvi


__ADS_3

"Kamu sudah makan Yan?"


"Sudah Bos."


"Antar saya ke toko roti saja Yan."


"Baik Bos." Ryan merupakan orang kepercayaan Alvi. Ryan adalah sahabat nya, tapi rasa hormatnya terlalu besar untuk Alvi. Sehingga saat Alvi meminta dirinya untuk tidak terlalu bersikap formal padanya, Ryan sama sekali tidak menggubris. Dia tetap saja memanggil Alvi dengan sebutan Bapak atau Bos. Dia tidak ingin dianggap seenaknya pada atasannya.


"Sudahlah, tidak ada siapapun sekarang. Kamu bisa tidak bersikap biasa saja."


"Saya sudah terbiasa begini kan." ucapnya sambil terkekeh.


"Dasar." Mereka sama-sama tersenyum lebar. Kebahagiaan Alvi memiliki orang yang bisa di ajak bicara dengan bebas dan paling terpercaya. Ryan sangat berhutang budi pada keluarga Mahendra, karena kebaikan mereka terutama Alvi dia bisa melanjutkan pendidikan tertinggi nya. Dan keluarga Alvi pernah membantu operasi Ibunya beberapa tahun yang lalu. Hal itu membuat dia mendedikasikan hidupnya untuk melayani Alvi sebaik mungkin.


Mereka tiba di toko roti InFy Bakery, saat tidak ada Rima toko kue itu di serahkan pengelolaan nya kepada orang kepercayaan dari kantor Mahendra Group. Alvi sesekali datang berkunjung untuk mengecek atas perintah sang Nenek. Alvi masuk ke ruangan pribadi yang khusu di buka hanya ketika dia datang saja. Seorang pegawai toko masuk membawa dua gelas es kopi dan kue keju untuk Alvi dan Ryan.


"Saya permisi Pak." Alvi hanya mengangguk dan tersenyum saat pegawai wanita itu berpamitan keluar.


Dia terlihat senang sekali saat di perintahkan mengantar minuman untuk majikannya. Kapan lagi dia bisa bertemu cucu pemilik toko kue itu yang katanya tampan dan juga kaya.


"Yan, sepertinya gadis tadi tersipu-sipu melihat kamu. Kamu tidak tertarik?"


"Saya rasa dia tersenyum kepada Anda Bos."

__ADS_1


"Hahahaha dia bukan tipe ku. Navya saja tidak pernah tersipu-sipu begitu saat bicara padaku. Gadis seperti Navya itu yang membuat penasaran."


"Kenapa Anda tidak move on saja Bos. Dia sudah menikah."


"Aku tidak bisa melihat wanita lain selain dia, dia sangat istimewa bagiku."


Ryan hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Alvi. Mereka sama-sama mengambil gelas es kopi yang tersedia di depan mereka dan menyeruput isinya.


"Jadi apalagi perkembangan yang kamu dapatkan soal orangtuaku?"


Ryan kemudian meletakkan es kopi milik nya, kemudian memulai ceritanya.


"Saya meyakini semuanya hanya salah paham. Dulu Tuan Damar memang bersahabat baik dengan Nyonya Syifa, tapi tidak pernah ada hubungan yang lebih daripada itu. Bahkan Tuan Damar tau bahwa Nyonya Syifa dan Tuan Indra saling menyukai."


Alvi tidak bereaksi apapun, membuat Ryan yakin harus meneruskan ceritanya.


"Kakek."


"Benar. Saat itu Tuan Wijaya sudah mempertaruhkan sebagian sahamnya untuk bisa mendapatkan tender itu tapi dia kalah. Setelahnya beliau meminta anaknya yaitu Tuan Damar untuk melamar Nyonya Syifa, tapi tuan Damar tidak mau."


Kenapa harus Mama?"


"Sebab Nyonya Syifa adalah putri tunggal yang mewarisi harta dan saham keluarganya, itu di butuhkan Tuan Wijaya untuk menstabilkan keuangan Perusahaan Wijaya. Dendam Tuan Wijaya belum bisa ia lupakan, walaupun saat itu Tuan Damar sudah berhasil memperbaiki keuangan perusahaan mereka."

__ADS_1


"Lalu apa hubungannya dengan kematian orangtuaku?"


"Sebenarnya itu hanya ancaman kepada Tuan Damar, tapi informan yang diutus oleh Tuan besar salah menduga hal tersebut, dan menyampaikan bahwa Tuan Wijaya berupaya untuk mencelakai mereka kalau Tuan Damar tidak mau mengikuti rencana ayahnya agar mendekati Nyonya Finny.."


Ryan masih menggantung cerita nya, menunggu tanggapan Alvi. Karena biasanya dia akan berubah mood jika menyangkut cerita kematian orangtuanya.


"Teruskan..!"


"Tuan Wijaya menyuruh anaknya yaitu Tuan Damar untuk mendekati Nyonya Finny, agar bisa menguasai kekayaan keluarga dan mengacaukan perusahaan Mahendra. Karena dia begitu menyayangi Tuan Indra dan Nyonya sebagai sahabat nya, Tuan Damar menuruti keinginan itu agar ayah tidak jadi mencelakai Tuan Indra dan istrinya.


Dia berhasil mendekati Nyonya Finny tapi Tuan Damar dan Nyonya Finny malah saling mencintai. Namun Tuan Besar yang terlanjur tau rencana balas dendam Tuan Wijaya, tidak merestui hubungan mereka berdua. Beliau takut Tuan Damar akan menyakiti Nyonya Finny."


Alvi masih menyeruput es kopi sambil mendengarkan dengan tenang kelanjutan cerita Ryan.


"Dan informan yang di tunjuk oleh Tuan Besar waktu itu adalah Ayah dari Navya."


Setelah kepergian Damar dan Finny dari rumah besar Mahendra, Wisnu masih terus bekerja dengan Damar. Dia juga masih memberikan informasi tentang hubungan damar dan Finny, melaporkan pada Sultan Mahendra. Lambat laun kepercayaan Damar yang besar pada Wisnu dan sikapnya membuat Wisnu yakin kalau dia benar-benar tidak berniat jahat pada Finny. Apalagi semenjak kematian Tuan Wijaya, tidak ada lagi yang menekan Damar untuk mengacaukan keluarga Mahendra. Namun apa yang Wisnu katakan tidak diterima oleh Sultan, dia malah menganggap Wisnu mengkhianati nya.


Pada saat itu Wisnu memutuskan untuk menjelaskan pada Indra tentang Damar yang benar-benar tulus mencintai Finny, dan Indra bersama istrinya pergi menemui Damar untuk mengajak mereka pulang. Damar setuju, tapi tanpa di duga setelah menemui dia, mobil yang ditumpangi Indra mengalami kecelakaan. Secara kebetulan Damar ada di sana karena memang mereka baru saja bertemu, tapi lagi-lagi Sultan salah paham. Dia menuduh Damar yang menyebabkan kecelakaan itu.


"Penyelidikan saya masih sampai di situ, saya masih mencari informasi soal kematian Tuan Wisnu dan apa hubungannya dengan Tuan Besar."


Alvi bersandar di sofa sambil memejamkan matanya. Rumit sekalipun perjalanan hidup dan cinta nya. Jika memang benar kecelakaan yang dialami orang tua Navya ada hubungannya dengan Kakek, jangan kan untuk mendapatkan cintanya, mungkin Navya tidak akan mau melihatnya lagi. Dia pasti membenci keluarga Mahendra.

__ADS_1


"Navya, apa aku harus menyerah sekarang? Apa memang aku tidak akan punya kesempatan lagi. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan kamu tersakiti, jika memang kita tidak bisa bersama, aku harus pastikan kamu bahagia."


Bersambung


__ADS_2