Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Cucu untuk Mami


__ADS_3

"Sayang, malam ini kamu ke apartemen aku dulu ya. Aku kangen." Hana memeluk lengan Dafin yang sedang menyetir.


"Aku gak bisa Han, Mami minta aku dan Navya makan malam di rumahnya hari ini." Mereka sedang dalam perjalanan pulang, Dafin seperti biasanya mengantarkan Hana dulu ke apartemen wanita itu.


Hana hanya bisa menghela nafasnya berat, sambil memandang keluar kaca mobil. "Kapan ya aku bisa makan bersama keluarga kamu. Tidur sambil memeluk kamu setiap malam."


Dafin memegang tangan nya lembut. "Kamu sabar ya, aku akan berusaha untuk kita." sambil melihat Hana sekilas dan tersenyum.


Hana hanya tersenyum menanggapi.


"Maafkan aku Han, aku masih bingung. Aku tidak tau bagaimana bisa aku melepaskan Navya. Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Tapi aku tidak berbohong kalau aku juga sayang sama kamu. Bolehkah aku jadi serakah? Aku ingin bisa memiliki kalian berdua?"


***


"Vya, aku pulang." Dafin baru saja sampai rumah setelah mengantarkan Hana. Sementara Navya saat mendengar suara mobil Dafin, dia mencoba bersikap polos seperti tidak tau apa-apa.


"Ya Mas.." Muncul dari dapur dengan memakai celemek.


Dafin meletakkan tas dan jasnya di sofa dan berjalan menuju Navya. "Kamu ngapain?"


"Vya lagi bikin cemilan untuk di bawa ke rumah Mami. Mas mau coba?"


Dafin mengulurkan tangannya untuk mengambil yang sudah ada di meja, tapi tangannya di pukul oleh gadis itu.


"Kenapa? Tadi kamu suruh cobain?"


"Ya tapi kan mas belum cuci tangan. Nih Vya suapin aja. Aaaaa...."


Dafin membuka mulutnya saat Navya menyuap makanan yang dia buat. "Enak. Mau Lagi."


"Lagi." suap lagi.


"Lagi." tambah lagi.


"Lagi."


"Iih, Mas Dafin. Makan sendiri sana, cuci tangan dulu." Navya cemberut karena merasa di kerjai oleh Dafin. Tapi saat dia berpaling, Dafin memegang tangannya membuat tatapan mereka terkunci.


"Aku mau makan dari tangan kamu."


Sejenak Navya hampir terbawa suasana namun tiba-tiba bayangan Hana seperti terlihat di mata Dafin. Membuat Navya tersadar dan beralih melihat wajan yang masih berada di atas kompor.


"Duh, hampir gosong kan. Mas Dafin mandi dulu sana, Vya mau melanjutkan ini." Terasa sekali kecanggungan di antara mereka.


"Hmm.. Ya sudah aku ke kamar dulu."


"Iya Mas."


Aku memang ingin mencoba memperjuangkan pernikahan kami, tapi jujur hatiku belum siap menerima kenyataan ini. Walaupun status kami sah sebagai suami istri, tapi tetap saja Mas Dafin mencintai wanita lain, aku sendiri tidak yakin dia juga mencintai aku. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Navya.

__ADS_1


Navya, awalnya kamu memang membencimu. Walaupun aku sendiri tidak yakin, apa sebenarnya yang membuat aku membencimu. Saat ini aku takut untuk dekat denganmu lebih jauh, bahkan aku belum berani menyentuh mu, takut aku akan sangat menyakiti kamu. Tapi aku merasa tidak bisa kehilangan kamu, tidak ingin jauh darimu. Apa benar aku sudah jatuh cinta. Dafin.


***


Dafin sudah ada di dalam mobil, menunggu Navya mengunci pintu. Lagi-lagi Hana menghubungi Dafin, memastikan pria itu tidak melewati batasan nya dalam memperlakukan Navya.


"Han, iya aku tau. Kamu jangan seperti ini terus. Aku tau apa yang aku lakukan." Agak kesal, nada bicaranya sedikit tinggi.


"Kamu kenapa marah sih, aku cuma takut kamu diambil oleh Navya." Dia sudah bernada sedih untuk mencuri perhatian Dafin.


Dafin menghela nafasnya. Mengalah saja pikirnya. "Sayang sudah ya, jangan sedih. Aku minta maaf, oke.. Yang penting kamu percaya janjiku, dan aku akan balas pesan kamu kapan pun. Sekarang sudah dulu ya, Navya sudah akan masuk ke mobil."


"Oke, I Love you sayang."


"Love you too sayang." Tepat saat Navya membuka pintu mobil, Dafin menyimpan ponselnya.


"Sudah siap?"


Istrinya mengangguk sambil tersenyum. Dafin mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumah Damar.


Mereka sedang makan malam bersama sambil berbincang. Dafin tidak lepas dari Hp di sampingnya. Sesekali dia akan mengambilnya untuk mengetik sebuah pesan.


"Dafin, kamu apa tidak bisa Hp kamu disimpan dulu?"


"Maaf Mi." Kemudian dia memasukkan ke dalam sakunya.


"Oh ya sayang, apa sudah ada tanda-tanda?"


Finny bertanya sambil memandang mereka berdua bergantian. Awalnya mereka tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu. Sampai saat Damar mengatakan sesuatu yang membuat mereka berdua terbatuk.


"Cucu untuk Mami."


uhhukkk... Uhhukkk...


Finny malah tertawa, sambil memberikan air minum pada keduanya. "Kompak banget sih."


"Kalo bikin baby nya kompak gak? Lama banget kabarnya."


"Mami apaan sih." Dafin agak kesal.


Navya hanya senyum saja. Tidak mungkin akan ada anak, kalau mereka bahkan belum pernah melakukan apa-apa. Hanya berciuman saja tidak mungkin bisa hamil.


"Mami jangan menekan mereka. Biarkan saja dulu mereka menikmati kebersamaan."


"Mereka sudah bersama selama dua bulan Pi, jangan salahkan kalau nanti mami gak sempat menggendong cucu Mami."


"Mami ngomong apa sih?" Dafin sudah gusar. "Dafin sudah selesai, Dafin duluan." Selera makannya hilang. Tak banyak yang tau pikirannya sedang dipenuhi soal hubungan pernikahan nya, sekarang Mami mendesak untuk memiliki cucu. Dia mendorong kursi nya dan beranjak dari ruang makan.


Navya berusaha mencegahnya tapi Dafin tidak menghiraukan. "Kenapa marah sih? Mami salah ngomong apa?" Damar hanya geleng-geleng kepala, karena dia tau Ibu dan anak tersebut mempunyai sifat yang sama. Sama-sama keras kepala dan apapun kemauannya harus tercapai.

__ADS_1


"Dasar, tukang ngambek."


"Ya sama dong. Anak dan Ibu sama saja." Tambah Papi.


"Papiiii... Emang Papi gak mau punya cucu?"


"Ya mau dong, tapi jangan memaksa mereka. anak itu rezeki dari Tuhan, kalau sudah waktunya pasti mereka akan diberikan kesempatan. Jangan mendesak mereka, yang ada mereka akan stres."


Finny jadi cemberut. Ucapnya suaminya memang tidak salah, tapi dia hanya mencoba memberikan motivasi pada anaknya agar berusaha lebih giat.


"Mami, jangan sedih dong." Navya mencoba menghibur mertua nya. Dia pindah duduk ke samping Finny. "Mami gak salah kok, Vya dna mas Dafin kan baru saja menikah. Belum setahun. Kami masih menikmati masa pacaran. Mami tau kan, hubungan kami di mulai saat kami menikah."


Kata-kata Navya memang ada benarnya. Dia sebenarnya tidak bermaksud mendesak mereka, dia hanya terbawa suasana saat teman-teman arisannya sering memamerkan kelucuan dan kepintaran cucu-cucu mereka.


"Maafkan Mami ya sayang. Mami tidak bermaksud membuat kamu tertekan."


"Vya ngerti kok Mi. Vya tau Mami selalu ingin kami bahagia. Begitu juga Vya dan Mas Dafin. Tapi Mami harus janji, jangan bicara seperti tadi lagi. Mami tau kan kalo Mas Dafin itu sayang banget sama Mami. Dia akan melakukan apapun untuk melihat Mami senang." Navya memeluk Maminya


"Terimakasih sayang." balas mencium kening Navya.


Seusai makan malam Navya menyusul Dafin ke kamar, sambil membawakan coklat hangat dan sepotong kue keju yang tadi mereka beli dalam perjalanan ke rumah orangtuanya.


Navya membuka pintu kamar, mendapati Dafin sedang berdiri di balkon. Meletakkan nampan yang dia pegang ke atas meja, lalu menghampiri Dafin.


"Vya bawakan coklat panas untuk Mas Dafin." Berdiri di samping Dafin tanpa memandang lelaki itu.


"Kamu jangan pikirkan ucapan Mami."


Navya tersenyum miris. "Saya ngerti kok Mas. Tapi Mas Dafin coba mengerti Mami juga. Setiap pernikahan pasti mengharapkan kehadiran anak. Wajar kalau Mami berharap kita memberikan cucu untuk nya."


"Ya, aku paham. Harusnya tadi aku tidak bersikap begitu. Aku hanya merasa bersalah dan kesal karena sudah membohongi Mami."


"Saya sangat menyayangi Mami, kalau memungkinkan saya selalu ingin memberikan apa yang beliau mau. Untuk membalas semua cinta yang saya dapatkan darinya."


"Kenapa kita tidak mencoba berusaha memberikan kebahagiaan pada Mami dan Papi. Apa begitu benci Mas sama saya, sampai saya tidak pantas menjadi Ibu dari anak-anak Mas Dafin?"


Dafin tidak menjawab perkataan Navya. Karena tidak ada tanggapan dari Dafin, Navya melangkah masuk ke dalam rumah. Tapi tangannya di tarik oleh Dafin dan membuatnya berada dalam pelukan lelaki itu.


"Aku minta maaf. Saat ini, aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu."


Navya tersenyum. Dia harus apa? Bahagia atau sedih, meskipun mengetahui suaminya memiliki kekasih tapi sikap lelaki itu membuatnya tidak bisa marah.


"Saya tau saat ini Mas Dafin belum bisa menerima saya sepenuhnya apalagi mencintai saya, tapi saya akan selalu sabar. Saya akan menunggu untuk itu."


Dafin semakin sulit untuk menjawab, dia semakin merasa bersalah. Hatinya mulai dicuri oleh Navya sebenarnya, dia ingin sekali mewujudkan keinginan Maminya tapi entah kenapa dia takut akan menyakiti gadis ini.


Seandainya cuma ada rasa benci ku saja, mungkin aku bisa memiliki kamu sekarang dan menggantinya dengan rasa sayang. Tapi Hana, dia ada di antara kita.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2