
Sore itu mereka kembali ke ibukota. Langsung berangkat setelah acara kencan singkat mereka. Navya dan Alvi duduk di kursi belakang, sementara Diana di sebelah Ryan yang sedang menyetir. Mereka berdua yang di depan hanya diam, karena yang di belakang juga tidak banyak bicara. Hanya saling memandang, berbalas senyum, tapi tangan mereka saling bertaut sejak mereka masuk ke dalam mobil. Sesekali Alvi membahas soal persiapan gaun pengantin Navya dengan Diana.
Malam hari mereka tiba di rumah keluarga Damar, mengantarkan kedua gadis itu. Drama dua orang yang sedang kasmaran itu membuat Diana dan Ryan geleng-geleng kepala sambil mengulum senyum.
Mereka masih mengaitkan tangannya bahkan saat Navya sudah ada di depan pintu. Yang satu belum ingin masuk kalau si pria belum pergi, yang satu tidak akan pergi sebelum si wanita masuk ke dalam rumah. Sampai ketika Damar muncul di depan pintu karena mendengar suara mobil dan perdebatan kecil sepasang kekasih baru itu. Baru mereka saling melepaskan tangannya dan Alvi berpamitan untuk pulang. Rasanya berat untuk berpisah dari gadis pujaannya itu.
"Sepertinya kita harus mengadakan acara pernikahan secepatnya." Damar meledek Navya yang masih memandangi mobil yang perlahan keluar dari pintu gerbang rumah itu.
"Papi apaan sih." Wajahnya merona karena malu. Damar hanya mengelus pucuk kepala anak perempuannya sambil tersenyum.
"Pergilah tidur. Kalian pasti lelah kan."
Navya dan Diana pun berpamitan pada Damar, masuk ke kamar untuk beristirahat.
Dan malam itu Navya tidur sangat lelap.
...💙💙💙...
Sejak pagi rumah sudah heboh dengan suara Mami. Beliau sedang mempersiapkan keperluan untuk acara pertemuan keluarga nanti malam. Sudah meminta Bu Sarah dan Pak Yamin juga untuk datang. Mereka merasa sangat bahagia mendengar kabar rencana pernikahan Navya dan Alvi.
"Kami senang sekali. Semoga mereka berdua selalu diberikan kebahagiaan selamanya." Doa tulus yang di ucapkan Sarah untuk Navya.
Dia datang lebih awal, ingin ikut bantu-bantu persiapan acara. Sebenarnya ini hanya acara makan malam bersama saja, sambil membicarakan soal rencana pernikahan nanti. Tapi semua menyambut dan melakukannya dengan suka cita.
Anak-anak yang ada di panti juga tidak ketinggalan, mereka juga di minta kehadirannya oleh Damar dan Finny. Tapi akan datang sore hari bersama pak Yamin.
Diana sedang sibuk membantu Finny. Sementara Navya tidak diizinkan melakukan apapun, padahal dia juga ingin membantu. Jadi dia hanya di kamar melakukan perawatan tubuh ditemani oleh Hana. Wanita hamil itu juga tidak diizinkan oleh Dafin untuk membantu, dengan alasan Dafin takut ia kelelahan dan mengganggu kesehatan ibu dan janinnya.
Akhirnya dia diberi tugas menemaninya Navya di kamarnya, jadi dia juga ikut melakukan perawatan setelah berkonsultasi dengan dokter dan memilih perawatan tubuh yang aman untuk ibu hamil.
"Kakak sudah menduga sejak lama, Pak Alvi memang menyimpan perasaan pada kamu."
Sekarang mendengar nama Alvi membuat Navya berdebar dan pipinya memerah. Dia tersenyum mendengar ucapan Hana.
__ADS_1
"Apa kamu tidak pernah menyadari?"
"Awalnya memang tidak kak, karena Vya pikir dia baik pada siapapun. Ya walaupun terkadang dia terlihat dingin.
"Walaupun banyak suara yang mengatakan Mas Alvi memperlakukanku berbeda, aku tidak begitu peduli. Mungkin karena saat itu status ku yang sudah menikah."
"Pak Alvi sangat baik, tapi juga tidak egois."
"Darimana kakak tau?" Navya menoleh sepenuhnya pada Hana.
"Dafin pernah cerita, dulu Pak Alvi mengatakan padanya untuk meninggalkan aku demi kamu. Padahal hubungan ku dengan Dafin waktu itu bisa menjadi jalan, kalau saja dia ingin merebut kamu dari Dafin. Tapi dia tidak melakukannya. Dia hanya ingin melihat kamu bahagia."
Navya tidak bisa menahan haru, matanya berkaca-kaca, bibirnya tersungging senyuman. Mengingat bagaimana Alvi begitu menyayangi dirinya. Begitu sabar menunggu dirinya membuka hati.
"Kamu sangat beruntung bisa dicintai olehnya, dan dia juga ga beruntung bisa mendapatkan gadis sebaik kami. Kamu harus bahagia Navya, karena kebahagiaan kamu pasti yang paling penting untuk beliau."
"Terimakasih Kak."
...💙💙💙...
Damar dan Finny menyambut kedatangan orang tuanya dan Alvi. Ada Yamin dan Sarah juga Dafin yang ikut menyambut kedatangan mereka.
"Dimana Istri kamu Nak?" Rima memeluk cucunya sambil menanyakan keberadaan sang istri.
"Hana sedang menemani Navya di kamarnya Nek." Sambil menunjuk pintu kamar dengan kepalanya. .
"Sabar Kak, nanti juga keluar." Meledek Alvi yang malah ikut menoleh ke arah kamar yang ditunjuk Dafin.
Semua orang tertawa melihat wajah Alvi yang merona. Finny mempersilakan mereka semua untuk menuju area taman dekat kolam renang. Ada meja makan panjang yang sudah dipersiapkan di sana. Sementara Dafin menuju kamar Navya untuk meminta mereka keluar.
Di apit oleh Hana dan Diana, Navya berjalan keluar dari kamar menuju tempat dimana semua keluarga sudah berkumpul. Alvi berdiri ketika Navya tiba di ambang pintu. Dia berjalan mendekat lalu menggandeng tangan Navya. Gadis itu tidak dapat menyembunyikan senyuman saat melihat Alvi.
Navya menyapa Kakek dan Nenek terlebih dahulu sebelum duduk di sebelah Maminya. Tatapan mata Alvi tidak berpaling dari gadis itu.
__ADS_1
"Al, jangan dilihat terus. Nanti kamu tidak bisa tidur." Ledek sang Kakek. Padahal Alvi yang diledek, tapi Navya yang tertunduk malu dan mengulum senyum.
Acara makan malam itu berjalan dengan hangat diselingi obrolan keluarga. Diana dan Ryan tidak ketinggalan, mereka juga bergabung di sana. Karena mereka akan menjadi pihak yang sangat berperan penting dalam persiapan acara pernikahan Navya dan Alvian nanti.
Setelah makan malam, Pak Yamin dan Sarah meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Karena mereka harus membawa anak-anak pulang ke Panti. Sementara yang lain sudah duduk santai dan mulai membicarakan soal rencana pernikahan Alvi dan Navya. Dari obrolan itu, sudah diputuskan bahwa pernikahan akan dilakukan seminggu dari hari itu. Dan resepsi akan dilaksanakan dua Minggu setelahnya. Sesuai juga dengan target pengerjaan gaun Navya.
"Bagaimana Al, kamu setuju?" Damar bertanya pada keponakannya.
"Kalau saya, lebih cepat lebih baik Om. Besok juga saya tidak akan menolak." Ucapnya sambil melirik Navya. Alvi terlonjak kaget saat Rima mencubit pinggang nya. Semua orang tertawa melihatnya. Hanya Navya yang wajahnya merona malu.
"Sabar sedikit Al. Hanya seminggu." Sambil nenek menggeleng menatap Alvi.
Akhirnya jamuan makan malam berakhir. Alvi beserta Kakek dan Nenek pamit pulang. Semua orang sudah akan berjalan menuju teras depan, Alvi malah menarik Navya.
"Hanya sebentar, lima menit saja." Menjawab tatapan yang lain. Mereka hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat kelakuan pasangan itu.
"Kenapa Mas?" Tanya Navya saat mereka sudah berdua di dekat kolam renang. Alvi hanya tersenyum dan memandangi wajah Navya.
"Aku cuma ingin melihat kamu lebih lama." Yang dipandangi tersipu, melihat ke arah lain. Tidak tahan dengan tatapan penuh cinta dari Alvi.
Tiba-tiba dia memeluk Navya. Membuat gadis itu membeku sesaat, tapi langsung membalas pelukan Alvi. "Aku gak sabar menunggu seminggu, selama seminggu apa aku bisa tahan tidak bertemu dengan kamu."
"Aku juga akan kangen Mas Alvi." Navya mengurai pelukan mereka. Lalu memegang wajah Alvi dengan kedua tangannya. "Tapi setelah seminggu, kita akan terus sama-sama. Mas sabar ya, aku juga akan sabar menunggu kedatangan Mas di acara pernikahan kita."
Alvi melakukan hal yang sama, menangkup wajah Navya lalu mengecup keningnya. "Aku pasti akan datang. Menjemput pengantinku."
"Ehhem...ehhemm...." Suara seseorang membuat mereka melepaskan tangan masing-masing. Menoleh kikuk pada Dafin dan Hana yang berdiri di dekat pintu, tersenyum melihat mereka. "Kak, Nenek dan Kakek sudah menunggu di mobil."
"Ah, ya... Vy, aku pulang dulu."
"Iya Mas, hati-hati ya."
Dengan berat hati dia harus berpisah selama seminggu dengan Navya. Keduanya dilarang bertemu sampai hari pernikahan.
__ADS_1