
Setelah suasana haru yang tercipta di pemakaman, di sinilah mereka sekarang. Kediaman keluarga Mahendra. Sebelumnya mereka berziarah ke makam orang tua Alvi kemudian dilanjutkan ke makam Hafizah dan Wisnu, orang tua kandung Navya.
Pertemuan ini sudah di rencanakan oleh Alvi sejak beberapa hari. Dia menemui Finny dan Damar untuk mengatakan secara langsung bahwa dia adalah putra dari Indra dan Syifa. Finny yang sebelumnya sudah menyadari itu merasa sangat bahagia. Akhirnya dia bisa memeluk keponakan nya sebagai pelampiasan rindu pada Kakaknya serta sahabat baiknya yang merupakan ibu dari Alvi sendiri.
Sementara Navya masih diam. Belum benar-benar mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Vya... Kamu baik-baik saja Nak?" Rima memperhatikan Navya yang sedari tadi hanya diam.
"Ehhm... Vya baik-baik saja Nek."
"Sayang, kamu pasti bingung yaa... Tapi kami belum bisa menjelaskan secara detail sama kamu tentang apa yang sebenarnya terjadi."
"Benar Sayang, yang pasti kamu tau Nek Rima adalah Ibu kandung Mami. Jadi Alvi dan Dafin adalah saudara sepupu." Ucap Finny sambil melihat ke arah Alvi.
"Vya paham Nek, Mi... Yang tidak Vya mengerti bagaimana Nenek juga mengenal Ibu Vya?"
"Kamu tau almarhumah Mamanya Alvi Nak, Tante Syifa. Kami bertiga adalah sahabat baik. Mami, Tante Syifa dan Ibumu Hafizah. Dulu kami selalu bersama, mereka berdua sering menghabiskan waktu di rumah ini. Bahkan menginap di sini."
"Iya Nak, nenek juga sangat menyayangi mereka berdua. Dan menganggap mereka seperti anak sendiri. Makanya ketika Nenek melihat kamu waktu pertama kali, Nenek teringat akan Ibumu. Kamu sangat cantik, mirip dengan Ibumu."
Navya mengangguk paham. Cukup dia memahami hubungan yang ada diantara keluarga nya, sementara apapun yang terjadi di masa lalu yang menyebabkan Finny memilih berpisah dari kedua orangtuanya bukanlah urusannya. Diam-diam dia melirik Alvi, bagaimana dia menjalani hari-hari nya sekarang. Alvi bukan hanya bos baginya, saat ini Alvi adalah kakak sepupu suaminya.
Dari tadi hanya mereka yang mengobrol, Alvi sesekali menimpali pembicaraan mereka. Banyak yang dibicarakan ibu dan anak itu, juga menceritakan pada Alvi dan Navya tentang sosok ibu mereka. Lain halnya dengan Damar dan Sultan. Mereka hanya bicara saat ada yang bertanya atau mengajak bicara. Sepertinya dalam hati mereka masih tersisa kesalahpahaman yang belum terselesaikan.
"Mama sangat bahagia, akhirnya kita bisa berkumpul lagi. Mama bisa tenang untuk kembali ke luar negeri, ada kalian yang menjaga Al di sini."
"Nenek, Al bukan anak kecil lagi. Tidak harus merepotkan Tante dan Om."
"Ya makanya kamu cepat-cepat cari istri, biar ada yang ngurusin kamu."
"Nenek... " Semuanya tertawa melihat Alvi yang di ledek oleh neneknya.
"Al, mau Tante kenalkan dengan anaknya teman Tante gak ?"
"Gak usah tante, Al belum memikirkan itu." Sekilas dia melirik Navya, entah kenapa Alvi sangat yakin bahwa dia tidak bisa melihat wanita lain selain Navya.
"Tapi Ma, kenapa Mama terburu-buru untuk kembali ke luar negeri? Apa yang terjadi?"
"Oh.. ehmm.. mama tidak apa-apa. Hanya saja Papamu ingin mengajak Mama berkeliling. Selama ini Papa hanya bekerja saja, sekarang sudah ada Alvi yang menggantikan Papa di perusahaan, dan Dafin juga bisa membantu nya suatu hari nanti. Jadi kami memutuskan akan menghabiskan waktu bersama, sebelum waktunya tiba."
"Mama, kenapa bicara begitu. Finny sedih, kita baru saja bertemu tapi mama sudah akan pergi."
"Kamu kan bisa menemui kan kapan saja Fin, Damar tidak mungkin melarang kamu kan." Ucap Sultan sarkas.
__ADS_1
"Papa, jangan mulai lagi."
"Ha..ha..ha... Papa hanya bercanda."
"Oh ya Vya, kamu telepon Dafin. Minta dia jemput kamu disini. Rumah kalian hanya beberapa menit saja dari sini, Mami juga akan mempertemukan Nenek dan Kakek dengan Dafin."
Oh ya ampun, Navya lupa. Dia belum mengabari Dafin bahwa dia ada di rumah keluarga Mahendra. Tapi apa Dafin pernah perduli kemana dia pergi, mungkin tidak.
"Baik Mi."
Navya menjauh dari mereka yang duduk di sana untuk menelepon Dafin. Dia tau Dafin jarang untuk mengangkat teleponnya darinya dan dia tidak mau mereka semua curiga. Maka dia memilih menjauh untuk mengirim pesan terlebih dahulu agar Dafin mau mengangkat teleponnya.
"Kenapa?"
"Maaf Mas, Mami yang minta Vya menelpon Mas Dafin."
"Ya sudah. Terus kenapa ?"
"Mami minta Mas Dafin menjemput Vya."
"Memangnya aku supir kamu? Seenaknya saja kamu!"
"Maafin Vya Mas, Vya sedang ada di rumah keluarga Pak Alvi. Mami dan papi juga ada di sini. Ada yang ingin Mami perkenalkan ke mas Dafin."
"Maaf Mas, Vya benar gak bohong. Mami yang minta Vya telepon Mas Dafin meminta Mas datang ke sini."
"Ya sudah terserahlah. Kirim kan alamat nya."
"Baik Mas."
Navya mematikan panggilan itu. Dia berdiri sebentar di dekat pintu yang menghadap ke kolam renang. Menghela nafas berat, bicara dengan Dafin padahal melalui ponsel membuat dia gugup. Saat ini Dafin secara terang-terangan menunjukkan kebencian padanya, cara bicaranya juga tidak pernah lembut kecuali saat berada di depan orang lain.
"Vy?" Dia terkesiap ketika sebuah suara memanggil nya. Apa Alvi mendengar pembicaraannya dengan Dafin tadi.
Navya kemudian berbalik. "Ya Pak. Saya baru saja menelpon Mas Dafin."
"Apa dia bisa datang?"
"Tadi Mas Dafin bilang dia mau ke sini."
"Sepertinya sekarang kamu bisa panggil saya dengan sebutan lain. Seperti Mas misalnya, saya ini kakak sepupu Dafin artinya saya juga kakak sepupu kamu kan."
Navya terdiam, bingung harus menjawab apa. Rasanya aneh jika harus memanggil Alvi dengan sebutan lain.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya..."
Alvi tertawa, apalagi melihat wajah bingung Navya. "Jangan tegang begitu. Saya gak akan memaksa kamu, panggil saya senyaman kamu saja."
"Oh ya, saya melihat kamu selalu membawa sapu tangan berwarna biru di dalam tas."
"Darimana Bapak tau?"
"Bisa saya meminjamnya sebentar?"
"Sebentar Pak, saya ambilkan dulu." Setelah merogoh di dalam tasnya, dia memberikan sehelai kain berwarna biru itu pada Alvi.
Alvi menerima nya kemudian dia duduk di sebuah sofa lalu membuka lipatan nya. Navya memperhatikan apa yang akan Alvi lakukan dengan saputangan itu.
"Kalau saya boleh tau, darimana kamu mendapatkan ini?"
"Sebenarnya saya tidak begitu ingat, tapi yang saya tau saputangan itu selalu saya bawa kemanapun. Kalau saya tidak salah ingat, dulu ada seorang anak laki-laki yang memberikan itu untuk membalut luka saya." Alvi tersenyum mendengarnya. Tapi malah membuat Navya heran.
"Kamu lihat tulisan ini."
"AIS."
"Apa Kamu bisa menebak arti dari tulisan ini?"
Navya ikut duduk di sebelah Alvi. Alvi memberanikan saputangan itu pada Navya kembali. Dia memperhatikan dengan seksama tulisan itu.
"Itu adalah inisial nama tiga orang."
Kemudian Navya sadar, secepatnya dia mengalihkan pandangannya pada lelaki di sampingnya. Alvi tersenyum.
"Bapak si kakak baik itu?"
Pria itu mengangguk dan memberikan tatapan lembut pada gadis di sebelahnya.
"Ya ampun, saya benar-benar gak nyangka. Bahkan dari dulu bapak sudah jadi penyelamat saya. Sampai sekarang saya selalu merepotkan Bapak. Terimakasih banyak ya Pak."
"Jangan sungkan... Saya senang melakukan."
Apalagi jika saya diberikan kesempatan seumur hidup untuk menjaga kamu, dengan senang hati saya akan melakukannya.
"Apalagi sekarang kamu adalah istri dari sepupu saya, audah menjadi tugas saya juga menjaga kamu kan."
"Apa?? Sepupu??"
__ADS_1
Bersambung