Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Tertunda


__ADS_3

Alvi masuk ke kamar saat Navya sedang tidur. Dia sudah terlelap. Pria itu menghampiri istrinya, mengusap kepala Navya dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Navya. Mengecup pipi, mencubit hidung mancung gadis itu.


Dia bahkan tidak mengganti bajunya. Apa dia lupa ada janji dengan suaminya.


Wajahnya terlihat meringis dan menggumam dalam tidurnya, yang Alvi pikir karena dia sudah mengganggu tidurnya. Alvi tersenyum melihat lucunya Navya.


Setelah selesai mengganggu istrinya, Alvi masuk ke ruang ganti untuk berganti baju. Kemudian dia naik ke tempat tidur, masuk ke dalam selimut yang sama yang dipakai oleh Navya. Memeluk tubuh Navya sambil menciumi seluruh wajahnya. Belum sadar juga, Alvi beralih ke telinga Navya.


"Sayang...." Bisiknya di telinga gadis itu. "Navya sayang....."


"Hmmmmm" Sambil menggeliat.


"Navya... sayang... ayo bangun....." Navya bergerak, merubah posisi menghadap Alvi. Pria di sampingnya tersenyum. Kemudian mengecup bibir yang tepat berada di depannya. Dia kecup beberapa kali, namun Navya tetap tidak meresponnya. Kemudian Alvi menciumnya. Navya melenguh, tapi tiba-tiba dia memalingkan wajahnya sambil meringis kesakitan.


"Aahhh... Sakit...."


Alvi terkejut dan panik melihat reaksi Navya. Aku tidak menggigit bibirnya tapi kenapa malah kesakitan.


"Vy.... kamu kenapa?"


"Ssshhhh..... sakit...."


"Vy bangun... Navya.... sayang....." Sambil menepuk-nepuk pelan pipinya. Akhirnya Navya membuka matanya perlahan tapi masih meringis kesakitan.


"Mas Alvi, sakit...."


"Yang mana yang sakit sayang?" Alvi bingung, sepertinya dia belum melakukan apapun, hanya mencium bibirnya saja.


Navya memeluk perutnya sendiri. "Sakit Mas, perut Vya sakit."


"Kita ke rumah sakit sekarang ya." Sudah akan turun dari tempat tidur dan ingin menggendong Navya. Tapi lengannya di pegang.


"Minum obat saja Mas, ada di tas."


"Tapi kamu kesakitan begini, atau saya panggil dokter saja ke sini."


" Gak usah Mas, saya minum obat saja. Nanti juga baikan."


"Kamu yakin? Saya khawatir dengan keadaan kamu." Alvi benar-benar panik, pasalnya tadi Navya baik-baik saja, mengaku hanya sedikit lelah.


"Ambilkan saja obat di tas yang berwarna pink, setelah minum itu saya akan baik-baik saja." Ucapnya terbata sambil menahan sakit.


"Oke, sebentar saya ambil."


Alvi lalu mencari obat yang Navya maksud, memberikannya pada Navya bersama segelas air hangat yang tadi ia ambil dari dapur. Navya meminumnya, lalu dia meminta Alvi untuk berbaring di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Di turuti saja oleh suaminya. Navya memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Alvi. Sesekali Alvi merasakan tangannya diremas oleh Navya saat nyerinya datang.


Beberapa menit kemudian Navya sudah agak tenang, rasa sakit di perutnya juga agak berkurang. Navya membuka matanya, tadi setelah meminum obat dia mencoba untuk tidur tapi malah tidak bisa tidur. Menoleh ke arah suaminya, terkejut ternyata Alvi juga tidak tidur. Malah tatapan mata mereka bertemu. Alvi menatap istrinya dengan ekspresi yang penuh tanya. Penasaran apa sebenarnya yang terjadi.

__ADS_1


"Mas gak tidur?"


"Kamu sakit? Kenapa tidak memberi tahu sejak tadi?"


Tapi Navya malah tersenyum dan mencoba untuk duduk. Alvi membantunya bangun dan bersandar pada dipan. "Mas jangan marah ya!?"


Mengerutkan dahinya, Alvi semakin bingung dengan kata-kata Navya. "Hmmm... gimana ya, saya bingung menjelaskannya bagaimana."


Alvi menghela nafasnya. "Kamu tinggal bicara saja, saya janji tidak marah."


"Tapi saya malu." Navya benar-benar malu, dia bahkan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Alvi tertawa melihat tingkah istrinya yang menggemaskan. Kemudian dia memegang kedua tangan itu dan menarik tangan itu dari wajah Navya. Alvi langsung menyerang bibir Navya tanpa aba-aba. Mereka berciuman sangat dalam, sampai Navya juga menikmati tautan itu.


Saat Alvi mencoba menjatuhkan tubuh Navya, gadis itu melepaskan ciumannya. "Sebentar Mas, saya belum selesai bicara."


"Ya terus, kamu mau bicara apa?"


Navya menarik nafasnya perlahan, meyakinkan hatinya bahwa ia memang harus mengatakannya pada Alvi. Dia menarik lengan suaminya agar mendekat dan Navya bisa menjangkau telinganya, lalu berbisik memberitahu sesuatu sambil malu-malu.


Awalnya Alvi terkejut, agak kecewa, tapi akhirnya dia tertawa sambil mengacak-acak rambut Navya. Dia merasa lucu, sementara Navya masih merasakan malu.


"Ya sudah, ayo kita tidur." Sambil menarik selimut. Navya masih dalam posisi duduk, sementara Alvi sudah berbaring.


"Mas gak marah?"


"Kenapa saya harus marah? Itu kan bukan salah kamu."


"Heemmmm...." Tapi dia tiba-tiba menarik Navya untuk ikut berbaring, Navya kaget sampai berteriak. Alvi langsung memeluknya. "Tapi saya ingin tidur sambil memeluk kamu." Gadis itu tersenyum dan membalas pelukan Alvi. "Tapi nanti setelah itu berakhir, kamu harus bersiap. Karena saya tidak akan melepaskan kamu."


Navya tidak menjawab, dia hanya tersenyum tersipu sambil mengeratkan pelukannya pada suaminya.


"Mas?"


" Hmmm.. ada apa?"


"Apa gak lebih baik kita merubah panggilan kita? Rasanya masih seperti Bos dan sekretaris."


"Iya sayang..."


"Aku Sayang kamu Mas."


"Aku juga mencintaimu Sayang." Navya yang sudah tidak mengantuk mengganggu Alvi yang sudah memejamkan matanya dengan mengecup beberapa kali bibir pria itu.


Alvi hanya tersenyum tapi matanya terpejam.


Jangan menggangguku Navya, apa kamu tidak tau itu akan menyiksa ku.


Navya masih mengganggu suaminya. "Sayang, jangan memancing sesuatu."

__ADS_1


"Tapi aku sudah tidak mengantuk.. hehehe."


"Sini aku peluk biar kamu bisa tidur." Merengkuh tubuh sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya. Menciumi rambut Navya yang wangi. Gadis itu pun merasa sangat nyaman dalam pelukan Alvi, apalagi sambil bahunya di tepuk-tepuk seperti menidurkan anak bayi. Hingga akhirnya Navya tertidur lelap.


Alvi bangun perlahan agar tidak membangunkan Navya. Menyelimuti istrinya agar tubuhnya tetap hangat. Lalu dia masuk ke kamar mandi untuk melakukan suatu pekerjaan penting. 🤭


......💙💙💙......


Di luar jendela suasana masih gelap. Tapi percikan sinar matahari di ufuk timur sudah tampak membiaskan cahaya. Navya sudah bangun sejak tadi sebenarnya. Tapi karena hari masih gelap, dia kembali masuk ke dalam selimut bersama suaminya.


Sejak tadi dia memperhatikan wajah Alvi yang sedang tertidur lelap. Menyentuh alis mata yang hitam tebal, mengelus rahang tegas milik suaminya dengan punggung tangannya, telunjuknya menelusuri tulang hidung mancung itu sambil tersenyum bahagia. Tidak menyangka bahwa lelaki tegas yang baik hati ini sudah resmi menjadi suaminya.


Melihat bibir Alvi, Navya jadi berdebar. Membayangkan ciuman yang kemarin mereka lakukan. Rasanya Navya menginginkan nya lagi. Dia tertawa tanpa suara, menertawai dirinya yang mesum.


Mengecup bibir Alvi tiga kali, pria itu masih terlelap. "Selamat pagi suami ku."


Lucunya, dia tidur lelap sekali. Sampai dicium pun tidak bangun.


Kemudian mengusap bibir itu dengan jari telunjuknya. Tapi tiba-tiba...


"Aawwww!"


Navya terkejut, saat jarinya digigit oleh pria yang masih memejamkan matanya itu.


"Mas.... iiihhh... Sakit..." Sambil mengibaskan jarinya. "Mas udah bangun?" Pria itu tersenyum tapi matanya belum terbuka. "Masss..." Navya menepuk pipi Alvi.


"Siapa suruh kamu diam-diam menyentuh wajahku." Kali ini dia sudah membuka matanya.


"Mas udah bangun dari tadi?"


"Hemmm... Sepertinya begitu?"


"Iihhh... Mas Alvi.. Kenapa pura-pura tidur sih."


"Ya biar dapat ciuman selamat pagi dari kamu."


Navya membuat wajah cemberut, malah Alvi jadi gemas melihat istrinya. Tanpa aba-aba dia menyerang Navya. Membuat gadis itu gelagapan. Alvi memberi jeda agar Navya bisa bernafas sebentar.


"Kalau mau memberikan ciuman selamat pagi itu seperti ini." Dia memegang kedua pipi Navya, lalu perlahan mendekat lagi ke wajah Navya sampai bibir mereka bertemu. Kali ini Navya bisa mengimbangi serangan Alvi. Tangannya bahkan meremas kaos yang digunakan suaminya. Tiba-tiba Alvi melepaskan ciumannya. Navya sampai bingung dengan sikap suaminya.


"Cukup. Aku takut tidak bisa menahan diri. Sudah cukup dengan mandi air dingin malam tadi."


"Kenapa Mas Alvi mandi malam-malam?"


"Gerah."


Sejenak Navya bingung, tapi lama-lama dia menyadari sesuatu. Lalu tertawa sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


Menyadari Navya sedang menertawakan dirinya, Alvi membalas istrinya dengan menggelitik pinggangnya. Pagi itu mereka lalui dengan bercanda di atas tempat tidur. Pagi pertama pengantin baru.


__ADS_2