
Undangan Pernikahan sudah sampai pada anggota keluarga besar, rekan bisnis dan para petinggi perusahaan. Atas permintaan sang Kakek, acara sakral itu akan dilaksanakan di kediaman Sultan Mahendra.
Sejak pagi Navya sudah dirias dengan sangat cantik. Aura kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. Membuat kecantikannya lebih sempurna. Tubuhnya berbalut gaun pengantin hasil karya sang sahabat, yaitu Diana. Perhiasan yang ia desain sendiri, sudah menghiasi leher dan pergelangan tangannya. Menyempurnakan penampilannya pagi ini.
"Aku yakin, pak Alvian tidak berkedip nanti. Dia pasti rugi jika sedetik saja tidak memandang wajah kamu."
"Apa sih kak." Dia tersenyum malu, padahal hal itu masih dalam ucapan Diana saja. Tapi wajahnya sudah memerah seakan apa yang diucapkan Diana sudah terjadi. Hana yang ikut menemani Navya, juga tersenyum lucu melihat adik iparnya.
Alvi tau, kalau sejak pagi Navya sudah tiba. Dan sedang ada di paviliun belakang. Tapi dia tidak diperbolehkan keluar dari kamarnya sampai acara dimulai nanti.
"Saya hanya ingin minum Yan, tidak kemana-mana."
"Saya sudah ambilkan Pak." Kata Ryan sambil menunjuk tiga botol air mineral yang sudah tersedia di atas meja. "Tolong sabar sebentar saja, nanti juga Anda pasti bertemu dengan calon istri Anda."
Menyerah, akhirnya Alvi duduk lagi di sofa. Sambil memainkan ponselnya. Sebenarnya dia mengetik pesan untuk Navya. Entah kenapa dia seperti ini, biasanya Alvi adalah pria yang penuh dengan ketenangan dan pandai mengontrol emosi. Tapi hari ini dia sangat tegang dan cemas.
Ternyata seperti ini rasanya akan menikah. Ah, aku bahkan tidak sabaran ingin bertemu Navya. Bagaimana penampilannya dengan gaun pengantin ya. Ngomong-ngomong soal penampilan, dia kemudian berdiri dan mencatutkan dirinya di depan cermin. merapikan pakaian yang ia kenakan, menepuk pundak, rambut, memutar tubuh ke kanan dan ke kiri, memastikan penampilannya hari ini sudah sempurna. Tersenyum menertawakan dirinya sendiri.
Duduk kembali di sofa dan menatap keluar jendela, dari gerbang depan terlihat para tamu undangan sudah berdatangan. Pelayan berjalan ke sana kemari, sibuk mempersiapkan makanan dan minuman.
Halaman rumah itu sudah disulap menjadi tempat akad nikah. Bertemakan garden party, nuansa hijau, bunga putih, biru dan pink mendominasi dekorasi di setiap sudutnya. Acara pernikahan yang walaupun di selenggarakan di rumah, namun tidak mengurangi kesan mewah.
Kursi dan meja yang disediakan untuk tamu sudah hampir penuh, itu artinya sebentar lagi acara akan segera dimulai. Alvian menarik nafasnya, mengurangi kegugupan yang ia rasakan. Melihat jam tangannya, sudah yang kesekian kalinya lakukan sampai Ryan yang tadi sedang mengecek persiapan bawah, membuka pintu kamarnya dan memberitahukan bahwa acara sudah bisa di mulai. Semua tamu undangan dan keluarga sudan menunggu.
Alvi memastikan sekali lagi penampilannya sudah sempurna lalu berjalan keluar dari kamarnya diikuti oleh Ryan. Kakek dan Nenek sudah berdiri di depan tangga saat dia turun. Alvi memeluk nenek dan kakeknya, berharap dengan memeluk mereka dia bisa mengurangi perasaan gugupnya.
__ADS_1
Kakek menepuk pundaknya cucunya. "Mana Alvian Mehendra yang tegas dan berwibawa." Alvi tersenyum dengan ucapan sang Kakek. "Ayo kita temui calon istri kamu sekarang."
"Iya Kek." Alvi berjalan didampingi Rima dan Sultan di kanan dan kirinya. Semua mata tertuju pada mereka bertiga saat langkah mereka melewati pintu rumah utama sampai duduk di kursi khusus yang sudah disediakan di dekat altar.
Pembawa acara mengucapkan selamat datang pada mereka. Dan selanjutnya dia mempersilahkan agar mempelai juga menempati kursi yang sudah di sediakan. Alvi menatap antusias ke arah dimana Navya berjalan masuk dengan di dampingi Finny dan Damar, dibelakangnya ada Sarah, Hana dan Diana. .
Cantik.
Mas Alvi sangat tampan.
Damar dan Finny mengantar Navya sampai duduk di sebelah Alvi. Pria itu berdiri untuk menyambut calon istrinya, menarik kursi agar Navya bisa duduk. Setelah itu dia juga duduk kembali. Sesekali mereka berdua saling melirik dan mengulum senyum.
...💙💙💙...
Hafizah, maafkan kesalahan ku. Hari ini lihatlah, anak kita, putri kecil kita, dia akan menjemput kebahagiaannya. Dengan anak dari sahabat kita juga. Kak Indra dan Syifa, Alvi sudah menjadi seorang suami. Aku yakin dia akan menjaga Navya dengan sepenuh hatinya.
Navya juga ikut menangis saat memeluk sang Mami. Dia merasa sedang memeluk ibunya, Hafizah. Tadi sebelum acara pernikahan, dia sempat berfikir seandainya Bunda masih ada, dia pasti akan sangat bahagia bisa mendampingi dirinya menikah. Tapi buru-buru dia menepis angan-angan kosong nya itu, itu hanya akan membuat dia bersedih. Harusnya ini menjadi hari yang bahagia untuk mereka.
Bunda, terimakasih sudah menitipkan Vya pada Mami. Mami sangat baik, lebih dari baik. Dia sangat tulus menyayangi Vya. Saya yakin Bunda pasti juga sedang tersenyum bahagia di sana bersama Ayah melihat kebahagiaan kami di sini.
Terselip doa-doa yang tulus untuk mereka berdua saat Alvi dan Navya menerima ucapan selamat dari para undangan. Meski ada beberapa anggota keluarga Wijaya yang menatap iri pada Navya. Mereka adalah menantu dan beberapa sepupu Dafin.
Si anak panti yang di besarkan oleh Damar Wijaya, bahkan pernah menjadi menantu, sekarang malah menikah dengan pewaris Mahendra Group. Sepupu mantan suaminya.
Pandainya dia menggoda para pria. Setelah Dafin, sekarang CEO Alvian.
__ADS_1
Pantas saja dia minta bercerai dari Dafin, dia memilih yang lebih banyak hartanya.
Para sepupu yang tidak pernah menganggap Navya sebagai saudara sejak dulu, karena Navya bukanlah anggota keluarga Wijaya yang sebenarnya. Dia hanya anak angkat. Tidak sudi aku menganggap dia sebagai saudara.
Begitu lah mereka dan sampai sekarang masih tidak ingin mengakui Navya sebagai saudara, kalau bukan untuk mencari muka di depan Damar dan Finny.
Kedua mempelai tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka. Senyuman terus menghiasi wajah Navya dan Alvi sepanjang acara berlangsung. Setelah upacara pernikahan selesai, acara berubah menjadi santai dan para tamu dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang tersedia. Masing-masing mereka mengobrol dan bercanda. Ada beberapa yang sudah lama tidak bertemu, ada yang serius sambil berbincang soal pekerjaan. Alvi dan Navya juga berbaur dengan yang lainnya. Karena memang konsep acara pernikahan mereka adalah kekeluargaan.
Alvi dan Navya duduk di meja yang sama dengan Dafin, Hana dan Chandra. "Kalian benar-benar membuat aku sakit jantung. Aku hanya pergi ke luar negeri beberapa minggu saja, tapi kenapa keadaan sudah begini." Chandra yang belum tau ceritanya, menatap heran pada kedua pasangan suami istri didepannya.
Yang dia tau Navya adalah istri Dafin, tapi saat dia datang tadi Dafin menyambut dirinya ditemani oleh seorang wanita hamil yang sedang menggandeng tangannya. Sejenak dia berfikir Navya sudah melakukan operasi plastik, hingga wajahnya berubah. Tapi malah dia melihat nama pengantin wanita yang tertera di Altar adalah Navya. Benar saja saat pengantin wanita berjalan menuju tempat pernikahan, Chandra dibuat kaget. Dia memang tidak memperhatikan siapa di dalam undangan, nama mempelai wanita yang akan dinikahi sahabatnya. Karena dia sudah sangat bahagia dan antusias mendengar bahwa Alvi akan menikah.
"Sekarang bukan saatnya mengulas soal itu. Hari ini adalah hari bahagia mereka." Menunjuk Navya dan Alvi dengan ekor matanya. "Tidak baik mengungkit masa lalu. Masalah itu sudah lewat, sekarang yang penting kami sama-sama sudah bahagia." Dafin menyudahi rasa penasaran Chandra.
"Ya,, benar juga. Aku ikut bahagia untuk kalian semua."
"Jadi kamu sendiri, kapan kalian akan memberikan kami undangan?" Ngomong-ngomong hari ini Chandra tidak datang sendiri, ada seorang gadis cantik yang menemani dirinya. Chandra menoleh pada gadis itu saat Alvi bertanya. Dia membalas senyuman Chandra.
"Ah iya, perkenalkan ini Andini."
"Panggil saja Dini." Gadis itu tersenyum sambil memperkenalkan dirinya.
"Kami masih menjalani saja dulu. Menikmati masa perkenalan kami. Tapi mungkin secepatnya aku juga harus merencanakan itu, karena bisa jadi seseorang akan berusaha membuatku iri dengan kehidupan pernikahannya." Dia terang-terangan menatap Alvi.
"Lihat saja sekarang, mereka sudah pamer kemesraan." Tangan Navya dan Alvi yang masih terpaut sejak tadi mereka duduk di sana. Awalnya masih di bawah meja, tanpa sadar sudah ada di atas meja sehingga dapat dilihat semua orang. Buru-buru Navya melepaskan, karena malu. Mereka semua tertawa melihat tingkah Navya. Tapi Alvi malah meraih kembali tangan istrinya dan menggenggamnya lagi seperti tadi.
__ADS_1