Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Muncul Tiba-tiba


__ADS_3

Pagi ini Navya sangat bersemangat. Senyuman mengembang secercah mentari pagi ini. Dia bersenandung di meja kerjanya, obrolan singkat dengan Dafin malam tadi membuat nya sangat bahagia. Teman-temannya ikut tersenyum melihat tingkahnya. Alvi yang baru keluar dari lift juga bisa melihat rona bahagia di wajah sekretaris pujaannya itu. Dia kesal, namun mencoba menetralkan emosinya di depan Navya. Dia menghampiri meja gadis itu dan hanya berdiri saja, tapi Navya bahkan tidak menyadari.


"Navya, jadwal saya hari ini!" Ucapnya mengagetkan Navya, lalu dia langsung berjalan masuk ke dalam ruangan nya.


"Siapp Bos...!" Navya segera mengambil tablet dan menyusul Alvi ke ruangan nya.


Navya sudah membacakan jadwal Alvi sampai sore hari. Siang ini mereka punya janji dengan klien di dua tempat yang berbeda. Salah satunya dengan sahabatnya, Chandra.


"Kamu hubungi Chandra, saya mau ganti tempatnya. Samakan saja tempatnya dengan Bapak Kevin di Kafe Emerald."


"Siap Bos." Jawaban Navya itu selalu membuat Alvi tersenyum lucu.


"Kenapa Pak, aneh ya saya jawab begitu?"


Alvi menggeleng dan masih tersenyum. "Enggak kok, saya suka."


"Saya suka sama kamu." tambahnya dalam hati.


Kemudian di balas tersenyum oleh Navya.


"Ada lagi yang Bapak butuhkan?"


"Saya mau kopi."


"Baik Pak." Kali ini Alvi mengerutkan dahinya. Navya yang menyadari langsung tertawa.


"Siapp Boss!" Sambil mengangkat tangan dengan gaya hormat.


Berbalik dan berjalan menuju ke arah pintu, pandangan Alvi tidak putus sampai Navya hilang dibalik pintu. Membuka ponsel miliknya, dia melihat foto-foto yang dikirim Ryan kemarin padanya. Alvi bisa saja menunjukkan itu pada Navya sekarang, tapi itu tidak menjamin Navya akan langsung berpindah hati padanya. Tapi jika semakin lama dia menyimpan ini, perasaan Navya akan semakin dalam untuk Dafin dan itu akan membuat Navya menjadi sangat terluka nantinya. Alvi bimbang, bagaimana dia bisa mengungkap semua rahasia Dafin dan Hana secepatnya.


"Navya, saya harus apa?!"


"Eh, kenapa Pak?" Tanpa Alvi sadari Navya sudah muncul di dalam ruangannya lagi dengan membawa secangkir kopi di atas nampan.


"Kalo saya gak salah, saya barusan dengar Bapak menyebut nama saya!?"


"Oh,... enggak... itu.. saya tiba-tiba ingin minum teh."


"Oh, ya sudah saya ganti dulu Pak."


"Tidak usah!" Saat Navya sudah mau berbalik dan keluar lagi, Alvi mencegahnya. "Bawa saja kopinya ke mari."


Navya kembali berjalan menghampiri Alvi dan meletakkan kopinya di meja. "Silahkan di minum Pak."


"Terimakasih."

__ADS_1


***


"Sayang maaf ya kita harus pulang lebih cepat dari rencana awal. Aku janji, kita akan pergi liburan lagi lain kali."


"Iya sayang, gak masalah kok. Lagipula ini proyek penting buat kita, untuk perusahaan kamu." Mereka berdua harus pulang lebih awal dari rencana sebelumnya. Ada hal yang harus mereka urus di perusahaan dan akan bertemu dengan pihak yang akan bekerjasama dengan perusahaan.


"Sepertinya kita masih sempat mengembalikan koper ke apartemen kamu dulu dan bersiap, setelah itu kita ke Kafe Emerald." Ucap Dafin sambil melihat jarum jam di tangannya.


"Oke.."


Mobil Dafin melaju ke apartemen Hana. Dia berencana akan menginap satu malam di sana sebelum pulang dan menemui Navya. Tapi sebelum itu, mereka ada janji temu dengan seorang rekan bisnis di sebuah Kafe. Dafin juga tidak memberi tahu siapapun soal kepulangan nya, termasuk Navya.


***


Setelah menemui klien pertama mereka, Navya dan Alvi belum beranjak dari tempat mereka. Karena selanjutnya janji temu mereka dengan klien kedua, yang tidak lain adalah Chandra, masih di tempat yang sama.


"Jam berapa jadwal yang kamu janjikan dengan Chandra?"


"Jam dua siang siang Pak. Tapi kenapa beliau belum datang ya, saya hubungi asistennya dulu ya Pak." Navya sudah akan mengeluarkan ponsel dari tas tapi Alvi mencegahnya.


"Tidak usah, biarkan saja. terkadang dia memang suka datang terlambat. Kita tunggu saja sampai jam tiga."


"Iya Pak."


Akhirnya mereka hanya duduk berdua di sana sambil menunggu kedatangan Chandra. Alvi mencari kesempatan untuk mencari tau bagaimana hubungan Navya dan Dafin?


"Vy, boleh saya tanya sesuatu?"


"Ya, kenapa Pak?"


"Apa Dafin pernah meminta kamu untuk resign dari pekerjaan kamu?"


"Sejauh ini sih gak pernah Pak. Memang nya kenapa Pak?"


"Saya merasa Dafin tidak senang jika kamu sering bersama saya."


"Memang setiap hari saya ketemu sama Bapak. Saya kan sekretaris Bapak. Jadi apa masalah nya."


"Ya mungkin saja Dafin cemburu sama saya."


"Hahaha...Gak mungkin lah Pak."


"Hal yang wajar kalau seorang suami cemburu jika istrinya bersama pria lain. Apalagi saya pria normal, bisa saja saya jatuh cinta sama kamu atau sebaliknya."


Sebenarnya Navya terkejut dengan kata-kata Alvi. Tapi apa yang dia katakan ada benarnya.

__ADS_1


"Tapi kan Mas Dafin sepupu Bapak, mana mungkin dia bisa cemburu pada kakak sepupu nya sendiri. Lagipula, Mas Dafin tidak akan peduli saya sedang apa dan bersama siapa." Navya langsung terdiam, menyesali kata-katanya yang terakhir.


"Kenapa begitu?"


"Oh, maksud saya Mas Dafin tidak pernah melarang saya bekerja atau kemanapun. Dia memberikan kepercayaan penuh pada saya."


"Lalu kamu juga percaya sepenuhnya sama Dafin?"


"Ya.. Kenapa tidak. Bukankah hubungan yang baik itu harus saling percaya?!"


Alvi mengangguk setuju. "Tapi saya hanya mau kamu ingat pesan saya. Tolong jangan sakit dan terluka." Alvi bicara sambil menatap bola mata Navya. Pandangan mereka terkunci selama beberapa detik, gadis itu kikuk karena tatapan Alvi padanya sangat dalam. Alvi tersenyum, lalu bangun dari kursinya.


"Saya mau ke toilet sebentar. Kalau sampai saya kembali Chandra belum juga datang, kita kembali ke kantor."


Tanpa menunggu jawaban Navya, Alvi meninggalkan nya.


Ketika Alvi kembali dari toilet, terdengar keributan di meja tempat dia dan Navya duduk tadi. Terlihat ada seorang pria tidak dikenal di sana mengganggu Navya yang membuat nya tidak nyaman. Navya mencoba pergi dan menghindar tapi pria itu malah menarik tangannya. Dengan cepat Alvi berlari dan menarik tubuh Navya ke belakangnya.


"Jangan coba-coba mengganggunya!"


Pria asing itu tersenyum sinis. "Santai Bro, gue cuma mau kenalan aja. Cewek Lo cantik." Ucapnya menantang dan memandang Navya dengan tatapan tidak sopan. Alvi yang sejak tadi sudah menahan emosi tidak bisa lagi membendung amarah nya. Satu pukulan mendarat di pipi pria tersebut yang membuatnya terjerembab. Pria itu langsung bangun dan kabur dari hadapan mereka saat Alvi hendak memukulnya lagi.


Sementara di belakangnya Navya terlihat ketakutan, Alvi dengan sigap membantunya duduk di kursi. Tanpa sadar Alvi menggenggam tangannya, berusaha membuatnya tenang. Sementara Alvi berjongkok di depan Navya.


"Kamu baik-baik saja? Apa ada yang luka?"


Navya tidak bisa menjawab, dia hanya menggeleng saja. "Kamu tenang ya, ada saya di sini." Ucapnya sambil menepuk-nepuk lembut punggung tangan Navya.


Namun tiba-tiba tanpa mereka sadari seseorang menarik Alvi dan mendaratkan satu pukulan di wajahnya. Sampai dia terjatuh dan bahunya membentur meja.


"Jangan kelewatan Alvian Mahendra! Beraninya kamu menyentuh istri ku!"


Tidak tau dari mana dan entah sejak kapan dia ada di sana tapi melihat Alvi memegang tangan Navya, Dafin merasa tidak suka. Setelah memukul Alvi sampai terjatuh, dia menarik tangan Navya dan pergi dari sana. Melupakan bahwa ada seseorang yang terlihat kecewa, karena tidak menyangka dengan sikapnya barusan.


Hana tersenyum miris. Pandangannya mengikuti langkah sepasang suami istri yang berjalan keluar dari kafe. Baru saja dia merasa bahagia ketika Dafin menikahinya beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang dia menyaksikan sendiri, hati Dafin tidak lagi utuh untuknya. Hati dan pikiran pria itu sudah terbagi.


Alvi berdiri dan merapikan jas yang ia kenakan. Hana tersadar masih ada orang lain di sana, seketika dia merubah ekspresi wajahnya menjadi menjadi biasa saja.


"Anda tidak apa-apa Pak?"


"Ya, Saya baik-baik saja. Saya permisi."


Hana mengangguk dengan hormat pada Alvi. Tapi baru beberapa langkah, Alvi kembali berbalik.


"Oh ya, saya cuma mau bilang. Selamat atas pernikahan kamu." Tersenyum dan pergi meninggalkan Hana yang terpaku di tempatnya.

__ADS_1


"Darimana dia tau soal pernikahan?"


Bersambung


__ADS_2