
Di balik rasa rindunya pada Navya, Finny bersyukur ada Hana yang menemani dirinya di rumah. Kali ini Finny mengurangi kegiatannya di luar atau berkumpul dengan teman-temannya. Dia lebih suka di rumah bersama menantunya. Terkadang dia mengajak Hana untuk berkunjung ke toko kue milik sang Ibu.
Hana belajar banyak di sana, dia akan sangat antusias jika di ajak melihat proses produksi. Tapi Finny tidak mengizinkan dirinya untuk ikut mengerjakan proses pembuatan, Hana hanya boleh memperhatikan.
Terkadang mereka bertemu dengan Alvi. Tapi sejauh ini Alvi hanya datang sesekali saja, dia mempercayakan semua urusan toko kue pada Tantenya itu. Mereka saling bertukar kabar Navya. Tapi ternyata Navya lebih sering berkabar dengan Alvi, tepatnya karena Alvi yang setiap hari menanyakan keadaannya. Bahkan hampir setiap waktu, kalau Navya sedang lengang.
"Oh ya, Navya tidak bilang kalau dia punya teman baru. Akhir-akhir ini juga jarang sekali menelpon."
"Mungkin dia belum sempat mengabari Tante. Dia sedang semangat mengikuti kegiatan di kampus. Program mahasiswa baru membuat dia sibuk.
"Tidak apa-apa, Tante senang kalau di sudah menemukan teman. Pasti dia akan lebih semangat menjalani aktivitas nya."
"Tapi jangan sampai dia tertarik dengan pria bule. Huhh, Tante gak akan merestui. Bisa-bisa nanti Navya gak akan pulang lagi ke sini." Finny bicara sambil menunjukkan ekspresi jutek yang di buat-buat. Hingga membuat Hana dan Alvi tersenyum lucu.
Itu tidak akan pernah terjadi Tante. Tidak akan ada yang berani mendekati Navya sampai dia selesai kuliah. Batin Alvi.
Obrolan singkat mereka beberapa hari yang lalu. Saat itu Alvi hanya mampir sebentar karena dia hanya kebetulan lewat dan melihat mobil Tantenya ada di sana. Setelah bertemu Finny, Alvi dan Rian bergegas pergi dari sana. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia rampungkan, sebab dia ingin segera bertemu Navya.
***
"Mi.."
Hana muncul dari ruang produksi saat Finny mengantarkan keponakannya keluar dari pintu toko.
"Sayang, kamu dari mana?"
"Sampai berkeringat?"
Melihat peluh di dahi wanita yang sedang hamil itu, belum ia usap dengan sempurna.
Hana hanya tersenyum sambil mengelap keringatnya dengan tisu yang ada di tangannya. Dan itu membuat Finny mengerti apa yang dilakukan menantunya.
"Kamu ini, kan Mami sudah bilang. Jangan ikut mengerjakan kegiatan produksi. Kamu bisa kelelahan nanti."
"Hehe.. maaf Mi. Hana hanya ingin belajar membuat kue. Beberapa hari lagi kan ulang tahun Papi, Hana ingin kali ini Hana yang membuat kue nya."
__ADS_1
Finny terkejut, tidak menyangka menantu nya itu mengetahui tanggal lahir suaminya. Dia juga sadar, sikap dingin yang selalu di tunjukkan Damar. Itu pertanda hatinya masih belum bisa menerima Hana sepenuhnya. Hanya dia tidak ingin mengorbankan kebahagiaan anaknya lagi, jika gadis itu adalah pilihan Dafin. Tapi Finny sendiri yakin, Damar tidak benci seperti yang terlihat. Damar hanya butuh waktu saja, agar dia melupakan semua kesalahan Hana. Tentunya menantu mereka juga harus bekerja keras untuk mengambil hati ayah mertuanya.
Finny memeluk Hana. Sedikit iba dengan gadis itu. Tapi dia akan selalu mendukung apapun yang akan dilakukan Hana.
"Sayang, terimakasih ya. Kamu sudah mau bersabar dengan sikap Papi. Kamu tenang saja, Papi itu sebenarnya seorang yang hangat, hanya saja... "
"Iya Mi, Hana tau kok. Mami jangan berterima kasih begitu. Sikap Papi ke Hana jalan2 ga bukan tanpa alasan, tapi itu bentuk kecewanya. Karena dulu Hana sudah mengacaukan keluarga ini."
Finny mengurai pelukan itu. " Sudah jangan bicara yang aneh-aneh lagi. Ayo kita pulang, nanti kasian calon cucu Mami. Kalau ibu nya lelah, dia juga pasti lelah."
"Iya Mi." mengangguk setuju.
***
Damar sedang menikmati secangkir kopi di ruang keluarga. Sambil menonton televisi, yang menampilkan siaran berita tanah air. Saat Hana dan Finny kembali dari toko kue.
"Papi lagi nyantai?" Finny langsung duduk di sebelah suaminya.
"Iya." Damar hanya melirik sebentar pada istrinya. Lalu kembali fokusnya pada layar di depan.
"Hana ke belakang dulu ya Mi, Pi. Mau menyiapkan kue."
Damar melirik, diam-diam pandangannya mengikuti langkah wanita yang sedang mengandung cucu pertama penerus keluarga Wijaya. Bobot tubuh Hana sudah mulai terlihat berisi, sejalan dengan usia kandungannya.
"Mami jangan terlalu sering mengajaknya keluar. Dia kan sedang hamil."
"Kalau Hana di rumah saja, nanti dia bosan dan itu bisa menyebabkan setres. Gak baik untuk ibu hamil Pi."
"Iya sih, tapi bisa kelelahan. Gak baik juga untuk kondisinya dan bayinya kan." Finny tersenyum, dia tau suaminya tidak sekejam itu untuk bersikap tidak perduli pada menantunya.
"Cieee... si Papi kelihatan banget khawatir sama calon cucu."
Damar seperti tertangkap basah. Dia langsung kikuk. "Bukan begitu, Papi cuma kasihan sama Mami. Kalau tiba-tiba dia pingsan atau kenapa-kenapa kan Mami juga yang repot, apalagi kalau sedang ada di tempat umum."
"Oo ya... masa sih cuma karena itu?"
__ADS_1
"Iya, memang apa yang Mami harapkan."
"Sayang, terimakasih sudah membawakan kue nya." Finny beralih pada pemandangan di belakang tubuh Damar.
Damar membeku, kenapa dia tidak tau kalau Hana sudah ada di sana, memegang nampan berisi dua piring potongan kue dan dua gelas jus jeruk.
"Ini Pi kue nya." Menghidangkan kue dan jus di atas meja, di depan Damar.
"Heemm..." Mata kembali fokus pada layar televisi.
"Sini sayang duduk, kita makan bareng kue nya."
"Hana ke kamar dulu aja Mi, mau bersih-bersih. Sebentar lagi Dafin pulang. Lagipula tadi di toko Hana sudah banyak icip-icip." Tolaknya dengan senyum. Tentu dia akan merasa canggung untuk duduk di sana bersama mertuanya dengan sikap Damar yang masih cuek padanya. Kondisi yang tidak nyaman untuk Hana.
"Baiklah. Kamu istirahat saja dulu setelah mandi, sambil menunggu Dafin pulang."
"Iya Mi. Hana permisi." Menunduk lalu melangkah ke kamarnya.
Finny mengangguk lalu melirik suaminya yang pandangannya mengikuti langkah Hana menuju ke kamar.
"Si kakek ini, gengsinya di besar sekali." Finny mengambil segelas jus yang tadi di bawakan Hana. Dan memberikan pada suaminya.
"Kalau peduli yang peduli aja, jangan ditutup-tutupi."
"Apa sih Mi." Meminum jus jeruknya. Lalu mengambil sepiring kue dan memakannya.
"Enak gak Pi?"
"Hmmmm.." kunyah-kunyah sambil mengangguk menikmati rasa kue yang ia makan. "Enak.." Suap lagi ke mulut.
Finny tersenyum lucu melihat sang suami memakan kue nya dengan lahap. "Mami gak makan? Enak loo.."
"Buat Papi aja deh." Mengambil piring bagiannya dan menyodorkan ke depan suaminya. "Mami masih kenyang. Mau mandi dulu."
"Ya sudah." Meletakkan piring kosong dan mengganti dengan piring yang masih berisi kue dan memakannya.
__ADS_1
Finny bangun lalu membungkuk mendekat ke wajah suaminya. "Itu kue buatan Hana, kalau Papi mau besok-besok Mami bisa minta Hana buatkan lagi untuk Papi." Melangkah meninggalkan suaminya yang masih terpaku.
Tapi Damar malah menertawakan dirinya sendiri sambil melihat bergantian ke arah kamarnya dan kamar anaknya, memakan lagi kue yang ada di tangannya.