Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Bersikap Manis


__ADS_3

Navya gelagapan saat menemukan Dafin ada di sebelah nya. Yang dia ingat kemarin dia tidur di sofa, kenapa malah jadi di ranjang dan bersama Dafin. Buru-buru dia bangun, lupa bahwa kakinya terkilir.


"Aww!" Dia langsung menutup mulutnya saat tanpa sengaja dia berteriak karena merasakan sakit di kakinya.


Suaranya jelas saja membuat laki-laki yang masih terlelap itu membuka matanya. Navya masih duduk namun tak berani menatap Dafin, dia pikir Dafin akan marah karena sudah terganggu mimpinya.


"Maaf Mas, Vya gak sengaja bikin Mas Dafin bangun."


Dafin diam saja, dia hanya duduk dan bersandar di tempat tidur. Diamnya Dafin membuat Navya semakin yakin bahwa Dafin sedang kesal padanya. Navya berusaha bangun perlahan, untuk mengambilkan air putih. Kebiasaan Dafin meminum air putih saat bangun tidur.


"Mau kemana?" Dafin bertanya dengan nada yang lembut. Membuat Navya menoleh karena terkejut, Dafin yang biasanya akan bicara keras saat kesal malah bertanya dengan lembut padanya. Mata mereka bertemu, malah membuat Navya salah tingkah.


"Oh, itu.. Mau ambil air putih untuk mas Dafin." Sambil mengalihkan pandangannya.


"Gak usah, nanti aku ambil sendiri. Kamu istirahat aja."


"Tapi Vya mau bantuin Mami di....."


"Ck... kamu nih keras kepala. Mami gak akan mungkin ngizinin kamu ke dapur. Kaki kamu masih sakit. Lagian ini masih jam 5 pagi." Lalu Dafin bangun dari duduknya.


"Mas mau kemana?"


"Mengambil air putih." Ucapnya sambil membuka pintu dan keluar dari kamar. Navya tersenyum, kali ini dia beruntung mendapati Dafin yang berbeda dari biasanya.


"Mas Dafin mulai berubah jadi lebih baik. Aku yakin, mas Dafin sebenarnya memiliki hati yang lembut. Aku akan sabar untuk pernikahan ini. Demi kebahagiaan keluarga kami." Gumamnya sambil matanya mengikuti langkah Dafin yang keluar dari kamar.


"Kamu mau apa?" Ternyata Dafin sudah kembali dari dapur tanpa Navya sadari. Suara Dafin mengagetkan Navya yang sudah berdiri dan melangkah kan kakinya perlahan.


"Ke kamar mandi Mas."


"Kan kamu bisa nunggu aku. Biar aku bantu." Ucapnya sedikit kesal. Dafin meletakkan segelas air putih di meja. Lalu mendekati Navya.


"Gak apa-apa Mas, Vya bisa sendiri."


Dafin diam saja, dia memapah Navya berjalan sampai pintu kamar mandi. "Kamu jangan berfikir aneh-aneh. Ini semua karena aku sedikit merasa bersalah, aku juga yang menyebabkan kamu jatuh. Dan juga karena kita sedang ada di rumah Mami, aku gak mau mereka berfikir kalau aku tidak peduli sama kamu." Tapi Navya hanya menanggapi itu dengan senyuman. Baginya tak masalah. Apapun alasan Dafin, perubahan sikapnya sudah membuat Navya bisa membangun harapan untuk mempertahankan pernikahan.


Dafin membiarkan Navya masuk ke kamar mandi. Dan dia menunggu sampai gadis itu selesai. Bahkan Navya tidak menyangka kalau Dafi masih di sana untuk menunggu dirinya. Dan masih membantu Navya berjalan ke sofa.


"Tadi Mami bilang kamu sarapan di sini saja. Nanti Bi Ani akan mengantarkan sarapan kamu."


"Vya makan di meja makan aja Mas, bareng sama Mami dan Papi juga."


"Sekarang kamu suka membantah aku ya, jangan mentang-mentang aku sedikit melunak kamu jadi seenaknya."


"Maaf Mas." Navya pasrah. Dafin kembali ke mode galak. Menurut nya Dafin terlalu berlebihan. Padahal Navya masih bisa berjalan sendiri, pelan-pelan dia bisa kok. Tapi dia hanya menghindari perdebatan.


"Aku mau mandi. Jangan kemana-mana."


"Iya Mas."


Tapi sebelum masuk ke kamar mandi Navya memanggil nya.


"Mas."


"Hmm...?"


"Bisa tolong ambilkan Handphone?" Bukankah dia tidak boleh bergerak dari sofa ini, jadi tidak salah kan jika dia meminta bantuan. Walaupun terlihat sedikit kesal, Dafin tetap menurut dan melakukan apa yang diminta Navya.


"Terimakasih.." Tapi pria itu tidak menjawab apapun dan melangkah ke kamar mandi.

__ADS_1


***


"Navya gak ikut sarapan?"


"Dia sarapan di kamar Mi.. Tadi Dafin suruh Bi Ani antar makanan ke kamar."


"Trus kenapa kamu gak sarapan di kamar juga? Kan kasihan istri kamu malah makan sendirian."


"Gak apa-apa lah Mi, kan udah lama aku gak sarapan bersama Mami dan Papi."


***


Setelah sarapan Dafin kembali ke kamar. Navya sedang disibukkan dengan ponsel di telinga nya sambil membalik sebuah berkas di tangan nya. Dafin melihat sarapan nya bahkan belum habis.


"Hmm... iya Pak. Nanti akan saya cek lagi."


"Oh, apa tidak merepotkan Pak?" Dafin langsung melirik, dia tau dengan siapa Navya bicara. Sudah pasti itu Alvi.


"Baik Pak, maaf ya Pak saya jadi merepotkan Bapak. Selamat Pagi."


"Kamu bisa kan habiskan makanan kamu dulu baru mengurus pekerjaan kamu." Langsung saja bicara, sementara panggilan telepon Navya dan Alvi belum terputus. Karena untuk menghormati bosnya Navya tidak pernah menutup telepon duluan.


"Oh, itu tadi Pak Alvi..."


"Harusnya Bos kamu mengerti, dia kan yang memberikan izin kamu untuk cuti dan istirahat. Kenapa sekarang masih pagi begini dia sudah menghubungi kamu dan bicara soal pekerjaan. Bahkan kamu sedang sarapan."


"Mas, Tadi Pak Alvi bukan menelpon untuk membahas pekerjaan. Dia menanyakan keadaan Vya. Malah Vya yang merasa tidak enak, ada beberapa laporan yang harus di tandatangani hari ini malah Vya bawa pulang. Dan Pak Alvi akan mengambilnya ke sini. Vya yang bicara soal pekerjaan duluan."


"Mas Al mau ke sini?"


"Iya Mas. Mau mengambil laporan."


Di sela pembicaraan Navya dan Dafin, Alvi menutup panggilan telepon nya.


Sebenarnya Dafin berniat berangkat lebih awal. Walaupun jadwal keberangkatan pesawat nya pada jam empat sore, dia akan menunggu di apartemen Hana sekalian menjemput gadis itu. Tapi mendengar Alvi akan datang, dia menundanya. Dan membuat alasan untuk Hana.


"Bukannya Mas mau berangkat lebih awal karena ada urusan? Kenapa masih di sini?


Dafin sudah bersiap sebenarnya, tapi dia tidak langsung berangkat. Dia duduk santai di sofa sambil menonton acara TV yang tidak benar-benar dia perhatikan. Dia diam-diam memperhatikan Navya yang sedang memeriksa ulang laporan yang akan diambil Alvi nanti.


"Oh itu, Hana sudah mengurus nya. Jadi aku bisa agak santai."


Ketukan di pintu kamar mereka, Bi Ani yang memanggil.


"Mas Dafin, mbak Navya... Di panggil Ibu. Katanya ada tamu."


"Oh ,iya Bi. Kami ke sana."


"Baik Mbak."


"Sepertinya itu Pak Alvi. Ayo Mas."


"Ayo aku bantu kamu keluar." Dafin sudah berdiri di samping Navya dan akan memapah nya keluar kamar.


"Vya bisa kok Mas." Menolak secara halus.


"Gak apa-apa. Aku bantu kamu." Memegang tangan Navya sambil sebelah tangannya memegang map berisi laporan.


Awalnya Navya memang menolak, tapi bohong kalau dia tidak senang dengan perlakuan Dafin pagi ini. Dia merasa seperti istri yang dicintai.

__ADS_1


Cinta. Mungkin Navya terlalu berharap, tapi dia tidak menyerah. Terbiasa bersama mungkin saja bisa membuat Dafin jatuh cinta padanya.


Mereka keluar kamar, dengan Dafin yang membantu Navya berjalan.


"Pelan-pelan..." Ucapnya lembut saat mereka hampir sampai di ruang tamu dan membantu Navya duduk. Sudah ada Alvi, Finny dan Damar di sana.


"Hai kak."


"Hai Fin. Apa kabar kamu?"


"Aku baik, istri ku yang sedang tidak baik."


"Ya, saya tau. Makanya saya ke sini untuk menjenguk Navya."


"Saya udah baikan kok Pak, kalau Bapak suruh kerja hari ini saya juga bisa."


"Jangan aneh-aneh. Masih sakit begitu malah mau kerja. Yang ada kamu merepotkan bos kamu." Ucap Dafin.


"Saya tidak pernah merasa direpotkan, tapi ada baiknya Navya istirahat saj beberapa hari. Saya bisa datang langsung ke sini jika memerlukan bantuannya, jadi dia tidak perlu ke kantor dulu."


"Loh kamu kenapa belum berangkat? Tadi katanya mau ada yang diurus di kantor sebelum ke bandara?"


"Ah,, iya Mi. Sebentar lagi berangkat."


'Kalau aku tau si Alvi mau ke sini, aku gak akan cari alasan untuk pergi lebih awal. Aku hanya menghindari untuk bersandiwara di depan Mami dan Papi'


"Kalau Mas Dafin mau berangkat sekarang juga gak apa-apa." Ujar Navya. Sebenarnya dia juga sudah gelisah, Hana berulang kali menelpon nya. Walaupun sudah diberikan alasan oleh Dafin, tapi Hana tetap mengiriminya pesan dan bertanya kenapa Dafin belum sampai di apartemen nya.


'Sepertinya dia senang dengan kehadiran Alvi, tapi tidak mungkin Alvi akan melebihi batas. Di sini ada Mami dan Papi.'


Tanpa sadar Dafin melihat Alvi tapi hanya bicara dalam hati. Semua orang melihatnya dengan tatapan aneh. Alvian cukup mengerti arti dari tatapan itu tapi dia mencoba tenang.


"Mas..?" Navya mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung tadi.


"ha... oh iya.. Aku berangkat sekarang ya. Kamu baik-baik. Kalau kamu belum bisa bekerja, lebih baik minta tambahan cuti."


"Kalau kamu khawatir sama istri kamu, ya kamu tunda dulu lah keberangkatan kamu." Gagas Damar.


"Iya bener. Kamu kayak orang kebingungan gitu sih Fin.?!" selidik Finny.


"Enggak kok Mi. Ya udah. Dafin pamit." Lalu menyalami kedua orangtuanya dan dia kembali ke hadapan Navya. "Aku pergi."


"Iya Mas, hati-hati ya." Giliran Navya yang mencium tangan Dafin kemudian Dafin mencium keningnya. Adegan itu membuat Navya terkejut. Finny yang senyum-senyum. Dan Alvi yang mengalihkan pandangannya ke arah lain dan itu di sadari Dafin. Dia merasa puas sudah membuat Alvi cemburu.


Setelahnya Dafin berjalan meninggalkan mereka semua di ruang tamu dengan senyum tipis dan melirik sekilas pada Alvi. Sementara pipi Navya masih merah, dia malu. Jika saja kakinya tidak sakit, dia sudah beralasan ke toilet agar bisa beranjak dari sana.


"Ya sudah, kalian ngobrol aja. Mami masih yang mau mami kerjakan, Al minum kopinya ya sayang. Tante tinggal dulu." Finny tau, yang akan mereka bicarakan hanya sekedar masalah pekerjaan, padahal itu hanya alasan Alvi saja agar bisa menemui Navya.


"Iya, Papi juga mau keluar sebentar. Al, om tinggal yaa.." Pamit Damar pada Alvi.


"Iya Om.."


Epilog:


"Mi, nanti Vya gak usah makan siang di kamar ya. Gak enak, Vya bisa kok keluar kamar."


"Loh, Mami gak nyuruh kamu makan di kamar kok. Kan Dafin yang nyuruh Bi Ani. Tanya aja tuh orangnya." Finny menunjuk bi Ani yang sedang menyusun masakan di meja makan.


"Mas Dafin yang suruh Mbak, bukan Ibu."

__ADS_1


bersambung


__ADS_2