
Navya belum bisa tidur. Memikirkan foto cincin pertunangan yang yang di tunjukkan Alvi tadi. Navya yakin itu miliknya, desain yang pertama kali ia buat. Sederhana, tidak mewah, tapi Navya menyukainya. Meski suka membuat desain dan melihat perhiasan mewah dan cantik tapi Navya tidak terlalu suka untuk memakainya. Dia lebih suka yang sederhana untuk dipakai.
Jadi dia simpan desain cincin sederhana itu untuk dirinya sendiri. Bermimpi jika dia menikah, dia ingin membuat cincin pernikahan di dengan desain miliknya, tapi karena pernikahannya dengan Dafin yang tiba-tiba Navya tidak pernah membuka buku desainnya lagi.
"Aku tidak salah kan. Itu milikku. Bahkan tidak pernah menunjukkan itu pada siapapun." Dia berjalan mengambil sebuah kotak di dalam lemarinya. Membukanya dan mencari sesuatu di dalamnya.
"Masih di sini, jika ada yang mengambilnya tidak mungkin masih tersimpan rapi di sini." Bergumam dia sambil menyimpan lagi kotaknya ke dalam lemari.
"Hhheehh... Mungkin hanya kebetulan saja. Siapapun kan bisa membuat gambar yang sama. Aku terlalu banyak berfikir sepertinya."
Dia kembali ke tempat tidur tapi karena tidak bisa memejamkan mata, akhirnya dia mengerjakan desain yang di minta Alvi. Agak berat sebenarnya, tapi harus ia lakukan.
***
"Vy, Minggu depan kita bebas. Kampus memberikan libur satu minggu." Elma mengatakan dengan semangat. Dia datang setelah membeli roti dan susu hangat untuk Navya. Memberikan pada Navya. Gadis itu sedang merasa pusing, malam tadi dia tidak bisa tidur nyenyak.
"Hah?? Yang benar kak?" Elma mengangguk semangat. "Kakak tau dari mana?"
"Terimakasih kak." Menerima susu dan roti pada Navya.
"Lihat ini." Sebuah foto di tunjukkan oleh Elma dari handphone miliknya."Di tempel di mading tadi pagi."
Kebetulan sekali.
"Liburan menjelang musim dingin?" Heran dia, melihat Elma dengan tatapan menelisik. "Musin dingin bahkan masih lebih sebulan lagi."
"Hmmm aku tidak tau. Sudahlah, jangan dipikirkan. Bagaimana kalau kita jalan-jalan. Kita kan belum banyak berkeliling di negara ini."
"Eehmmm... Tapi kak, sepertinya aku tidak bisa. Aku akan pulang ke negara A, ada acara peresmian resort dan hotel milik Mahendra Group. Mas Alvi meminta aku datang."
"Juga acara lamarannya." Pelan suaranya mengatakan ini sambil menyeruput susunya, tapi di dengar jelas oleh Elma.
"Hah?? Lamaran?" Mengangguk pelan sambil meneguk susu.
__ADS_1
"Mas Dafin mau melamar Diana di pesta peresmian nanti. Kejutan." Begitu lah konsep yang direncanakan Alvi. Memberi kejutan istimewa untuk wanita pujaannya.
"Kamu baik-baik saja kan Vy?" Elma menatap iba pada Gadis di disampingnya. Dia tau Navya sudah mencintai pria itu, Navya tidak mungkin baik-baik saja.
Tersenyum secerah mentari. " Memang aku kenapa? Kakak terlalu menganggap remeh aku, aku kan tegar." Menggoyangkan wajahnya dengan imut di depan Elma.
"Vy, kalau kamu mau menangis, aku siap sedia memberikan ini." Menepuk bahunya. "Jangan menahannya sendiri."
Navya menatap Elma dan bahunya bergantian, lalu wajahnya berubah sendu. Kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu Elma.
"Kak El... Hiks... Hiks...."
"Aku yang membuat dia jadi move on, tapi aku yang sakit hati sekarang. Dia bahagia sekali kak, aku cemburu. Kakak tau, bisa-bisanya dia masih bertanya tentang perasaan ku padanya."
"Dan kamu masih tidak mengatakan yang sebenarnya?" Dia menggeleng sambil terisak.
"Kenapa?"
"Kenapa? Kakak mau aku mengatakan apa, bilang kalau aku sudah jatuh cinta, mulai terbiasa dengan dirinya, lalu apakah keadaan akan kembali? Tidak mungkin kak."
"Lalu dimana rasa malu ku kak. Dua kemungkinan kalau aku mengakui perasaanku, yang pertama dia akan tetap melanjutkan pernikahan tapi aku juga tidak akan berani muncul di hadapannya lagi. Dan yang kedua, dia akan membatalkan pernikahan tapi aku akan menerima tatapan tidak suka sepanjang umurku dari Diana dan keluarganya, mungkin juga keluarga ku akan membenci aku nanti."
"Aku akan mencoba ikhlas kak El. Walaupun ikhlas yang sekarang lebih sulit rasanya daripada dulu saat aku merelakan Mas Dafin menikah dengan Kak Hana."
"Aku yakin kamu bisa, kamu orang yang paling tulus." Navya mengangguk, setuju dengan kata-kata Elma. Dia pasti bisa, ada banyak badai sebelum ini kan. Dia yakin bisa.
"Jadi kamu akan pulang bersama Nyonya Rima?" Navya bangun dari bahu Elma, menatap heran gadis itu.
"Sejak kapan, memanggil Nenek dengan sebutan Nyonya?"
"Ehhmmm itu... Ya... itu karena Neni dan Pak Hendra, aku jadi kebiasaan." Elma jadi kikuk.
"Ooh, begitu. Oh ya kak, kakak mau ikut tidak? Kakak juga kan bisa pulang ke rumah orang tua kakak."
__ADS_1
"Wahhh benarkah. Aku boleh ikut?"
"Iya, Mas Alvi sendiri yang menyuruh ku mengajak kakak. Kalau kakak mau sih."
"Waaa, aku dapat undangan khusus. Tentu saja aku mau, aku ikut."
Navya mengusap matanya yang basah karena air mata. Lalu mengeluarkan buku desain miliknya. "Kak, bantu aku ya. Aku sudah selesai sebagian, menurut kakak apa ada yang kurang atau yang terlalu berlebihan."
"Ini untuk apa?"
"Mas Alvi meminta aku membuat desain perhiasan untuk istrinya, akan di pakai saat pernikahan."
Menjatuhkan wajahnya di meja, sambil bicara dengan nada malas.
"Kenapa menyuruhku sih, mana aku tau bagaimana perhiasan yang di sukai calon istrinya. Dia juga memintaku memilih gaun pengantin. Apa dia sengaja ya mau membuka aku cemburu. Aku jadi kesal."
Elma tersenyum lucu melihat Navya yang sedang galau. Dia kesal, tapi tidak sanggup menolak permintaan Alvi. Entah karena ingin membalas budi atau apa, tapi memang begitulah Navya, dia lebih mementingkan tentang kebahagiaan orang lain daripada perasaannya.
***
"Kamu tunggu saja di sini. Biar aku ambil mobil." Biasanya dia akan menolak dan ikut berjalan ke tempat parkir bersama Elma. Tapi kali ini dia agak pusing dan tidak bersemangat, jadi dia mengiyakan saja ucapan Elma.
Elma setengah berlari, tanpa sadar ada yang terjatuh dari tas nya yang ternyata tidak tertutup. Navya melihatnya, tanpa memanggil Elma dia mendekati benda itu dan ingin mengambilnya. Berniat akan mengembalikan nanti saat sudah di dalam mobil.
Sebuah buku berisi gambar-gambar desain busana dan perhiasan jatuh dalam keadaan terbuka. Navya mengambilnya, sepertinya buku ini tidak pernah ditunjukkan oleh Elma padanya. Navya membolak-balikkan buku itu saat tiba-tiba Elma datang dan mengambilnya begitu saja dari tangan Navya.
"Ini jatuh rupanya. Ha..ha..." Sambil menyimpan ke dalam tas nya. "Sebentar ya, aku ambil mobil."
"Tapi Kak..."
"Tidak apa, kamu tunggu di sini saja." Elma berlari meninggalkan dirinya. Navya menatap aneh gelagat Elma, seperti ada yang di sembunyikan olehnya. Dan juga ada hal aneh yang tidak sengaja tertangkap mata Navya dari gambar-gambar di buku tadi. Tapi semakin memikirkan dia malah semakin pusing. Untung saja Elma segera datang, dan membawanya masuk ke mobil.
Elma tidak berani membuka suara, tapi Navya yang diam dan memejamkan matanya membuat Elma sedikit lega. Gadis itu mungkin sedang tidak sanggup membahas apapun, dia sudah merasa kepalanya pusing sejak tadi pagi dan di tambah dia juga menangis.
__ADS_1
Sepertinya aku selamat dari kecurigaannya. Maafkan aku, hanya sebentar lagi saja. Sebentar lagi...
Bersambung