Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Aku Cinta Kamu


__ADS_3

Navya sedang ada di ruangan Bos nya. Alvi mendengarkan Navya sedang membacakan jadwal kegiatannya hari ini sibuk memeriksa beberapa laporan yang sudah terparkir rapi di meja kerjanya.


"Itu saja jadwal Bapak hari ini. Apa ada lagi yang Bapak butuhkan?"


"Hmmm.. Meeting dengan perwakilan dari PT. Aditama kamu batalkan saja. Buat jadwal untuk besok."


"Baik Pak, saya akan hubungi asisten beliau nanti."


"Kosongkan jadwal dari jam makan siang sampai sore, kita akan meninjau proyek di daerah B"


"Baik Pak."


"Kamu boleh kembali ke meja kamu."


"Baik, permisi Pak."


Pagi ini cuaca tidak begitu cerah. Sama seperti suasana hati kedua orang yang baru saja berkomunikasi. Biasanya atmosfer di antara mereka tidak seperti itu, tapi hari ini merek seperti tenggelam dengan pikiran masing-masing.


Alvi cemburu, walaupun dia sadar rasa cemburunya tidak tepat sasaran. Seperti yang dia katakan pada Dafin, dia tidak akan menyerah sebelum Dafin bisa memilih antara Hana dan Navya, dan tentunya jika Dafin memilih Navya. Alvi akan mundur dengan suka rela.


Tapi seperti yang terlihat, Dafin mulai jatuh hati pada istrinya. Dia mencintai keduanya.Navya dan Hana. Dan masalah lainnya adalah, Navya juga mencintai Dafin. Semakin berat saja jalan Alvi ingin memiliki Navya. Setulus cintanya pada gadis itu, dia tidak akan mau memaksa Navya untuk menerima dirinya.


Sementara Navya, pikiran nya sedang penuh dengan naman Dafin dan Hana. Sudah berapa lama mereka berpacaran, jika sebelum menikah itu artinya Navya adalah orang ketiga nya. Bukan Hana.


Malam tadi rasanya dia ingin marah pada suaminya, marah karena merasa sudah di khianati. Tapi saat dia memikirkan lagi, atas dasar apa dia harus marah pada Dafin. Hanya karena lelaki itu suaminya, atau karena Dafin tidak jujur perihal hubungan nya dengan Hana atau hal lain. Dia juga tidak paham.


Aku bahkan bukan istri yang dia harapkan. Tapi aku tak paham kenapa sikapnya berubah akhir-akhir ini. Dia hanya jadi baik, bukan berarti dia mencintai ku kan. Dia tidak pernah bilang dia mencintai aku. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang.


Sepertinya mereka sama-sama harus berusaha lebih keras lagi.


***


Sebelum jam makan siang, Alvi dan Navya sudah berangkat menuju proyek pembangunan di wilayah B, Ryan yang menyetir mobil. Sepanjang jalan Navya hanya diam. Dia menjawab jika Alvi bertanya sesuatu tentang pekerjaan padanya. Selebihnya Alvi hanya bicara dengan Ryan saja.


"Yan, kita makan dulu."


"Baik Pak."


Tidak lama kemudian Ryan berhenti di sebuah restoran langganan Alvi. Ryan sudah turun dan membukakan pintu untuk Alvi, sementara Navya masih ada di dalam mobil. Seakan tidak menyadari bahwa mobil sudah berhenti dari tadi. Alvi sengaja menutup pintu belakang sedikit keras dan berhasil membuat Navya menyadari bahwa mereka sudah ada di depan sebuah restoran dan hanya tinggal dirinya yang belum keluar dari mobil.


Dengan perasaan malu dia keluar dari mobil, apalagi Alvi masih ada di sana, belum masuk ke dalam restoran. Dan Bos nya itu hanya tersenyum, membuat Navya semakin malu saja.


"Kamu kenapa?" Alvi bertanya saat mereka sudah duduk di dalam restoran.


"Saya ? Kenapa Pak?"

__ADS_1


"Saya yang nanya kamu duluan. Kamu dari pagi melamun, tidak banyak bicara, bahkan pekerjaan kamu juga jadi terganggu."


"Masa sih Pak? Saya biasa saja."


"Coba kamu cek, berkas yang saya minta untuk kamu bawa siang ini dimana?'


"Ada di... Ya Ampun!" Navya memegang kepalanya panik. "Pak, saya meninggalkan nya di meja. Jadi gimana Pak. Kita sudah jauh."


Alvi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Navya. Dia tidak bisa marah pada gadis itu, sekali pun kesalahan yang dia lakukan fatal.


"Sudah di bawa Ryan, sekarang ada di mobil."


Navya sedikit bernafas lega, dia bersyukur bisa bekerja dengan Alvi. Alvi bahkan hampir tidak pernah memarahi dirinya. Hanya karena dia tidak tau saja Alvi mencintai dirinya.


"Maafkan saya Pak." Ucapnya sambil tertunduk.


"Kamu tidak akan melakukan kesalahan kalau kamu tidak ada masalah."


"Saya minta maaf Pak."


"Ya sudah, kamu makan dulu. Saya tau kamu belum sarapan dari tadi pagi kan. Saya gak suka kamu begini, kalau kamu sakit, saya yang pusing."


Tuh kan baik sekali Bos nya itu. Bukannya marah, malah perhatian begini. Dia kan jadi malu. Eh tapi maksud nya dia yang pusing, ya benar saja . Pasti dia pusing, Navya sudah banyak sekali membolos dan tidak masuk kerja. Begitupun Alvi tidak pernah memotong gajinya.


"Apa Bapak pernah jatuh cinta?"


Alvi tidak langsung menjawab. Dia meletakkan sendok dan garpu ke atas piring yang masih berisikan makanan.


"Memang nya kenapa?"


"Apa menurut Bapak, mencintai seseorang itu harus mengungkapkan dengan kata-kata?"


"Kalau menurut kamu?"


"Kalau saya, saya butuh kejelasan. Pengakuan, itu penting bagi saya."


"Saya cinta kamu." Dikatakan dengan wajah serius dan tatapan mata yang intens.


Terkejut. Navya hampir terbawa suasana saat mendengar ucapan Alvi. Namun sebisa mungkin dia menormalkan lagi ekspresi wajahnya. Alvi malah tersenyum.


"Siapa pun bisa mengatakan nya Navya, tapi kamu tidak akan bisa menerima nya dari sembarangan orang. Karena Kamu hanya ingin itu di ucapkan oleh orang yang kamu harapkan. Sama halnya jika seseorang dengan sepenuh hati mengungkapkan perasaannya lewat perbuatan, kamu tidak akan pernah merasakan apapun karena kamu tidak menginginkan orang itu. Tapi akan berbeda rasanya jika perlakuan khusu itu diberikan oleh orang yang kamu harapkan."


"Cinta bisa tumbuh kapanpun tanpa kamu sadari, tapi kamu tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kamu."


"Kalau Bapak sendiri, apa Bapak pernah mencintai seseorang?"

__ADS_1


"Pernah."


"Jadi Bapak sudah punya pacar?"


Tersenyum dengan pertanyaan Navya.


"Cinta saya bertepuk sebelah tangan. Karena dia mencintai orang lain, buka saya."


"Bapak yang sabar ya, pasti suatu saat Bapak akan mendapatkan cinta sejati Bapak. Gadis yang baik, cantik, dan yang mencintai Bapak dengan tulus."


Saya cinta kamu.


"Pasti Banyak yang antri mau jadi istri Bapak! Kenapa Bapak gak pilih salah satu, pedekate aja dulu Pak."


Saya mau kamu.


"Kamu ada-ada saja. Kamu yang sedang ada masalah, kenapa jadi bahas saya!?"


Navya terkekeh, memang iya dia sedang galau soal Dafin. Tapi dia belum siap mengatakan soal hubungan Dafin dan Hana pada siapapun.


"Hihihi... saya bingung Pak, apa sikap Mas Dafin pada saya itu tanda dia sudah menyukai saya ataukah hanya dia hanya berusaha bersikap baik saja."


"Menurut saya dia menyukai kamu, bukti nya saya sudah pernah merasakan dampak cemburu nya." Alvi sambil menyentuh ujung bibirnya bekas luka pukulan Dafin.


"Bapak jangan ngasi saya harapan, saya takut."


"Kamu hanya perlu berusaha lebih keras lagi, bukankah lebih mudah karena kalian tinggal serumah. Lakukan hal-hal yang Dafin suka misalnya."


Duhh... Alvi merasa bodoh, bukannya berusaha menjauh kan mereka malah memberikan nasehat untuk membuat hubungan mereka lebih dekat, seperti dia yang sudah berpengalaman saja. Padahal dia juga lagi patah hati.


Navya tampak berfikir, hal yang Dafin suka? Tadi pagi bahkan dia meninggalkan suaminya berangkat duluan. Itu sebagai bentuk protes nya, padahal Dafin pun pasti tidak akan mengerti kenapa Navya begitu. Navya tidak mengatakannya bahwa dia mendengar pembicaraan suaminya dengan Hana. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan kekecewaan nya. Dafin sendiri bingung, dia pikir Navya sedang buru-buru sampai tidak sempat membuat kopi. Tapi dia bahkan tidak berpamitan.


"Jadi menurut Bapak, saya harus bersikap manis sama Mas Dafin?"


"Hmmm... kamu bisa mengajak nya makan malam romantis. Wanita yang memulai duluan kan tidak ada salahnya."


Navya manggut-manggut mendengar saran dari Alvi. Dia sudah tau mau berbuat apa. Semoga usaha nya nanti bisa membuat Dafin memutuskan hubungannya dengan Hana.


Kenapa aku jadi seperti konsultan hubungan rumah tangga sih. Aku yang jomblo memberikan nasehat pada orang yang sudah menikah. Alvi


Epilog:


Ryan makan di meja lain, jauh dari meja Navya dan Alvi. Alvi menyuruh nya makan sendiri.


"Kenapa mereka lama sekali sih makannya." 😔

__ADS_1


__ADS_2