
Tanpa sadar dia memeluk Alvi. Yang dipeluk mematung, terkejut. "Terimakasih." Lalu Navya mengurai pelukan singkatnya dan berlari menghampiri sosok wanita yang ia rindukan itu.
Alvi hanya tersenyum dan berjalan mengikuti arah Navya berlari.
"Mami, Vya rindu sekali. Kenapa Mami tidak bilang kalau mau ke sini." Dia beralih ke laki-laki paruh baya di sebelah Finny. "Papi juga, kenapa tidak memberi kabar."
"Yaa mau bagaimana lagi, anak Papi lupa dengan hari ulang tahun Papinya. Jadi kami harus memberikan hukuman."
"Ya ampun... Vya lupa." Kenapa bisa lupa, apa dia terlalu sibuk memikirkan cara menyikapi Alvi, bagaimana cara menghindari pria itu. Ia sampai lupa hari sepesial untuk Papinya.
"Maafkan Vya Pi." Dia memeluk Damar. "Selamat Ulangtahun Pi."
"Terimakasih Sayang." Mengusap rambut Navya.
"Selamat ulangtahun Om." Suara Alvi membuat mereka melepaskan pelukannya. Damar menyambut tangan Alvi yang mengucapkan selamat padanya. "Terimakasih Alvi."
"Vy, hadiahnya." Navya bingung, lalu melihat arah mata Alvi yang melirik pada tas yang dia pegang sejak tadi. Lalu ia sadar, ternyata itu adalah hadiah untuk Papi.
"Oh ya, Pi ini hadiah dari Mas Alvi."
"Dari saya dan Navya om. Semoga Om menyukainya. Navya yang memilihnya."
Damar tersenyum menerimanya. "Terimakasih, harusnya jangan repot-repot begini. Kejutan ini sudah lebih dari cukup untuk Om dan keluarga."
"Iya sayang, Tante senang sekali bisa berkumpul seperti ini. Terimakasih ya sudah membuat kebahagiaan untuk keluarga." Finny berterimakasih dengan tulus pada keponakannya sambil memeluknya.
"Sama-sama Tante."
Selain damar dan Finny, ada Rima tidak ketinggalan hadir juga, tapi tanpa ada Sultan di sana. Karena memang dia ada urusan penting. Sementara Dafin dan Hana tidak turut serta, Damar melarang menantunya ikut karena ngidam yang ia alami. Hana merasa tidak nyaman jika melaksanakan perjalanan yang jauh dan panjang.
Navya merasa hari ini sangat bahagia, bisa berkumpul bersama keluarganya. Sebulan lebih dia tidak bertemu dengan mereka, tapi hari ini lagi-lagi dia mendapatkan kejutan dari Alvi. Pria terus-menerus memberikan kebahagiaan pada dirinya, namun apa yang bisa ia lakukan untuknya. Hanya penantian yang tidak pasti yang selalu Navya berikan.
Bahkan karena sikapnya yang plin plan, Alvi jadi salah paham. Lelaki yang ia kenal pantang menyerah itu malah memilih berhenti mengejarnya. Navya memperhatikan Alvi dari jauh, yang sedang berbincang dengan seorang teman sesama pengusaha.
Sepertinya mungkin memang persahabatan yang paling baik untuk kita.
Damar diam-diam mengikuti kemana arah pandangan Navya. Gadis itu sedang mengobrol dengan yang lainnya di meja mereka, tapi sesekali dia melirik kearah Alvi.
***
__ADS_1
Setelah pesta berakhir, mereka memutuskan untuk menginap di sana. Keluarga Damar hanya akan tinggal beberapa hari saja. Jadi mereka akan menghabiskan waktu dengan bersantai di Villa itu.
Navya sedang duduk di balkon lantai atas, menikmati pemandangan malam kota yang terlihat dari tempat itu. Alvi baru saja ingin menghampiri dan memberikan sweater untuknya, namun bahunya di tepuk pelan oleh Damar.
"Om?" Damar meletakkan jari telunjuknya di bibir. Meminta Alvi memelankan suaranya agar Navya tidak mendengar.
"Boleh saya bicara dengan Navya?" Alvi mengangguk.
"Saya tidak akan lama, setelah ini saya ingin bicara dengan kamu."
"Iya Om, Al akan tunggu di bawah. Tapi Al titip ini untuk Navya." Dia memberi sweater yang tadi dia pegang pada Damar. Kemudian mundur dan meninggalkan Damar yang ingin bicara dengan Navya.
Damar melangkah menghampiri Navya yang sedang duduk di sofa di balkon. Tanpa aba-aba Damar duduk di sebelah Navya, membuat gadis itu kaget dan langsung tersenyum saat menyadari siapa yang datang.
"Papi... kok belum tidur?"
"Kamu sendiri, kenapa belum tidur?"
"Vya belum ngantuk." Mengalihkan lagi tatapan matanya ke luasnya langit malam.
"Kamu pakai ini, udara malam tidak baik. Jangan sampai kamu masuk angin."
"Pi, maaf ya kalau Vya gak ingat sama ulang tahun Papi."
"Gak apa-apa. Terimakasih atas hadiahnya, Papi suka."
"Oh ya, bagaimana dengan kak Hana?"
"Hmmm... dia baik... Kemarin Hana memberikan kejutan, Dia membuat kue kesukaan Papi. Padahal dia sedang mengalami ngidam parah, setiap pagi dan sore hari selalu muntah-muntah. Papi sudah melarang Mami untuk mengajaknya ke toko kue, tapi dia bilang kalau pergi ke sana mual muntah nya malah hilang. Ada-ada saja." Damar bercerita tentang Hana dengan antusias.
Navya tertawa mendengar cerita Damar. Tadi Finny juga bercerita banyak tentang ngidamnya Hana yang aneh dan lucu. Dia akan merasa mual tepat saat Dafin akan pergi ke kantor dan pulang dari kantor. Tulus dia bersyukur hubungan Hana dengan keluarganya semakin hangat. "Vya senang sekali, Papi sudah bisa menerima kak Hana."
"Ya Papi sadari, bagaimana pun dia sedang mengandung calon penerus keluarga Wijaya. Dan kejadian yang dulu pernah terjadi tidak seharusnya di bawa ke masa depan, biarkan menjadi pelajaran agar tidak mengulanginya lagi di masa depan."
"Syukurlah, semoga ke depannya keluarga kita semakin bahagia. Apalagi dengan kehadiran bayi Mas Dafin dan kak Hana nanti."
"Vy, boleh papi tanya sesuatu?"
Navya terkekeh. "Kenapa Papi jadi serius begini?"
__ADS_1
"Sayang, apa kamu bahagia?" Navya merasa aneh dengan pertanyaan Damar.
"Kenapa Papi bertanya begitu? Vya bahagia, punya keluarga yang selalu sayang sama Vya. Dan juga kelilingi oleh orang-orang yang baik."
Damar tersenyum mendengar ucapan putrinya, meraih tangan Navya untuk dia genggam. "Nak, bagaimana dengan Alvian?" Navya membeku. Kenapa tiba-tiba bertanya soal Alvi.
"Mas Alvi baik, dia selalu baik dengan Vya. Dia juga mengambil alih cabang perusahaan di sini hanya agar bisa memastikan sendiri bahwa Vya baik-baik saja."
"Apa tidak ada sedikit pun rasa di hati kamu untuknya. Papi yakin, Alvi bisa membahagiakan kamu."
Ada Pi, Vya mungkin mulai bisa membuka hati untuknya. Tapi Vya yang tidak yakin bisa memberikan kebahagiaan untuk Mas Alvi. Dan kakek, dia pasti lebih senang jika Mas Alvi mendapatkan wanita yang lebih baik lagi dari Vya.
"Mengingat telah banyak yang rela dia lakukan untuk kamu dan keluarga kita, tidak ada salahnya jika kamu memberikan dia kesempatan."
Navya melepaskan tangannya dari genggaman Damar. Dia menundukkan kepalanya.
"Mas Alvi itu sangat baik. Dia terlalu baik Pi, bahkan Vya merasa dia berhak mendapatkan gadis yang lebih segalanya dari pada Vya.
Vya merasa tidak pantas bersanding dengan mas Alvi. Navya senang sekali dengan semua perhatian dan perlakuannya terhadap Vya. Meskipun jauh dan tidak pernah bertemu, Vya masih bisa merasakan dia selalu menjaga Vya.
Sering kali Vya merasa ada yang kurang jika sekali saja Mas Alvi terlambat memberi kabar."
Navya tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Damar tau ada yang ingin Navya katakan namun sulit untuk di ungkapkan. Dia meraih kepala Navya untuk di jatuhkan di bahunya. Anak itu walaupun bukan putri kandungnya, tapi dia menyayangi Navya dengan tulus.
"Sepertinya Vya sudah terbiasa dengan kehadiran Mas Alvi, dengan perhatiannya, sikapnya, dia sudah membuat Vya tersiksa saat jauh darinya." Tanpa permisi air mata menetes di pipinya.
"Tapi akan lebih baik jika kami tidak bersama."
"Apa yang membuat kamu berfikir begitu?"
Navya duduk tegak dan memandang ke depan. "Papi, Vya memang di besarkan di keluarga Wijaya. Tapi Vya tetaplah gadis yatim-piatu, tidak memiliki keluarga apalagi kedudukan. Vya sekarang adalah seorang janda. Status sosial yang jauh berbeda dengan Mas Alvi."
"Tidak ada yang berani mempermasalahkan hal itu. Alvi pasti akan melindungi kamu."
Ada Pi. ada. Kakek.
"Lagipula dengan impian kamu yang sedang akan kamu wujudkan, kesuksesan kamu akan menutup komentar orang-orang"
"Masih jauh Pi, impian Navya masih jauh. Mas Alvi tidak mungkin menunggu lebih lama lagi, dia berhak mendapatkan kebahagiaan."
__ADS_1
Bersambung