Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
To the Poin


__ADS_3

Navya mengikuti langkah wanita itu sampai menghilang di balik pintu. Ternyata pemilik jam tangan mewah yang tadi ia beli bersama Alvi. Agak kecewa sebenarnya. Sejenak ia berfikir Alvi akan memberikan kejutan untuknya.


Apa yang aku pikirkan.


Tanpa sadar ia menggeleng. Menyadarkan dirinya sendiri.


"Kamu kenapa?" Alvi memperhatikan Navya yang diam saja dari tadi lalu tiba-tiba menggeleng.


"Hah?" Kebingungan. "Tidak apa-apa kok." Berusaha tersenyum menutupi kegelisahannya.


"Ayo..."


"Kita langsung pulang kan Mas?"


"Saya mau ajak kamu ke suatu tempat lagi. Kamu tidak keberatan kan?"


Navya tampak ragu, harusnya kan dia menghindari Alvi tapi malah menghabiskan waktu bersama.


Alvi menarik tangan Navya yang masih diam sambil merenung, membuat gadis itu tersentak dari lamunannya. Buru-buru ia melepaskan, Alvi bingung dengan sikap Navya.


"Eehm... ini di kantor. Saya tidak enek jika ada yang melihat." Sebenarnya Alvi tidak peduli dengan orang yang melihat, tapi jika Navya tidak nyaman dia bisa memaklumi.


"Maafkan saya." Hanya di balas anggukan oleh Navya. Lalu mereka berjalan bersisian sampai ke depan lobi. Ryan sudah menunggu di depan mobil Alvi, membukakan pintu saat mereka tiba di sana.


Navya masih tidak banyak bicara, sejak tadi dia memang menahan diri untuk membuka pembicaraan. Sepertinya dia memang bertekad untuk menjauh dari laki-laki di sebelahnya.


"Boleh saya bertanya satu hal?" Matanya masih menatap ke depan, masih fokus ke ramainya jalan raya.


Navya menoleh padanya, tapi Alvi tidak membalas tatapannya.


"Memang saya punya hak melarang Mas untuk bicara?"


"Kenapa kamu menghindari saya?"

__ADS_1


To the poin. Tidak perlu di tutupi, Alvi memang merasa sikap Navya jauh dari biasanya. Jelas sekali Navya menghindari pertemuan dengan dirinya.


"Terlihat sekali kamu tidak nyaman dengan saya. Kamu bukan Navya yang dulu."


Navya masih diam, seperti tertangkap basah, dia tidak memiliki alasan untuk mengelak. Apa yang dikatakan Alvi memang benar.


"Saya menunggu, jika alasan kamu masuk akal. Saya akan pertimbangkan untuk mengambil sikap."


"Maksud nya?" Heran, Navya tidak mengerti apa maksud Alvi sebenarnya.


"Kamu hanya perlu menjawab, kenapa kamu menghindari saya?"


Navya menarik nafasnya berat, mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Apa Mas tidak bosan menunggu saya? Saya terkesan seperti mempermainkan perasaan Mas Alvi.


Bahkan sampai saat ini saya belum bisa memutuskan, saya bisa menerima mas atau tidak. Apa gadis plin-plan seperti saya pantas masih di tunggu. Mas bisa mendapatkan wanita yang lebih baik lagi dari saya."


Alvi menepikan mobilnya dan berhenti. Tidak ada respon dari Navya. Alvi melepaskan safety belt-nya. Memiringkan tubuhnya dan menghadap Navya. Sementara gadis itu menunduk menatap jari-jarinya yang bertaut di atas pahanya.


"Navya, sejak awal saya yang memilih kamu. Saya yang tau apakah kamu pantas atau tidak. Jadi tolong, hargai usahakan saya untuk menaklukkan hati kamu."


"Apa ada orang lain?"


"Tidak!" Refleks menjawab dan menatap Alvi. Karena Navya memang tidak pernah membuka hati untuk siapapun. "Bukan." Menunduk lagi dan suaranya berubah lirih. "Tidak mungkin ada laki-laki lain yang bisa mengalahkan kebaikan dan ketulusan yang Mas Alvi berikan. Hanya saja, saya takut tidak bisa membalas ketulusan yang sudah say terima."


"Lalu apalagi yang harus saya lakukan?"


"Tidak ada, saya hanya ingin Mas Alvi bahagia. Meskipun bukan dengan saya."


"Tapi hanya saya yang tau apa yang membuat saya bahagia. Kamu."


Navya diam lagi, tidak menanggapi ucapan Alvi.


Alvi memperbaiki posisi duduknya dan bersandar di kursi pengemudi. Dia memejamkan mata lalu menarik nafasnya perlahan, meyakinkan hatinya. "Atau mungkin saya memang tidak pernah bisa menempati hati kamu. Kalau memang semua yang saya lakukan ini tidak membuat kamu nyaman dan malah menjauh dari saya, mungkin sudah saatnya saya harus menyerah."

__ADS_1


Navya langsung menoleh, menatap lelaki dia sampingnya. Alvi pun menatap Navya hingga pandangan mereka bertemu. Ada kesedihan di mata Alvi, tapi bibirnya tersenyum.


"Biarkan saya tetap menjadi sahabat kamu. Tapi jangan pernah mengindari saya lagi."


"Tapi, saya tidak....."


"Tidak masalah, saya hanya ingin kamu nyaman di dekat saya. Begitu juga sebaliknya."


"Bahkan hanya sebatas sahabat pun kamu tidak mau menerima saya?"


Bukan. Bukan seperti itu. Tapi, saya apa bisa menganggap kamu sebagai sahabat. itu sama saja menyiksa hati kita masing-masing.


"Baiklah,kita harus bergegas. Sepertinya kita agak terlambat." Melihat jam tangannya, lalu memakai lagi safety belt dan bersiap mengemudi. Sementara Navya masih diam, dia entah kenapa merasa aneh dengan situasi saat ini. Jelas-jelas dia yang menolak, kenapa sekarang dia yang malah jadi kecewa.


Apa bisa dia melihat Lagi sebagai sahabat. Apa sebenarnya yang dia mau, Alvi mengejarnya tapi dia yang lari. Alvi memutuskan untuk menyerah, tapi dia yang kecewa.


Navya. Kamu gadis bodoh.


Sesekali dia melirik Alvi yang fokus mengemudi. Jelas sekali raut kecewa terpancar di wajahnya. Navya merasa bersalah, lebih dari itu dia kecewa. Keputusan Alvi yang tiba-tiba ini malah membuat dia kecewa. Terutama pada dirinya sendiri. Kembali dia melempar pandangan ke luar jendela, tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Akhirnya mereka tiba di sebuah Villa. Tidak terlalu mewah, tapi suasananya terasa menenangkan.


"Ayo kita turun." Navya turun, sementara Alvi mengambil tas berisikan hadiah yang mereka beli tadi. Yang satunya sudah di berikan pada wanita cantik di kantor Alvi. Dia memberikan pada Navya, meminta gadis itu membawanya.


Lalu mereka berjalan masuk ke dalam. Beberapa sudut ruangan di hiasi bunga-bunga dan pita. Seperti ada pesta di sana. Alunan musik yang merdu terdengar sayup, mereka berpapasan dengan beberapa pelayan yang membawa minuman dan makanan.


Navya menarik jas Alvi. Membuat pria itu berhenti tapi Navya malah menabrak bahunya. Alvi langsung berbalik untuk memastikan keadaan Navya. "Maaf..maaf... Kamu tidak apa-apa?"


Navya terkekeh sambil memegang kepalanya. "Iya, tidak apa-apa kok, saya yang salah. Tapi Mas, ini rumah siapa?" Sambil melihat sekelilingnya. "Sepertinya ada pesta di sini?"


Alvi malah tersenyum. "Kamu akan lihat sendiri nanti. Ayo kita ke sana." Alvi mengajak nya untuk masuk ke dalam menuju sebuah taman yang cukup luas di bagian belakang.


Ternyata di sana adalah pusat acara. Banyak bunga menghiasi tempat itu, meja-meja bundar sudah dipenuhi oleh tamu-tamu yang hadir. Beberapa orang melihat ke arah mereka dan tersenyum.

__ADS_1


Navya mengedarkan pandangannya, dan dia fokus ke bagian paling depan. Terkejut saat matanya menangkap beberapa sosok yang ia kenali juga sedang tersenyum padanya. Seorang wanita berdiri, melambaikan tangannya dengan tatapan bahagia. Lalu dia menoleh pada Alvi di sampingnya seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Alvi tersenyum dan mengangguk, meyakinkan bahwa apa yang ini lihat memang benar.


Bersambung


__ADS_2