Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Curiga


__ADS_3

Setelah memasukkan barang-barang nya di mobil Alvi, mereka mencari sebuah restoran untuk mengisi perut. Alvi sangat menikmati kebersamaan ini, karena dia menghabiskan waktu bersama Navya bukan di saat jam kerja. Terkesan seperti seperti sepasang kekasih.


Terbesit rasa bersalah di hatinya pada Dafin. Ngomong-ngomong soal Dafin, beberapa jam dia menghabiskan waktu bersama Navya tapi tidak sekalipun gadis itu menerima panggilan ataupun memegang ponsel yang menandakan ada seseorang bertanya tentang keberadaan nya. Kecuali panggilan dari Finny saat mereka tiba di depan restoran tadi. Selebihnya tidak ada.


"Maaf sebelumnya Vy, apa saya boleh bertanya sesuatu?"


"Silahkan Pak."


"Kamu dan Dafin, tidak sedang bertengkar kan?"


Navya sampai tersedak demi mendengar pertanyaan Alvi. Dia meraih gelas berisi air putih yang di sodorkan Alvi padanya dan meminumnya. "Pelan-pelan makannya."


"Terimakasih Pak."


"Kamu belum jawab pertanyaan saya, kamu baik-baik saja kan sama Dafin?"


"I..iya Pak. Memang nya kenapa Pak?"


"Enggak, saya cuma heran. Kalian kan pengantin baru, dan kamu sedang keluar sendirian. Tapi dari tadi saya tidak sekalipun mendengar Dafin menanyakan keadaan kamu atau keberadaan kamu."


Wajah Navya seketika berubah, bukan karena Alvi mencampuri urusan pribadinya. Namun perkataan Alvi mengingatkannya bahwa Dafin memang benar-benar tidak menganggap dirinya ada. Dari tadi dia mengirim pesan pun Dafin bahkan tidak membacanya apalagi membalasnya.


"Oh, ada kok Pak. Mas Dafin tadi nelpon saya, tapi saya gak sempat angkat. Kalo gak salah setelah kejadian di pantai tadi."


"Benar begitu?"


"I..iya Pak. Saya takut mau angkat telpon Mas Dafin Pak, nanti kalau dia tau saya hampir di rampok dia panik bisa-bisa pekerjaan nya terganggu."


Menjelaskan pada Alvi namun dia tak berani menatap mata bos nya.


Alvi mengangguk tanda mengerti, namun terbesit kecurigaan dalam hatinya, dia yakin ada yang Navya sembunyikan.


Mereka melanjutkan melahap makanan mereka hingga selesai dan memutuskan akan kembali ke hotel. Alvi menahan Navya yang hendak beranjak dari kursi setelah mereka selesai dengan kegiatan makan mereka. "Kenapa Pak?"


"Ini untuk kamu." Menyerahkan sebuah kotak berwarna biru di hadapannya. Navya kenal kotak itu, benda itu berisi kalung mutiara yang Alvi minta dirinya untuk memilihkannya tadi. Dia terkejut, kenapa Alvi malah menyerahkan kalung itu padanya.


"Tapi Pak.."


"Saya tidak menerima penolakan. Ini Perintah!" Alvi menyerahkan kotak itu ke tangan Navya. "Terimakasih sudah menemani saya hari ini."


Sebelum mendengar protes dari Navya, Alvi meninggalkan gadis itu dan berjalan keluar. Di susul oleh Navya yang masih bingung dengan keadaan itu.


"Ayo masuk, saya akan antar kamu ke hotel." Alvi sudah membuka pintu mobil, tapi Navya masih diam di tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Tapi Pak, saya gak bisa terima ini. Ini terlalu mahal Pak."


"Kalau kamu tidak mau memakai nya, atau kamu merasa tidak enak jika Dafin melihatnya. Kamu simpan saja. Tapi kamu tidak boleh menolak. Kalau kamu tolak, saya akan potong gaji kamu setiap bulan sesuai harga kalung itu." Dia langsung masuk ke dalam mobil, tidak mau mendengar protes dari Navya.


Gadis itu terdiam, bisa-bisanya Bosnya itu mengancamnya agar tidak menolak. Perintah nya bahkan tidak ada hubungannya dengan masalah pekerjaan. "Pak Alvi kenapa aneh begini sih, kan gan mungkin dia...." Dia masih melihat benda yang ada di tangannya, lalu menggeleng kuat. Apa yang dia pikirkan, gak mungkin bos nya itu menaruh hati padanya.


Kemudian dia terkejut saat kaca mobil terbuka.


"Jadi Kamu mau diam saja di situ?"


"Iya Pak, Maaf." Kemudian Navya masuk ke dalam mobil itu dengan perasaan yang susah dijelaskan.


Sepanjang perjalanan menuju hotel Navya tidak membuka suara. Suasana berubah menjadi sedikit canggung antara mereka. Alvi seperti mengetahui apa yang Navya pikirkan akhirnya yang duluan bicara.


"Kapan kalian pulang?"


"Kemungkinan lusa Pak. Bapak sendiri sampai kapan ada disini?"


"Kemungkinan sampai masa cuti kamu selesai." Alvi asal menjawab saja, tapi memang kenyataannya dia tidak fokus berkerja tanpa Navya. Padahal dia selalu menjadi orang yang profesional saat bekerja, namun sejak ada Navya dia menjadi berubah.


"Oohh begitu." Gadis itu juga tidak terlalu fokus dengan jawaban Alvi.


Satu detik....dua detik...tiga detik...empat...lima... Baru tersadar dengan apa yang dia dengar menoleh cepat ke arah Alvi.


"Maksud Bapak?"


"Biar saya saja Pak, Saya gak enak kalau ada yang lihat Bapak bawain barang-barang saya."


"Kamu bisa sendiri?" Navya lantas mengangguk dan mengambil paperbag yang ada di tangan Alvi.


"Ya sudah kalau begitu. Kamu masuklah, saya masih ada janji dengan seseorang." Alvi masuk kembali ke mobilnya.


"Baik Pak, terimakasih untuk semuanya Pak." Navya bicara sambil menundukkan kepalanya.


Alvi menjawab dengan senyum kemudian melajukan mobilnya meninggalkan area parkir Hotel.


Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Dafin melihat interaksi antara Navya dan Alvi dari kejauhan, tatapan itu sulit diartikan oleh siapapun.


"Kamu kenal siapa pria itu? Sepertinya mereka sangat dekat." Hana bertanya tapi lebih tepatnya ingin tahu reaksi Dafin saat melihat mereka.


"Itu Bos Navya, Alvian Mahendra."


"Kenapa dia bisa ada disini? Navya sedang cuti kan? Bukannya aneh jika mereka kebetulan bertemu di sini?"

__ADS_1


"Aku tidak peduli, itu bukan urusan ku."


Dafin beranjak dari tempatnya duduk, Hana tersenyum tipis ketika melihat reaksi Dafin.


Mereka baru saja menyelesaikan meeting dengan klien, dan berniat kembali ke kamar untuk istirahat. Dafin melangkah dengan cepat dan terkesan terburu-buru, sementara Hana dengan sepatu high heels nya berusaha mengimbangi langkah Dafin. Tiba-tiba...


Brukkk!!


Gadis itu terjatuh tepat di belakang Dafin.


"Hana!" Dafin berbalik dan mendapati Hana terduduk di lantai, dengan cepat dia mendekati gadis itu. "Kamu gak apa-apa?" Dafin membantu Hana berdiri.


"Gak apa-apa." Ucap gadis itu datar.


"Kamu yakin?" Dafin berjongkok untuk melihat kaki Hana, ada sedikit memar di pergelangan kakinya. Dafin menyentuhnya yang menimbulkan reaksi kesakitan dari gadis itu "Ini memar Hana. Ayo aku bantu kamu ke kamar."


Dafin memapah Hana sampai ke kamarnya. Saat melewati pintu kamar nya dan Navya, Dafin melirik sekilas. Begitu masuk ke dalam kamar, Dafin membawa Hana duduk di sofa lalu membuka sepatu yang Hana pakai.


"Kamu bawa obat oles ?"


"Hmm... ada di tas ku. Di sana." Menunjuk tempat dimana dia menyimpan tas nya. Dafin mengambil nya dan mengoleskan pada kaki Hana yang memar. "Tahan sedikit ya.."


"Kamu baik-baik saja kan Fin?"


"Aku kenapa?!" Dafin sudah meletakkan obat ke atas meja dan duduk di sebelah Hana.


"Kamu jalan buru-buru ingin menemui Navya kan? Kamu bilang tidak peduli apa yang dia lakukan. Tapi kamu berubah gusar setelah melihat dia bersama pria itu."


Dafin terdiam. Dia memang tidak peduli apa yang Navya lakukan atau dia sedang bersama siapa. Tapi melihat begitu dekat dengan seseorang di depan umum, menurut Dafin itu tidak pantas. Bisa saja ada kenalan Dafin yang melihat mereka dan menyangka dia sedang berselingkuh. Itulah yang membuatnya kesal.


"Kamu cemburu?"


"Mana mungkin! Kamu tau kan apa alasan ku menikah dengannya. Dan kita sama-sama tau perasaan kita masing-masing."


"Lalu kenapa kamu kesal?"


"Hana... Dia berstatus sebagai siapa saat ini kamu juga paham, jika ada yang melihat nya bersama orang lain seperti itu apa yang mereka pikirkan. Bisa-bisa aku dan keluargaku yang akan menanggung akibatnya. Kamu mengerti kan maksud ku?"


Hana diam beberapa saat, mencari kejujuran di mata Dafin. "Kamu gak bohong kan?"


"Aku selalu mengatakan semua hal padamu, apa kamu tidak lagi percaya padaku?"


"Aku percaya." Hana memeluk Dafin dan dibalas oleh lelaki itu. "Kamu gak lupa kan sama janji kamu?"

__ADS_1


"Aku janji. Enam bulan. Kamu hanya harus bertahan enam bulan lagi." Hana mengangguk dalam pelukan lelaki itu. Sementara Dafin membelai lembut rambut panjangnya.


Bersambung


__ADS_2