
Mereka masih dalam perjalanan pulang, saat tiba-tiba ponsel milik Navya berdering. Dia pikir panggilan dari Dafin suaminya, namun saat dilihat nama yang tertera adalah 'Papi'.
"Ya Halo Pi?"
"Vya, kamu bersama Dafin ? Papi telepon dia dari tadi gak di jawab."
"Enggak Pi, Vya lagi sama Pak Alvi. Tapi udah di perjalanan pulang sih. Mungkin Mas Dafin masih di kantor Pi, tadi dia bilang ke Vya kalo dia mau lembur. Ada kerjaan penting yang deadline."
"Papi sore tadi mampir ke kantor, ada janji sama bagian keuangan. Tapi Dafin malah gak datang. Kata Ega, dari tadi siang Dafin udah keluar dari kantor. Jadi dia belum pulang?"
Jelas Navya bingung harus menjawab apa pada Papinya, dia juga belum mendapatkan kabar dari Dafin sejak siang tadi saat dia mengabari akan lembur.
"Hmm... mungkin ada meeting di luar sama klien."
"Ya mungkin saja. Tapi setahu Papi, kantor sedang tidak terlalu sibuk dalam minggu ini. Ya sudah, nanti kalau kamu sudah dapat kabar dari Dafin, suruh dia hubungi Papi ya. Ada yang harus Papi bicarakan sama dia."
"Iya Pi. Nanti Vya kabari Papi."
Navya mulai merasa sayang aneh. Lalu dia mencoba menelepon Hana. Gadis itu pasti tau jadwal kegiatan Dafin, karena dia yang setiap hari mengatur jadwal kegiatan Dafin di kantor.
Namun nomor ponsel malah tidak aktif, bahkan sosial medianya tidak aktif dari jam 2 siang.
Saat membuka media sosial Hana, tanpa sengaja Navya melihat foto status terbaru milik gadis itu. Di dalam foto itu terpampang cincin yang terpasang di jari manis, berinisial 'HD'.
Awalnya Navya merasa ada yang tidak enak, namun segera ditepis. Dia merasa konyol, bisa-bisanya terlintas dipikirannya bahwa 'HD' itu adalah Hana dan Dafin.
Alvi yang dari tadi hanya menyimak apa yang dilakukan Navya, akhirnya buka suara.
"Apa ada yang tidak beres?" Tidak ada jawaban.
"Navya??"
"Iya Pak."
"Kamu kenapa? Ada masalah?"
__ADS_1
"Itu, tadi Papi menelepon Mas Dafin tapi gak angkat. Sebenarnya saya juga sih, dari tadi pesan saya gak di baca sama Mas Dafin. Saya takut ada apa-apa sama Mas Dafin Pak."
"Kamu tenang dulu, Dafin pasti baik-baik saja."
"Kalau saja kamu tahu Dafin sedang apa dan bersama siapa, kira-kira apa yang akan kamu lakukan Navya."
"Tapi saya benar-benar khawatir." Raut kecemasan tidak bisa di sembunyikan dari wajah Navya, dia masih berusaha menghubungi Dafin walaupun tetap tidak di angkat. Sampai-sampai saat mobil Alvi sudah berhenti di depan rumahnya, Navya tidak sadar. Tapi Alvi membiarkan saja, dia menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi sambil memejamkan mata.
Setelah beberapa menit Navya baru menyadari bahwa mereka sudah sampai.
"Ya ampun. Sudah di rumah. Kenapa Bapak gak kasi tau." Suara Navya membuat Alvi membuka mata dan mengangkat kepalanya.
"Saya gak mau ganggu kamu."
"Ya ampun. Maaf ya Pak. Saya jadi gak enak. Tapi saya benar-benar cemas."
"Apa kalian memang saling mencintai?"
Navya membeku. Pertanyaan itu, dia belum bisa menjawab iya. Jawaban tidak juga dia tidak bisa mengatakan.
"Kalau saya, jujur saja Navya, saya tidak akan membuat wanita yang saya sayangi mendapat kesempatan mencemaskan saya. Saya hanya ingin membuat dia bahagia, membuat dia merasa nyaman bersama saya. Dan saya akan selalu berusaha memberikan waktu saya kapanpun dia meminta nya. Maafkan saya, hanya saja saya merasa Dafin tidak pantas mendapatkan ini semua dari kamu."
"Saya juga bingung Pak." Dia tersenyum hampa sambil memandang ke arah depan. "Kami sebelumnya adalah dua orang yang tidak terlalu akrab, bisa dibilang Mas Dafin tidak menyukai saya secara pribadi. Sejak awal saya masuk ke rumah keluarga Damar, Mas Dafin sudah benci sama saya..."
"Lalu, kenapa kalian bisa menerima perjodohan itu?"
"Saya gak yakin alasan Mas Dafin yang sebenarnya, tapi saya lakukan semua ini demi Mami. Dia sudah seperti malaikat buat saya, tanpa dia, saya gak tau bagaimana saya akan kuat menerima kenyataan bahwa orang tua saya sudah tiada."
Seterusnya Navya menceritakan bagaimana sebenarnya hubungan nya dengan Dafin mulai awal pernikahan sampai saat terakhir Dafin mengatakan bahwa Navya boleh mencintai dirinya.
"Apa kamu tidak pernah tau, Dafin memiliki kekasih sebelum kalian menikah? Atau wanita yang sedang dekat dengannya. Bagaimana kamu bisa mengharapkan pernikahan ini akan berjalan baik, sementara Dafin sekali pun tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintai kamu."
"Saya gak pernah tau Pak. Yang saya tahu, Mas Dafin gak pernah memperkenalkan gadis manapun pada semua anggota keluarga. Yang saya tau, saya hanya berharap pernikahan ini akan bertahan selamanya. Tapi saya belum yakin dengan Mas Dafin."
Navya terlihat berfikir, jika memang Dafin memiliki kekasih, kenapa dia tetap mau menjalankan pernikahan ini. Tapi waktu itu dia dengan mudah mengatakan semua pada m Hana, soal dia yang akan menceraikan Navya setelah enam bulan pernikahan. Apa mungkin...
__ADS_1
Saat Navya sedang berfikir tentang Dafin dan Hana, ada sorotan lampu mobil mengarah ke mobil Alvi, menyilaukan mata. Mobil itu berhenti tepat di depan mobil Alvi kemudian mematikan lampu nya dan keluar dari mobilnya.
"Mas Dafin." Navya langsung turun dari dalam mobil, begitu juga si pengemudi mobil.
"Kamu sudah pulang, kenapa masih di luar. Masuklah duluan, kami akan bicara berdua sebentar." Dafin terlihat sedikit lelah, tapi dia masih bicara dengan lembut pada istrinya.
"Iya Mas. Pak, saya masuk dulu. Terimakasih banyak."
"Sama-sama Navya. Selamat malam."
Dibalas anggukan dan senyum saja oleh gadis itu. Dia seperti membaca ada aura yang tidak baik antara Dafin dan Alvi, tapi dia berharap mereka tidak akan bertengkar.
Setelah Navya masuk, Dafin mengajak Alvi bicara dekat mobilnya. Hal itu agar Navya tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Apa kakak menyukai Navya?"
"Hanya pria bodoh yang tidak menyukai Navya."
"Kak, kami sudah menikah. Dia istriku."
"Hanya enam bulan kan, aku bisa menunggu."
Sontak Dafin menoleh pada Alvi, terkejut. Darimana Alvi bisa tau perihal pernikahan enam bulan itu. Namun lelaki itu masih terlihat santai. Dia masih bisa menguasai dirinya.
"Kalau aku menarik kembali ucapan ku, kakak tidak akan punya kesempatan apapun. Dan lagi, Navya mencintai ku." Dafin tersenyum mengejek Alvi.
Alvi terlihat sangat santai. Dia sama sekali tidak terpancing dengan apapun ucapan Dafin.
"Lalu, apa kamu juga mencintai dia?"
Dafin terdiam, dia juga bingung. Akhir-akhir ini dia memang sudah bisa menerima Navya sebagai istrinya, namun cinta, dia belum begitu yakin dengan hatinya. Karena tetap saja, jika di suruh memilih, dia masih lebih condong ke Hana. Tapi dia juga cemburu jika Navya di dekati oleh siapapun.
"Itu bukan urusan kakak, aku hanya mau kakak jangan coba-coba mendekati istri ku lagi. Dia hanya karyawan kakak, jadilah bos yang profesional. Atau setidaknya jadilah kakak sepupu yang baik saja."
Alvi bersiap akan melangkah menuju mobilnya dan menyudahi pembicaraan itu. Dafin sempat berfikir dia sudah menang bicara dengannya, sebelum Alvi berbalik.
__ADS_1
"Aku akan menyerah pada Navya, hanya jika kamu bisa menjadikan dia satu-satunya. Aku akan jadi orang yang paling tidak rela kamu menyakiti dia. Jangan serakah, Dafin!"
Bersambung